ARTIKEL TERBARU


Mahariah, berbagi kisah mengenai perjuangannya membawa perubahan di Pulau Pramuka
Mahariah, Wanita Penggerak #PulaukuNolSampah
2018-05-02

Menyusuri jalan kecil di pinggiran laut di Kepulauan Seribu ini bagai melihat dua mata koin yang berbeda. Di satu sisi, indahnya laut berwarna biru kehijauan membentang luas. Di sisi lainnya tumpukan sampah penuh warna seolah menyadarkan kita dari mimpi indah saat menatap indahnya lautan di Kepulauan Seribu. 
Tempat Pembuangan Akhir KBA Pulau Pramuka disamping Hutan Mangrove.

 

Tempat Pembuangan Akhir KBA Pulau Pramuka disamping Hutan Mangrove

 

Tapi ternyata, ada surga tersembunyi di balik tumpukan sampah itu. 

Jika kita terus berjalan tak jauh dari jalan kecil di pinggir laut tadi, kita dituntun menuju hamparan kehijauan di tengah pulau yang dikelilingi laut biru. Udara segar dapat kita hirup saat memasuki area ini. Banyak pohon-pohon tinggi nan rindang yang apik jika diabadikan dalam sebuah foto.

Terlihat juga ada tanaman hidroponik dan beberapa sudut bermain anak, mulai dari lapangan futsal, lapangan bulu tangkis, bahkan saung/gazebo untuk bermain sambil belajar. 

Keadaan seperti ini bisa ditemukan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. 

Persoalan sampah tak hanya dihadapi oleh Pulau Pramuka, tetapi juga dihadapi pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu.

Tumpukan sampah berasal dari sampah-sampah plastik yang terbawa dari lautan ke pinggir pantai. Tak hanya dari laut, ternyata sampah-sampah ini juga limbah rumah tangga warga setempat.

Sampah yang sulit terurai ini berdampak terhadap ekosistem, baik di darat maupun yang di laut, antara lain ekosistem terumbu karang dan mangrove menjadi terganggu bahkan bisa menyebabkan kematian bagi benih mangrove dan terumbu karang. 

Adanya bahan berbahaya dan beracun dari sampah plastik juga bisa mengakibatkan ikan dan biota laut lainnya mengalami gangguan bahkan kematian. Menyedihkan bukan bila hal itu terjadi?

 

Pengolahan Sampah Mandiri

Kegiatan warga dalam mengolah sampah menjadi beragam kerajinan

 

Pulau Pramuka memiliki luas 16,73 hektar dengan persoalan utamanya adalah pengelolaan sampah. 

Penting bagi kita untuk sadar akan kelestarian lingkungan. Mengurangi jumlah sampah antara lain dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan kantong plastik/air minum dalam kemasan, menggunakan produk yang dapat didaur ulang, mendaur ulang sampah, serta ikut aktif dalam aksi pembersihan lingkungan.

Adalah Mahariah, wanita berusia 47 tahun, yang telah mengabdi pada lingkungan hingga berhasil memeroleh penghargaan Kalpataru dari pemerintah. Masyarakat di Kampung Berseri Astra (KBA) Pulau Pramuka diajaknya untuk mengolah sampah mereka sendiri, secara mandiri. 

Ia hadir sebagai penggerak masyarakat sekitar untuk mulai menyadarkan akan pentingnya kebersihan dan pengolahan sampah di KBA Pulau Pramuka.

Awalnya Mahariah hanya berkerja sendiri dalam pengolahan sampah di pulau ini, hingga akhirnya dapat mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan dan mendaur ulang sampah menjadi barang bermanfaat.

Sampah anorganik dibuat menjadi beragam kerajinan hingga bernilai ekonomi dan dijual kembali. Ada juga yang dijadikan ecobrick, yakni sampah botol plastik yang dijejalkan sampah-sampah plastik lainnya hingga padat kurang lebih 250-300 gram. Ecobrick atau “batako” yang ramah lingkungan ini bisa dipakai untuk membuat furnitur atau bangunan sederhana.

Mahariah juga berkerja sama dengan sekelompok penyelam bernama Divers Clean Action (DCA). Para penyelam yang berkunjung ke Pulau Pramuka turut diajak menjaga kebersihan dengan memungut sampah yang ada di dasar laut.

 

Mahariah dan salah satu Tim Divers Clean Action

 

Nah, sampah organik ada yang dijadikan bahan pembuatan biogas, kompos cair, dan kompos padat. Pupuk kompos ini nantinya bisa dijual lagi atau dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai media tanam di rumah masing-masing.

Kalau ditanya tentang cita-cita, Mahariah punya cita-cita untuk bisa menanam padi di laut dengan menggunakan tenaga matahari. Sebuah cita-cita yang luar biasa yang terlatarbelakangi dari keinginannya untuk terus menjaga bumi kita tercinta.

Ayo, selamatkan lingkungan, selamatkan anak cucu kita.

Selamat Hari Bumi


Artikel Terkait
Astra Meresmikan Gedung Penunjang Belajar SDN 05 dan 06 Sung
JAKARTA: Hari ini Senin, 9 Mei 2011, PT Astra International Tbk (“Astra”) dan anak perus...
Baca Selengkapnya
Meniti Asa Gadis Cilik di Timur Indonesia
Buat milenial zaman sekarang yang serba membutuhkan koneksi internet, pasti akan kesulitan apabila t...
Baca Selengkapnya
Telaga Kemuning, Kesejukan ditengah Tandusnya Tanah Gunungki
Saya baru pertama kali mendengar bahwa ada sebuah telaga atau danau di kabupaten Gunungkidul. Danau ...
Baca Selengkapnya
Wajah Merekah Telaga Kemuning Kini
Sinar mentari yang hangat serta merdu kicau burung menyambut kedatangan kami di Desa Kemuning, Gunun...
Baca Selengkapnya
IKUTI KAMI
Pastikan Anda selalu terhubung dengan media
sosial kami. #KitaSATUIndonesia