ARTIKEL TERBARU

Geliat Bajang di Gelanggang Kepengarangan
2018-03-06

"Tulisan ini merupakan karya pemenang Anugerah Pewarta Astra 2017, M Khoirul Anwar - Juara 2 Kategori Umum

M Khoirul Anwar KH  10.21  Astra , LFAAPA2017 , Literasi

Geliat Bajang di Gelanggang Kepengarangan

Tahun 2006. Angka ini merupakan tahun kedua pemuda Lombok itu menapakkan kaki di kota Jogjakarta demi melanjutkan studi. Kendati mengambil fokus Hubungan Internasional (HI), minatnya pada dunia baca-tulis sastrawi sejak usia kanak tetap membara hingga ia merangkak dewasa. Apalagi kota barunya sekarang merupakan surga bagi para pecinta ide dan aksara. Jogjakarta adalah perpustakaan raksasa dimana buku-buku bermutu bisa didapat dengan mudah. Kemanapun kaki melangkah, buku berkualitas akan hadir di depan mata secara melimpah. Ibarat Romeo yang bertemu Juliet, di tempat barunya pemuda itu serasa berjumpa dengan belahan hati yang lama mengembara entah kemana.

Irwan (Bajang) Firmansyah nama pemuda itu. Usianya menginjak angka 31. Ia merupakan satu dari sekian ribu pemuda Jogja yang begitu tergila-gila pada deret aksara. Baginya, rangkaian huruf yang tertata rapi, catatan kaki yang berlapis-lapis, sampul yang menawan, adalah keindahan yang melebihi apapun. Ambisinya adalah membaca selahap-lahapnya dan menulis sebanyak-banyaknya. Kendati saat itu terbilang masih awam dalam dunia penerbitan, di tahun 2006 Bajang nekat menerbitkan janin ruhani pertamanya yang berjuluk Sketsa Senja. Buku itu berisi kumpulan puisi Bajang yang diterbitkan secara amatiran. Layout tata letak serta desain sampul digarap seorang teman dan dicetak fotokopian sederhana. Distribusinya ia salurkan pada sahabat dan komunitas terdekat saja.

Kendati sangat sederhana, saat itu Bajang begitu bahagia. Ia merasa satu tugas kebudayaannya sebagai manusia terdidik berhasil diselesaikan secara paripurna. Bajang tak peduli dengan kualitas buku itu bagaimana, angka penjualannya bagaimana, model marketing dan distribusinya seperti apa. Yang jelas waktu itu ia merasa begitu merdeka atas naskah yang ia siapkan dengan susah payah sejak lama.

Waktu terus bergerak. Tahun demi tahun telah terlewat. Sembari berkuliah, Bajang terus menyicil halaman demi halaman janin kedua yang hendak dilahirkannya. Lantaran persentuhannya dengan banyak komunitas literasi kian intens, Bajang menganggap janin ruhaninya yang kedua ini pasti akan berdaya ledak dahsyat. Untuk pembuktian, tahun 2008 ia menerbitkan bukunya yang kedua. Kali ini melalui jalur penerbitan konvensional. Dan, benar saja, Rumah Merah laris manis menembus angka penjualan hingga 3000 eksemplar. Tentu ini merupakan angka yang prestisius untuk ukuran penulis pemula.

(Irwan Bajang di Kedai Kulinernya/Dok. Pribadi)

Tapi, Bajang tidak puas. Bahkan kecewa. Ia merasa dunia industri buku konvensional tidak adil. Penulis yang notabene merupakan subjek paling penting dari roda perbukuan hanya mendapat keuntungan 10% dari tiap buku yang terjual. Bajang juga kesulitan ketika meminta penerbit memfasilitasi bedah bukunya. Bahkan, sekedar cinderamata untuk temanpun, Bajang musti membeli bukunya sendiri di toko buku. Ini lantaran seluruh stok buku sudah ada di gerai-gerai penjualan. Dari sini, Bajang merasa tidak merdeka atas naskah yang ia lahirkan sendiri. Kontrol penuh atas naskahnya tak ia dapatkan di buku kedua.

