ARTIKEL TERBARU

Mutiara di Rumah Pintar Barengkok
2018-03-06

"Tulisan ini merupakan karya pemenang Anugerah Pewarta Astra 2017, Alamil Huda - Juara Harapan 1 Kategori Wartawan"

Mutiara di Rumah Pintar Barengkok

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/17/12/25/p1iji2368-mutiara-di-rumah-pintar-barengkok

Oleh: Mas Alamil Huda, 25 December 2017

Bunda Bety mendidik dan merawat anak berkebutuhan khusus sejak 2008. Lambat laun jumlahnya bertambah menjadi tujuh anak di 2014. Selama itu, dia beraktivitas di rumah mungilnya. Di tahun 2014, PT Astra International membangun Rumah Pintar Barengkok. Murid Bunda Bety yang berkebutuhan khusus total kini 19 anak. Warga belajar di Rumah Pintar Barengkok juga mencapai ratusan dari balita hingga SMA. Mei 2017, Rumah Pintar Barengkok menyabet juara I Apresiasi Astra Untuk Indonesia Cerdas di Balikpapan

 

Aktivitas di Rumah Pintar Kita Astra Barengkok.

Foto: republika/ mas alamil huda

 

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Anak kecil berkaos dan bercelana pendek warna merah itu bergerak lincah. Ia berlari riang dan kadang berteriak gembira mengelilingi ruangan. Badannya terlihat bugar, meski berperawakan tak besar untuk ukuran anak seusianya.

 

Raihan Pratama, nama bocah berkulit kuning langsat itu. Usianya genap empat tahun di 2017 ini. Sembari terus berlarian, sesekali Raihan mengambil buku di rak dan seketika menjatuhkannya. Selama terus bergerak dan beraktivitas itu, Raihan tak pernah sendiri. Di belakangnya selalu ada sesosok perempuan yang selalu mengikuti. Ketika menaiki di meja berwarna hijau di ruangan itu, perempuan itu langsung memeluknya.

 

"Yee... Raihan sama Bunda sini sayang," katanya dengan memeluk sang bocah dan menurunkannya dari atas meja.

 

Perempuan itu biasa dipanggil Bunda Bety. Bety Nurbaety nama lengkap ibu 41 tahun itu. Begitu sabar dia memperlakukan Raihan. Dari mengajaknya berkomunikasi, melatih fokus, hingga mengajari hal-hal khusus lain yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang Raihan.

 

Raihan adalah satu dari 12 anak berkebutuhan khusus di Rumah Pintar Kita Astra Barengkok, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor yang dikelola Bunda Bety.

Di sudut lain di ruangan yang sama, Danharti (36 tahun) hanya melihat Bunda Bety dan Raihan dari kejauhan. Sikunya tertumpu pada meja belajar berwarna merah. Tatapan mata lelaki itu serius melihat apa yang dilakukan Raihan, putra semata wayangnya.

Sementara istrinya, Evi Hariyati (30 tahun), duduk di samping Danharti dan diam memperhatikan sang buah hati.

Danharti dan Evi tinggal di Karawaci, Tangerang. Dia harus berangkat dari rumah pukul 05.00 WIB untuk menghindari kemacetan. Berharap tiba di Rumah Pintar Barengkok tak melewati pukul 08.00 WIB.

Rutinitas itu ia jalani sejak medio Juni 2017. Tak setiap hari, maksimal hanya dua kali sepekan. Jarak yang jauh dengan keharusan Danharti bekerja menafkahi Raihan dan Evi membatasi segala itu.

Enam bulan bersama Bunda Bety, perkembangan Raihan menunjukkan hasil signifikan. Sesuatu yang belum dia rasakan selama beberapa kali membawa Raihan ke rumah sakit. Bahkan, sudah tak sedikit biaya yang dikeluarkan. Tapi, kini Raihan kini lebih menurut dan mandiri. Dua hal yang sangat sulit dilakukan Raihan sebelumnya.

"Sekarang pakai celana sendiri mau. Dia lebih nyaman di sini. Saat datang di sini, dia langsung berbaur sama teman-temannya," ujar Danharti kepada Republika.co.id pertengahan Desember ini.

