ARTIKEL TERBARU

Melindungi Anak-anak dengan Batik Bantengan
2018-03-06

"Tulisan ini merupakan karya pemenang Anugerah Pewarta Astra 2017, Reni Susanti - Anjani Sekar Arum - Juara 3 Kategori Wartawan"

Oleh: Reni Susanti, 31 December 2017
"Kalau membuat UMKM hanya memikirkan diri sendiri, menguntungkan diri sendiri buat apa? kita harus memikirkan anak-anak di Indonesia," ujar Anjani. Dengan tekadnya yang kuat, ia tidak hanya membawa batik bantengan ke luar negeri. Tapi dia berupaya keras melindungi anak-anak dari bahaya narkoba dan pergaulan bebas lewat batik.Kini anak-anak berprestasi itu bersiap menjadi desainer batik di masa depan.

Anjani Sekar Arum, Melindungi Anak-anak dengan Batik Bantengan

Sejumlah desainer cilik tengah membuat batik di Sanggar Batik Tulis Andhaka, Batu, Jawa Timur, awal Desember 2017.  
KOMPAS.com - Selembar kain bermotif bantengan terbentang di atas meja setinggi pinggang orang dewasa di Sanggar Andhaka, Batu, Jawa Timur. Batik tersebut dikelilingi tiga orang siswi SD dan seorang perempuan bernama Anjani Sekar Arum (26 tahun).
Di bawah bimbingan Anjani, ketiga anak ini menggoreskan kuas untuk mewarnai batik. Selama mewarnai mereka sesekali terlihat bersenda gurau atau mengobrol tentang batik yang tengah dibuatnya.
Tak berapa lama, kaki Anjani melangkah ke gazebo kecil yang berjarak sekitar dua meter dari meja tadi. Ia lalu memperhatikan sejumlah anak yang tengah duduk bersila dengan kain batik di atas kaki dan canting di tangan kanannya.
Dengan telaten, mereka memasukkan canting ke dalam lilin malam. Kemudian menggoreskannya di atas kain membentuk motif batik yang mereka inginkan. Sambil menggoda anak didiknya, Anjani mengarahkan cara mencanting.
Ia pun duduk di antara anak-anak tersebut, mengambil kain, dan menggoreskan canting membuat motif banteng di kainnya. Sekitar dua jam berlalu, Anjani memanggil seluruh anak didiknya berkumpul.
“Ada kabar bagus. Batik yang kalian buat disukai orang Taiwan, laku terjual. Aku mau bagikan uangnya (hasil jualan) sekarang. Dan tahun depan, kita diundang untuk ke sana (Taiwan),” ucap Anjani, awal Desember 2017.
Kebahagiaan terpancar dari wajah anak-anak tersebut. Mereka tersenyum dan berbincang dengan rekan-rekannya yang lain. Mereka tidak pernah membayangkan pergi naik pesawat dan tinggal di Taiwan beberapa pekan untuk mengajarkan anak-anak di sana membatik.
Sama halnya dengan batik yang dibuat Anjani, batik karya anak-anak ini sudah tembus ke beberapa negara di Asia dan Eropa. Keuntungan yang diperoleh terbilang besar. Karena batik tulis merupakan karya seni yang tidak ternilai harganya.
Otodidak
Keberhasilan Anjani di dunia batik tidak diperolehnya dengan mudah. Ia melalui jalan berliku untuk ada di posisinya saat ini.
Anjani memutuskan untuk menekuni batik saat masuk jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (UNM). Berbeda dengan sang ayah dan pamannya yang seorang pelukis, ia memilih kriya sebagai fokus pendidikannya.
“Di kriya banyak macamnya, ada keramik dan lainnya. Saya ngambil batik. Padahal di sana ga ada yang berani ambil batik karena tidak ada dosennya. Tapi yang namanya belajar tidak harus dari dosen,” tutur perempuan kelahiran Batu, 12 April 1991 ini menjelaskan.
Untuk mendapatkan ilmu batik, Anjani pergi belajar ke Yogyakarta dan Solo. Bahkan ia merogoh kocek Rp 6 juta untuk belajar teknik pewarnaan.
“Ada resep pewarnaan remasol dan napthol. Uang Rp 6 juta untuk satu resep pewarnaan saja dan aku hanya ikut satu karena mahal. Tapi saat belajar, aku ngintipin resep pewarnaan yang lain dan hapalin semua,” ungkapnya.