Lantaran penasaran, di penghujung 2008 Bajang memutuskan untuk bekerja sebagai editor desk Sastra dan Sosial Politik di sebuah penerbit konvensional. Bajang berharap, dengan masuknya ke penerbit besar akan memudahkan langkahnya membantu teman-teman yang hendak menerbitkan buku. Tapi nahas, Bajang harus kembali menelan pil pahit. Dari sekian banyak teman yang mengirimkan naskah, tak ada satu bijipun yang lolos rapat redaksi untuk diterbitkan. Padahal di antara naskah itu terdapat beberapa naskah yang seturut Bajang layak untuk diedarkan.

“Dari kejadian itu saya paham bahwa dalam industri penerbitan konvensional ada empat kriteria buku: 1) buku bagus dan laku, 2) buku tidak terlalu bagus tapi laku, 3) buku tidak bagus tapi laku, 4) buku tidak bagus dan tidak laku tapi dicarikan segmentasi pasarnya sedemikian rupa. Yang terakhir ini contohnya biografi tokoh atau profil institusi. Dalam logika industri penerbitan, buku bagus itu tak selalu berjalan linier dengan buku laku. Bagus belum tentu menjual. Nah, buku teman-temanku konon tak marketable”, ujar Bajang geram.

Indie Book Corner

Dua kali sudah Bajang dikecewakan. Ia tak mau kecewa untuk ketiga kalinya. Sebab itu, pertengahan 2009 ia memutuskan hengkang dari perusahaan penerbitan. Sebaliknya, bersama kekasih hati, Anindra Saraswati, Bajang menginisiasi sebuah penerbitan buku indie berbasis komunitas (sociopreneurship) bernama Indie Book Corner (IBC). IBC lahir tanggal 9 bulan 9 tahun 2009. Secara singkat, IBC adalah wadah bagi para penulis yang hendak merdeka penuh atas naskahnya. Di dalamnya penulis akan berkolaborasi secara cantik dengan desainer, layouter, editor, marketing, dan distributor. IBC adalah jawaban konkret Bajang atas semua kekecewaan pada dunia penerbitan yang ia kulum sebelumnya.

“Aku ingin meruntuhkan pakem dalam industri buku konvensional bahwa hanya buku laku saja yang layak terbit. Di sana pasar adalah penentu segalanya. Itu tidak sehat. Karena nanti yang terjadi hanya penyeragaman tema. Misalnya, ketika ngetrend Ayat-Ayat Cinta, tiba-tiba muncul epigon tak kreatif berupa Ayam Cinta, Pohon Cinta dan sebagainya. Menghadapi tema yang seragam seperti itu tentu tak sehat bagi perkembangan kreatif pembaca”, demikian Bajang beralasan.

IBC memang membebaskan siapapun untuk menulis. Dari siswa menengah pertama hingga dosen pasca-sarjana. Anything goes. Proses kurasi di dalam IBC juga begitu cair dan lentur. Kendati demikian, bukan berarti tanpa proses kurasi sama sekali. Standar kurasi tetap ada, misal naskah harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan bisa diverifikasi data dan faktanya. Dua hal itu menjadi acuan dasar sebuah naskah layak diterbitkan di IBC. Naskah sehebat apapun, sekontroversial apapun, jangan harap diterbitkan IBC jika tak memenuhi standar dua prasyarat di atas.

(Gerai IBC/Dok. Pribadi)

“Percayalah, IBC takkan pernah menolak naskah. Asal penulis mau bersabar berdiskusi dengan editor untuk memperbaiki naskahnya, mau berdiskusi dengan marketing untuk menciptakan pasarnya, cepat atau lambat niscaya kami terbitkan”, ucap Bajang meyakinkan.

Sebagai penerbit indie, kendala terbesar memang berada di modal dan jangkauan pasar yang terbatas. Oleh sebab itu, IBC tak mau menerbitkan buku secara serampangan dan dalam skala besar. Semua harus terukur jika tak ingin tumbang di tengah jalan. Di IBC, skala penerbitan satu judul buku lazimnya hanya berkisar ratusan eksemplar sesuai permintaan dan jangkauan pasar sang penulis. Ini dimaksudkan agar kapital yang tak banyak itu bisa diproyeksikan ke naskah lainnya. Modal berputar produksi pun lancar.