***

Nada suara Bunda Bety bergetar.  Tiba-tiba air matanya jatuh ke lereng pipi. Buru-buru ia menangkupkan kedua telapak tangannya ke muka. Ia usap wajahnya yang basah dengan jilbab warna putih yang membalut kepala.

"Apakah anak-anak yang terlahir istimewa itu memang harus dipasung, dibiarkan menjadi anak terlantar, tidur di pasar atau bahkan mungkin dibiarkan makan tanah, dibiarkan tidak mandi, terus di-bully dan hina teman-temannya?" tanyanya.

Ia masih ingat betul dengan keputusan penting dalam hidupnya beberapa tahun silam. Dulu, ia menekuni profesi sebagai seorang akuntan. Profesi itu ia lepaskan.

"Hati saya tidak di sana. Hati saya ada sama anak-anak di sini," katanya, usai mengajar anak berkebutuhan khusus di Rumah Pintar Kita Astra di Kampung Dahu RT02 RW05 Desa Barengkok, Leuwiliang.

Sembilan tahun silam, ibu satu anak ini memutuskan hijrah dari pekerjaan yang selama ini digeluti. Tahun 2008 menjadi titik awal peristiwa besar dalam hidupnya bermula. Bunda Bety memaknainya sebagai bagian dari perjalanan spiritual. Waktu itu, seorang tetangga datang menghampiri ketika ia sedang memasak. Sang tetangga membawa anaknya yang bernama Danendra.

"Danendra kenapa, Bu?" tanya Bunda Bety.

Ibu Danendra menangis. Bunda Bety tercenung sejenak. Sang ibu bercerita, Danendra dianggap aneh oleh teman-temannya di sekolah, sering dicap sebagai pembuat onar. Tak jarang, Danendra dianggap gila.

Hati Bunda Bety terasa teriris meski Danendra bukan anak kandungnya. Naluri keibuannya menggelegak di relung hati. Praktis sejak waktu itu ia mengemban amanah dari tetangganya untuk mendidik sekaligus merawat seorang anak berkebutuhan khusus. Perasaannya menjadi campur aduk, semua bertempur dalam ruang pikiran dan perasaan.

Dia menjadi bingung dengan apa yang akan diperbuat. Latar belakang ilmu sebagai seorang akuntan tentu tak berkait-paut dengan Danendra dan semua kebutuhannya.Tapi, tak ada pilihan baginya selain mengambil amanah ini. Ia menganggap peristiwa itu bukan sesuatu yang kebetulan. Danendra (saat itu berusia 6 tahun), baginya adalah titipan. Bukan hanya dari orang tuanya, tapi juga Tuhan.

Tekadnya untuk mengabdi dan menghibahkan diri dalam dunia pendidikan anak-anak sudah bulat. Danendra adalah anak Indonesia yang punya hak berkesempatan sama dengan lainnya. Segala keistimewaannya adalah anugerah, bukan kekurangan seperti anggapan banyak orang, begitu katanya.

Di rumah sederhana yang luasnya tak lebih dari 72 meter persegi, ruang tamu mungil ia manfaatkan untuk belajar dan menyimpan segala keperluan Danendra. Berbekal pengalamannya berorganisasi selama masa sekolah hingga kuliah, ia merawat dan mengajari sang bocah. Semuanya berkelindan dengan upaya untuk terus mempelajari ilmu-ilmu baru tentang anak berkebutuhan khusus.

Dengan segala keterbatasan, semua dijalankannya dengan konsisten. Hari ke hari dijalani, pekan demi pekan dilalui serta menggenapkan bulan dengan kesabaran dan dedikasi. Upaya meningkatkan kemampuan dan menyerap ilmu dari berbagai sumber terus ia tempuh.

Beberapa temannya yang berkecimpung di dunia pendidikan ia hubungi. Ia meminta bantuan disambungkan dengan siapa pun yang telah lama bergelut di dunia pengajaran anak berkebutuhan khusus. Hingga akhirnya, Bunda Bety bisa mengikuti pelatihan-pelatihan khusus bagaimana mengajar dan merawat Danendra.

Lambat laun seiring waktu berjalan, murid bunda Betty bertambah. Tahun 2010, dua tahun sejak diamanahi Danendra, datang orang tua dari Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang. Tak lama menyusul dari Desa Pagelaran, Kecamatan Ciomas. Keduanya masih di wilayah Kabupaten Bogor.

