Kisah Risna, 3 Kali Nyaris Diperkosa Demi Berantas Buta Huruf di Papua

16 May 2019

Tak ada yang mengira, Risna Hasanudin, pendiri Rumah Cerdas Perempuan Arfak di Manokwari Selatan, Papua Barat, memiliki pengalaman pahit ketika berjuang mengentaskan buta huruf di Papua.

Risna bercerita, tahun 2014-2015, dirinya nyaris menjadi korban pemerkosaan oleh tujuh orang pria. Bahkan dua pelaku di antaranya adalah seorang ayah dan anaknya. Tak hanya sekali, peristiwa nahas itu ia alami sebanyak tiga kali.

“Kejadian pertama, yang saya alami pada awal saya merintis Rumah Cerdas Perempuan di Kobrey, pada bulan November 2014. Saya masih ingat jam 11 pagi, saat itu ingin mandi. Saat mandi dan mau memakai handuk, tiba-tiba dikejutkan dengan remaja laki-laki yang sudah di kamar mandi, dan dia sempat memegang pinggang saya sebelah kiri. Pelaku merupakan, anak tuan rumah yang saya tinggali. Satu minggu, saya menghabiskan waktu di luar rumah, untuk menenangkan diri,” ujar Risna ketika dikonfirmasi Selasa (15/04).

Kejadian kelam itu membuat Risna trauma. Butuh waktu seminggu untuk memulihkan kondisi psikisnya, hingga akhirnya ia memberanikan melaporkan peristiwa itu kepada orang tua remaja tersebut.

“Satu minggu setelah kejadian, saya memberanikan diri untuk pulang dan menceritakan kepada pemilik rumah (orang tua pelaku). Saya memberikan pendapat kepada remaja ini, bahwa perilaku anak ini menyimpang, dan merupakan pelecehan. Saya mengatakan bahwa, anak-anak remaja seperti ini, melakukan hal-hal demikian diakibatkan karena kurang dukungan orang tua, menggunakan media sosial yang tidak ramah, serta pergaulan bebas,” tegas Risna.

Usai peristiwa itu, Risna sempat berpikir untuk kembali ke rumah, melanjutkan studinya. Namun niatan itu ia urungkan. Risna sudah kepalang cinta dengan Papua dan bertekad membangun Rumah Cerdas Perempuan. Walaupun ia tahu risiko yang ia hadapi berat, Risna tak menyerah.

Sembari membangun Rumah Cerdas Perempuan, Risna menyibukkan diri dengan melakukan survei, ikut kegiatan warga ke hutan, membantu warga melakukan panen cokelat. Ia berharap dapat melupakan kejadian itu meski trauma masa lalu masih lekat di ingatan.

Belum pulih trauma yang ia rasakan, kejadian kelam itu harus ia hadapi lagi untuk kedua kalinya.

Pada 4 Januari 2015, Risna lagi-lagi mengalami ‘ujian’ yang lebih berat bahkan hampir membuatnya menyerah.

Sore itu, Risna hendak salat ashar, tiba-tiba dalam keadaan mabuk, ayah dari remaja yang sebelumnya ia laporkan, malah nyaris memperkosanya. Pria tersebut memegang wajah Risna. Tak butuh waktu lama bagi Risna untuk memberontak dan berteriak. Untung saja, teriakannya didengar oleh ipar perempuan si pelaku dan Risna selamat.

Diketahui, Risna tinggal di rumah pelaku atas ajakan istri pelaku lantaran dirinya tak memiliki keluarga di Papua.

Setelah kejadian malang itu, Risna melaporkannya ke kepala desa. Gayung bersambut, kepala desa setempat memberinya tempat tinggal dan memfasilitasi kegiatan literasi yang ia tekuni.

Tak hanya melaporkannya ke kepala desa, Risna sudah berusaha menempuh jalur hukum namun tradisi ‘berdamai’ memaksanya untuk berhenti melanjutkan kasus tersebut.

“Penyelesaian hukum, tidak ditempuh. Bahkan bersikeras, namun budaya dan tradisi mengharuskan untuk berdamai. Namun tidak melupakan kejadian itu,” lanjutnya.

Cobaan tak sampai di situ, pada 1 September 2015, dirinya berkunjung ke Kota Manokwari untuk bertemu dengan mahasiswa STIE yang pernah Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kampung Kobrey.

Di sana mereka berdiskusi untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sosial terutama bidang pendidikan. Beberapa ide dipersiapkan, seperti mengadakan perpustakan gratis hingga pengadaan buku-buku bacaan anak dan umum di Kampung Kobrey.

Usai berdiskusi, Risa pamit pukul 19.00 WIT menumpang ojek. Sesampainya di Jalan Reremi Manowari, lima orang pria menariknya dari motor.

“Saya ditarik dari motor dan saya mau diperkosa, saya dilecehkan. Saya marah dan memberontak. Alhasil, kepala saya yang jadi sasaran. Saya dipukul dengan batu dan pelakunya ada lima orang. Dan yang memukul kepala saya satu orang sementara teman-temanya hanya memandangi hingga ditolong oleh tukang ojek,” kenangnya.

Akibat dari peristiwa itu, Risna mengalami pendarahan di hidung selama 6 bulan. Namun, lagi-lagi Risna harus menelan kenyataan pahit. Peristiwa tersebut tak selesai di meja hijau. Sementara itu, pelaku masih berkeliaran.

Risna lantas memutuskan kembali ke rumah, tempatnya merasa aman dan mendapat dukungan. Walaupun demikian, perjuangan Risna belum usai, ia tetap memupuk impian untuk bisa mencerdaskan perempuan di Papua.

“Saya kembali ke Ambon. Tapi, sebelum kembali, saya mengajak ibu saya untuk melihat kondisi tempat kegiatan. Ibu saya sangat tersentuh, dan beliau, serta kakak perempuan saya, memberi dukungan untuk kembali mengabdi di Papua,” kata Risna.

Risna berharap kisahnya ini bisa menjadi introspeksi untuk aparat dan masyarakat agar memberikan rasa aman kepada perempuan atau siapa saja dari kejahatan seksual.

Belum lagi stigma buruk masyarakat yang melekat pada korban kejahatan seksual dan trauma mendalam yang harus dirasakan.

 

https://kumparan.com/balleonews/kisah-risna-nyaris-3-kali-diperkosa-demi-berantas-buta-huruf-di-papua-1r57c1ww0T6?utm_medium=post&utm_source=Instagram&utm_campaign=instastory

Komentar

Email Anda tidak akan kami publikasikan ke pihak manapun.
Harus diisi *