IBC memang bermain di skala kecil tapi memiliki distribusi yang sangat cepat. Bagi IBC, buku tidak harus terjual banyak. Yang penting buku terdistribusi ke tangan yang tepat dengan cepat. Karenanya, di samping mengandalkan kanal-kanal distribusi khas indie, IBC juga menuntut penulis agar cakap menciptakan pangsa pasarnya sendiri. Penciptaan pasar itu agar sang penulis bisa memperhitungkan seberapa banyak naskahnya akan naik cetak. Misal untuk puisi, tentu segmentasi paling rasional adalah komunitas sastra di mana penulis aktif di dalamnya.

(Toko Buku Indie/Dok. Pribadi)

Tapi tentu saja, sebagai penerbitan, IBC tetap memiliki kanal-kanal distribusi reguler seperti melalui toko Budi (Buku Indie), komunitas-komunitas literasi, pameran buku, pasukan reseller online yang kini jumlahnya mencapai 60 reseller, dan sebagainya. Khusus yang pertama (Toko Budi), ini merupakan gerai resmi IBC sendiri yang bertindak sebagai etalase awal.

Melalui IBC, Bajang sejatinya hendak membuktikan bahwa tanpa toko buku konvensional pun penerbit indie sanggup menjual buku hingga 3000 eksemplar. Sebut saja misalnya Sejarah Estetika karya Martin Suryajaya yang menembus penjualan hingga 2000 eksemplar, Sepak Bola Seribu Tafsir Eddward S. Kennedy 1000 eksemplar, Simulakra Sepakbola besutan Zen RS bahkan sanggup terjual 900 eksemplar di pre-ordernya saja. “Dari sekira 500 buku yang sudah kami terbitkan, ada 50 buku yang kencang dan simultan proses penjualannya”, tutur Bajang.

Independent School

Independent School (IS) adalah saudara kembar Indie Book Corner. Jika IBC tempat mengolah karya, IS lebih sebagai kawah candradimuka tempat menempa calon penulis-penulis baru agar muncul ke permukaan. Katakanlah, IS adalah tempat meregenerasi penulis agar senantiasa lahir dan tumbuh berkembang.

Sekolah ini digarap Bajang mulai tahun 2011. Bersama beberapa penulis dan awak IBC lainnya, Bajang bergerilya dari sekolah ke sekolah, kampus ke kampus, komunitas ke komunitas, pesantren ke pesantren, untuk menebarkan ruh positif dunia literasi yang melingkupi baca, tulis, dan dokumentasi berbentuk buku. Belakangan, isi materi sekolah ini tak melulu tentang dunia tulis menulis, tapi juga melebar ke pelatihan desain grafis, kelas penerbitan, dan kelas jurnalistik.

(Independent School di Pesantren /Sumber Gambar: Irwan Bajang)

Agar lebih termotivasi, setelah pelatihan lazimnya peserta disuruh untuk menulis sesuai dengan minatnya masing-masing. Setelah itu diterbitkan oleh IBC dan didistribusikan secara terbatas di komunitas/sekolah tempat sang peserta berasal. Dengan begitu, peserta merasa terapresiasi dan hasil yang didapat lebih membekas dan abadi. Di samping itu, penerbitan naskah peserta juga tentunya merupakan nilai lebih untuk peserta sendiri maupun institusinya.

Untuk lebih menggemakan gaung buku para peserta, Bajang mentradisikan pada para jemaat Independent School untuk memulai saling meresensi karya temannya sesama penulis pemula. Ini bertujuan disamping untuk ajang saling promosi juga sebagai medium pembelajaran mengapresiasi sebuah karya. Buku Bajang yang ketiga, Kepulangan Kelima, bahkan telah diresensi sebanyak 50 kali oleh teman-teman sesama penulis muda.