Ia heran darimana mereka tahu tentangnya. Brosur atau informasi resmi untuk menerima pendidikan anak berkebutuhan khusus tak pernah ia keluarkan. Belakangan dia tahu, informasi itu berkembang dari mulut ke mulut. Hingga sebanyak tujuh anak berkebutuhan khusus diamanahkan kepadanya.

Bunda Bety sadar, tujuh anak berkebutuhan khusus tak mungkin ia tangani sendiri. Ia memutuskan mengajak marbot masjid bernama Ade di kampungnya untuk membantu. Bukan tanpa halangan, ajakan itu sempat ditolak Ade. Bukan tidak mau, tapi lelaki asli Sukabumi, Jawa Barat itu ragu lantaran tak yakin dengan tawaran Bunda Bety.

"Nanti kita belajar bersama, saya yakin Kang Ade bisa. Asal sabar dan sayang dengan anak-anak," ujar dia menirukan ajakannya kepada Ade tujuh tahun silam. Ade pun mengiyakan ajakan Bunda Bety.

Rumah sederhana Bunda Bety kian sesak dengan murid-murid istimewa itu dan segala perlengkapannya. Namun, keadaan memaksa Bunda Bety dan Kang Ade menjalani apa yang ada. Keterbatasan itu dinikmati dengan segala syukur penuh bahagia. Pelan-pelan dan sabar, mereka terus merawat dan mendidik Danendra beserta kawan-kawannya.

"Saya hanya ingin memanusiakan manusia yang belum termanusiakan," katanya.

Hingga pada satu waktu, terbersit oleh keduanya untuk memiliki tempat belajar lebih layak dan memperbanyak tutor. Bunda Bety bercita-cita taman belajar yang dikelolanya bisa berkembang. Bukan hanya untuk anak berkebutuhan khusus, melainkan juga anak-anak Kampung Dahu, untuk belajar dan bermain yang mengedukasi. Sebuah cita-cita mulia.

Gayung bersambut. Harapan itu terjawab di 2014. PT Astra International Tbk membangunkan gedung Rumah Pintar Kita Astra Barengkok seluas 240 meter persegi melalui program corporate social responsibility (CSR). Gedung Rumah Pintar Kita Astra Barengkok adalah buah dari konsistensi, kesabaran dan ketulusan Bunda Bety mengabdi kepada masyarakat. Gedung itu kini berdiri megah dan kokoh, sekokoh tekad dan semangat anak-anak Rumah Pintar Barengkok menatap masa depan.

Head of Public Relations PT Astra International Tbk, Yulian Warman mengatakan, kepedulian dan dedikasi Bunda Bety terhadap dunia pendidikan tak perlu diragukan. Jalan yang ditempuh Bunda Bety senafas dengan Astra untuk senantiasa berkarya dan memberi manfaat bagi masyarakat. Bahkan, ia fokus untuk mendidik dan merawat anak-anak berkebutuhan khusus yang membuatnya berbeda dengan yang lain.

"Orang seperti Bunda Bety yang mau membantu orang seperti itu sangat jarang. Itu yang kita pasti support. Orang-orang yang mau berbakti untuk masyarakat," kata Yulian kepada Republika.co.id.

Prestasi

Belasan anak memasuki Rumah Pintar Kita Astra Barengkok saat matahari tepat di atas kepala. Mereka bergegas menuju buku yang tertata di rak-rak pojok kiri rumah. Seolah sudah tahu letaknya, beberapa di antara mereka dengan setengah berlari langsung mengarah ke tempat buku yang diinginkan. Anak-anak itu begitu riang dan antusias. Mereka sebagian besar masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Beberapa yang lain masih balita.

Mereka asyik belajar sembari bermain di atas meja dan kursi warna-warni. Raka (kelas 5 SD) membaca dongeng, Dika (kelas 6 SD) sedang membaca cerita bergambar dan Bilqis (kelas 4 SD) membaca komik-komik edukatif. Buku-buku itu menjadi favorit anak-anak. Mereka tampak senang belajar dan bercengkerama dengan teman-temannya. Sesekali mereka berteriak mengekspresikan yang dibacanya. Sementara yang masih balita, mereka bergelut dengan buku gambar dan crayon yang dipegangnya.