Kendati waktunya tentatif, sekolah menulis ini banyak sekali yang menanti. Awalnya, durasi Independent School hanya satu hari penuh dengan pemadatan materi dari berbagai narasumber. Belakangan banyak permintaan agar Independent School membuka kelas selama tiga hari agar lebih maksimal dan mendalam. Menghadapi permintaan sedemikian, biasanya Bajang hanya menukas pendek: “Tidak ada penulis yang lahir dari sekolah menulis. Sekolah menulis ini hanya stimulan awal saja. Yang bisa membuat seseorang menjadi penulis ya dengan menulis terus menerus”.

(Nugroho Daru, Pegiat IBC & Independent School/Dok. Pribadi)

Sekolah ini sebenarnya berangkat dari pengalaman Bajang dulu yang begitu sulit mencari kursus menulis yang berkualitas tapi ekonomis. Kalau pun ada, pasti tarifnya membuat orang mundur sebelum menjajaki. Sebab itulah Bajang menginisiasi Independent School secara gratis bagi siapapun yang mau menekuni dunia sunyi literasi. “Independent School itu saya niatkan dari awal untuk amal kita bersama. Karena dulu aku pengen belajar menulis tapi tidak tahu tempatnya. Waktunya sehari full. Mentornya diambil dari penulis-penulis yang bukunya sudah diterbitkan oleh IBC”, demikian Bajang.

Tak hanya Independent School, IBC yang bermarkas di Condongcatur, Sleman, Jogjakarta ini juga menyediakan tempat gratis untuk bedah maupun pameran buku. Di samping memiliki area yang luas dan berlantai dua, markas IBC juga dilengkapi fasilitas kafe super komplit yang bertitel Nyata Kopi. Jika Anda berkunjung ke sana, maka akan didapati penulis-penulis muda berbakat yang tengah sibuk menekuri naskahnya di depan laptop sembari menikmati tegukan demi tegukan kopi dengan varian rasa. Di tempat ini pula Bajang tengah sibuk mempersiapkan janin ruhani keempatnya. Sebuah kumpulan puisi dan cerpen berjudul Hantu, Presiden, dan Buku Puisi Kesedihan yang berisi kritik liris dan metaforis terhadap rezim.

(Kafe Nyata Kopi Bagian dari IBC dan IS/Dok. Pribadi)

 

Melawan Stigma

Stigma yang selama ini berkembang di dunia perbukuan adalah: produk indie itu pasti jelek karena tak diterima di penerbit mayor. Editingnya asal-asalan, cetakannya di bawah standar, cover seadanya, dan sebagainya. Stigma ini terus menerus dikembang-biakkan hingga seolah menjadi kredo yang dipegang teguh para pembaca.

Bajang, melalui IBC-nya, pelan-pelan hendak melawan stigma buruk itu. Bukan dengan cemooh maupun makian. Melainkan dengan karya bermutu yang nyata dan segunung penghargaan. Melalui jatuh bangun proses yang panjang, stigma itu lamat-lamat kian hilang. Ini terbukti di antaranya dengan: dalam dua tahun belakangan nyaris semua ajang penghargaan buku di negeri ini 80% diisi oleh buku-buku indie. Dari mulai Anugerah Pembaca Indonesia, Buku Terbaik Tempo, hingga penghargaan prestisius dalam dunia sastra seperti Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Melalui beragam anugerah penghargaan yang sangat otoritatif itu stigma buruk tentang buku indie mulai bergeser.

IBC sendiri telah menyumbangkan sedikitnya 20-an judul buku yang hilir-mudik masuk ke berbagai ajang penghargaan. Beberapa contohnya adalah: Penyair Midas (10 besar KSK 2013),Kepulangan Kelima (10 besar KSK 2013), Seikat Kisah Tentang yang Bohong (5 besar KSK 2017),Telembuk (5 besar KSK 2017), dan banyak lagi.