Di antara mereka semua, ada Azrin (19 tahun). Dia selalu mengawasi dan membantu anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Gadis berjilbab putih itu juga tampak sabar dan tanggap menghadapi permintaan belasan anak. Setiap pulang sekolah, Azrin yang duduk di kelas 3 SMA ini selalu menyempatkan untuk singgah di Rumah Pintar Kita Astra mengajar dan sekedar bermain dengan anak-anak di sana.

"Saya senang di sini. Hampir setiap pekan selalu ada kegiatan positif sama adik-adik. Saya juga ingin membantu Bunda (Bety), perjalanan Bunda sangat menginspirasi dan membuat saya semangat membantu mengajar adik-adik," ujar Azrin yang masih mengenakan seragam putih abu-abu.

Rumah Pintar Kita Astra Barengkok mempunyai beragam program. Mulai kelas istimewa, wisata baca, mendongeng, kelas menulis puisi, kelas menulis cerpen, kelas menggambar/melukis, kelas teater/pantomime dan kelas tari kreasi. Program-program itu konsisten terus dijalankan Bunda Bety dan beberapa sukarelawan di sana.

Dengan dibantu lima sukarelawan lainnya, Bunda Bety tak pernah berhenti mengabdi dan menginspirasi. Murid-muridnya semakin banyak dan terus bertambah setiap tahunnya. Bahkan, tak hanya anak-anak, ibu-ibu di Kampung Dahu juga meminjam buku ringan seperti resep masakan di sana. Ruangan yang kini memadai dan memungkinkan menampung banyak anak didik itu dimanfaatkan Bunda Bety menjalankan berbagai kegiatan dalam mendidik anak-anak.

Hasil memang tak pernah mengingkari usaha. Sejak menempati Rumah Pintar pada 2014, sederet prestasi didapat anak-anak Rumah Pintar Kita Astra Barengkok. Dari juara II Lomba Kolase Olimpiade Taman Baca Anak pada 2015, juara II lomba mendongeng Olimpiade Taman Baca Anak, juara Harapan I Pantomim dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasional tahun 2015, juara III Lomba Tulis Esai Sastra Piala Balai Bahasa pada 2016, juara I Lomba Menulis Cerpen SMP/SMA tahun 2016 hingga menyabet juara Apresiasi Astra Untuk Indonesia Cerdas (AUIC) di Balikpapan pada Mei 2017 lalu.

Selepas Bunda Bety mengajar anak berkebutuhan khusus, ia tak lantas duduk berpangku tangan. Dia terus mendampingi dan sesekali mendongeng. Siang itu, saat berbincang dengan Republika.co.id ia tiba-tiba memanggil serang bocah yang dikepang rambutnya dan sedang bermain puzzle di Rumah Pintar Kita Astra. Dipangkunya bocah bernama Zahra (5 tahun) itu. Ia memeluk Zahra dan mengusap kepalanya.

"Danendra, Raihan, Zahra dan mereka semua itu kan mutiara-mutiara kita. Mereka yang nanti akan meneruskan kita semua, memimpin bangsa ini," ujar Bunda Bety lirih.


Artikel Terkait
Bos Master Yang Jadi Master
Cuaca cerah siang itu. Ojek online yang mengantar saya ke kawasan Jatinegara Lio, Jakarta Timur itu ...
Baca Selengkapnya
Dampak Berganda dari Lab Komputer Mini
Dewis Akbar memadukan program gratisan dan peranti berharga murah untuk memberi kesempatan agar anak...
Baca Selengkapnya
Ratu Sampah dari Semper Barat, Mengelola Sampah Jadi Berkah
Suara wanita berjilbab ini terdengar bersemangat. Meski hari itu, wanita bernama Endang Susanty Sylv...
Baca Selengkapnya
IGA Wujudkan Mimpi Para Petani
Melalui program Income Generating Activity (IGA), 2.116 petani di Kalimantan Teng...
Baca Selengkapnya
IKUTI KAMI
Pastikan Anda selalu terhubung dengan media
sosial kami. #KitaSATUIndonesia