(Etalase Karya IBC/Dok. Pribadi)

Begitu juga di ajang-ajang pameran buku seperti Kampung Buku Jogja (KBJ). Di tahun pertama (2015), peserta KBJ yang berasal dari penerbit indie hanya berkisar 12 penerbit. Tahun berikutnya (2016) 20 penerbit buku indie. Di tahun ini angkanya naik secara tajam: 58 penerbit buku indie turut berpartisipasi dalam ajang Kampung Buku Jogja 2017. Itu artinya hampir 70% gerai-gerai buku di helatan KBJ diisi oleh para penerbit indie. Memang, seperti dituturkan Bajang, dua tahun ini terdapat indikasi kuat bahwa buku-buku terbitan penerbit indie mulai menjadi patokan pasar.

Bahkan buku puisi dan kumpulan cerpen yang dulu kerap tak dilirik penerbit konvensional (kecuali untuk sastrawan masyhur), kini mulai mendapat tempatnya yang layak. Penyair-penyair baru mulai bermunculan. Cerpenis pun demikian. Semua orang kini sanggup berdiri sejajar tanpa embel-embel status maupun latar belakang sosial apapun. Hanya kualitas karyalah yang kelak akan membedakan mereka di keharibaan masa dan massa.

Apresiasi Astra

(Infografi Dok. Pribadi)

Berkat keuletannya bersimbah peluh di dunia literasi indie, Bajang diganjar banyak penghargaan. Dalam lini karya, bukunya Kepulangan Kelima berhasil naik ke tangga 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2013. Dari segi kiprah, Astra Internasional menganugerahinya penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2014 dalam bidang pendidikan lantaran kegigihannya menjadi suluh literasi bagi lingkungan sekitar. Walau kedua penghargaan itu tak pernah terbetik dalam benaknya, Bajang tetap mengapresiasinya dengan baik. Apalagi penghargaan-penghargaan itu tentu berimbas cukup signifikan terhadap pengembangan IBC maupun Independent School ke depan.

Khusus untuk SATU Indonesia Award, Bajang berkomentar: “Ini penghargaan yang luar biasa. Karena beberapa orang mungkin melakukan hal-hal yang berimbas besar di sekililingnya tapi orang tidak banyak yang tahu. Dengan penghargaan Astra ini selain ada bantuan dana, ada juga bantuan publikasi. Jadi program-program kami lebih tersebar di media dan orang tahu. Ada banyak orang yang membantu dan meniru melakukan hal yang sama. Itu sesuai harapan saya di awal agar orang lain bisa melakukan hal yang sama”, ucapnya suatu waktu.

Walau tiga tahun sudah penghargaan itu berlalu, Astra tetap membangun komunikasi dengan Bajang demi menyebarkan semangat literasi. Jumat 3 November tahun ini misalnya. Bertempat di 180 Coffe and Music Bandung, Bajang bersama Dudi Sugandi (fotografer) dan Windy Ariestanty (content creator) didaulat Astra untuk mengisi gathering perihal satu even yang digagas Astra Internasional setiap tahunnya.

(Gathering LFAAPA2017 di Bandung/ Sumber Gambar: Irwan Bajang)

Memang sudah sejak lama Astra berkomitmen teguh mengapresiasi insan-insan negeri yang berhasil menginspirasi sekelilingnya. Apresiasi itu tersalur baik melalui Corporate Social Responsibility  (CSR) Astra maupun ajang SATU Indonesia Award. Di lajur CSR, Astra membidik empat segmen: dari mulai pendidikan, lingkungan, kesehatan, hingga income generating activities (IGA) yang fokus memberdayakan usaha kecil menengah. Dalam SATU Indonesia Award, sejak 2010 Astra mengganjar banyak insan muda kreatif yang berhasil menjadi suluh terang dalam bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, kewirausahaan, teknologi, dan kelompok.

Ini memang sesuai dengan “konstitusi Astra” yang bernama Catur Dharma. Rumusan falsafah yang lahir pada 20 Desember 1982 itu menyepakati bahwa Astra musti berjalan di atas empat nilai ini: bermanfaat bagi bangsa dan negara (to be an asset of the nation), pelayanan yang terbaik bagi pelanggan (best service to customers), saling menghargai dan membina kerjasama (respect for the individual and development of teamwork), dan senantiasa berusaha mencapai yang terbaik (strive for excellence) dalam segala lini (Yakub Liman, 2017: 472).

Bajang adalah satu di antara sekian banyak nama yang mendapat anugerah SATU Indonesia Award. Ini karena Astra menganggap pemuda Lombok itu memiliki kiprah dalam dunia pendidikan yang beririsan dengan nilai pertama Catur Dharma: sanggup menebar manfaat bagi sesama. “Penganugerahan ini merupakan langkah nyata untuk meneruskan semangat SATU Indonesia yang senafas dengan filosofi Astra, yaitu Catur Dharma,” tutur Presiden Direktur Astra Prijono Sugiarto dalam gelaran CEO Sharing di Jakarta (suara.com, 25/11/14).

(Penganugerahan SATU Indonesia Award 2014/Sumber Gambar: Satu Indonesia)

 

Indie Sampai Mati

Setidaknya ada dua makna indie bagi Bajang. Pertama, penulis merdeka atas naskahnya. Kedua, penulis merdeka atas distribusi karyanya. Kedua makna itu mutlak musti dimiliki oleh para penulis yang hendak merdeka dari dikte segala hal-ihwal di luar kerangka literer dan estetika. Berpegang pada prinsip sedemikian tentu berat. Tapi Bajang sangat yakin, segala hal yang unik dan aneh akan senantiasa memiliki tempat khusus di hati masyarakat.

Khusus untuk tahun 2018, ada lima pekerjaan rumah yang hendak digarap Bajang melalui perahu IBC dan Independent School-nya: a) memperluas distribusi buku melalui laman-lamane-commerce, b) membuka beberapa cabang Toko Budi (Buku Indie) di daerah-daerah melalui jejaring komunitas, c) menggeliatkan lebih banyak lagi workshop kepenulisan dalam tenda Independent School, d) mencetak kembali buku-buku penulis lama yang kini mulai musykil didapat, dan terakhir e) mulai melirik penerbitan buku dalam platform digital (PDF).

(Irwan Bajang/Dok. Pribadi)

Untuk yang terakhir ini, Bajang sudah mulai membuka keran kerjasama dengan Google Books. Bajang sadar, era digitalisasi seperti saat ini musti diantisipasi dengan sigap dan bijak. Tren membaca sepuluh tahun yang akan datang tentu akan jauh berbeda dengan saat ini. Peradaban kertas, cepat atau lambat, akan segera berhijrah ke peradaban digital yang semuanya menyembul dari layar gawai.

Apapun itu, iman yang hingga detik ini digenggam teguh Bajang dalam menahkodai IBC maupun Independent School adalah: industri tidak semata-mata tentang uang. Di dalam industri juga ada hobi, kebahagiaan, dan gerakan sosial. Setidaknya, itulah yang terjadi di geliat industri buku indie yang selama ini Bajang tekuni.

Dan inilah Perjalanan Penuh Inspirasi Irwan Bajang yang pada akhirnya diapresiasi oleh Astra Internasional.

 

http://www.khoirulanwar.net/2017/12/geliat-bajang-di-gelanggang.html


Artikel Terkait
Bos Master Yang Jadi Master
Cuaca cerah siang itu. Ojek online yang mengantar saya ke kawasan Jatinegara Lio, Jakarta Timur itu ...
Baca Selengkapnya
Dampak Berganda dari Lab Komputer Mini
Dewis Akbar memadukan program gratisan dan peranti berharga murah untuk memberi kesempatan agar anak...
Baca Selengkapnya
Ratu Sampah dari Semper Barat, Mengelola Sampah Jadi Berkah
Suara wanita berjilbab ini terdengar bersemangat. Meski hari itu, wanita bernama Endang Susanty Sylv...
Baca Selengkapnya
IGA Wujudkan Mimpi Para Petani
Melalui program Income Generating Activity (IGA), 2.116 petani di Kalimantan Teng...
Baca Selengkapnya
IKUTI KAMI
Pastikan Anda selalu terhubung dengan media
sosial kami. #KitaSATUIndonesia