Begitu keluar ruangan, Anjani mencatat dan mempraktekannya di rumah. Percobaannya beberapa kali gagal dan mengorbankan lumayan banyak kain.
Saat itu ia belum memiliki sanggar. Semua dikerjakan di rumahnya, di Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur.
 “Pewarna batik itu kan lumayan bisa nempel di lantai. Jadi beres mewarnai, aku gosok (lantai dan bak kamar mandi). Besoknya warnai lagi, gosok lagi. Lumayan capek. Waktu itu aku bermimpi kapan punya sanggar batik,” ucap guru di SMPN 1 Batu ini menjelaskan.
Akhirnya ia berhasil dan bisa membuat batik, hingga membuat dosennya kaget. “Dosenku kaget aku bisa membatik. Hingga semester akhir aku mantap untuk mengangkat batik bantengan sebagai skripsiku. Tapi sesuatu terjadi,” katanya.
Saat itu, calon mertuanya sakit parah dan ingin melihat anaknya menikah dengan Anjani. Ia menyetujui pernikahan tersebut. Anjani menikah dengan Netra Amin Atmadi di depan jenazah sang mertua. Sebulan kemudian, Anjani hamil.
“Sempat stres aku. Lagi skripsi, tiba-tiba harus menikah, hamil, dan melahirkan. Saat itu penghasilan hanya dari suamiku, guru honorer di yayasan. Gajinya hanya Rp 1 juta per bulan. Gak cukup untuk biaya sehari-hari dan susu anakku. Kadang pengen nangis,” katanya.
Namun ia tidak ingin menyerah. Ia selesaikan skripsi bahkan menolak tawaran beasiswa S2 dan menjadi dosen. Ia memilih mengejar nazarnya (janjinya), menggelar pameran tunggal batik setelah lulus kuliah.
Di kehamilannya, ia terus membatik, sesekali dibantu ibu angkatnya, Lina Santoso. Ibunya ini pulalah yang meminta Anjani membuat merek sendiri, hingga tercipta “Anjani Batik Galeri”.
Di usia anaknya, Anandhaka Abyasa Gondokusumo, 6 bulan, Anjani berhasil mengumpulkan 48 karya. Ia lalu menggelar pameran tunggal yang dibuka Ketua Dekranasda sekaligus istri wali kota saat itu, Dewanti Rumpoko.
Batik Bantengan
Dalam peresmian, Dewanti melihat keunikan batik Anjani. Perempuan yang kini menjabat wali kota Batu tersebut menetapkan bantengan sebagai motif khas Batu.
“Bantengan itu  budaya Jawa Timur yang unik. Tapi ga ada orang yang mau menjamah. Kalau kita kemas akan membawa nama harum kota kita sendiri. Terbukti sekarang. Dulu bantengan hanya untuk karnaval 17 Agustus, sekarang diundang di India, Malaysia, Melbourne, dan lainnya,” tuturnya.
Anjani mulai memperhatikan bantengan sejak kelas 3 SMP saat mengerjakan tugas. Begitu SMA bahkan kuliah ia kerap mengangkat tema karya bantengan. Saking seringnya, saat duduk di bangku kuliah, dosen memanggilnya “Anjani Bantengan”.
Bantengan ini pula yang membawa namanya melambung. Pameran tunggalnya yang digelar tujuh hari sukses. Dari 48 batik yang dipamerkan hanya menyisakan enam batik. Ia pun menutup pameran dengan membawa uang Rp 32 juta.
Uang tersebut digunakan untuk membeli kain dan persiapan pameran di Praha, Ceko. Sebab beberapa bulan setelah pameran, Anjani diajak wali kota Batu saat itu, Eddy Rumpoko pameran di salah satu negara di Eropa Timur tersebut.
Di tengah rasa tak percayanya bisa ke luar negeri, Anjani melakukan persiapan singkat dan berhasil membuat 60 lembar batik yang habis terjual di Ceko. Dari Ceko ia membawa uang Rp 60 juta dan Rp 25 juta dari Pemkot Batu sebagai uang SPJ.
Uang itu ia gunakan untuk mengubah kandang ayam menjadi sanggarnya. Anjani juga membeli berbagai perlengkapan membatik, seiring dengan permintaan batik yang terus mengalir. Salah satunya sebagai souvenir Pemkot Batu.
Bukan hanya permintaan batik, ajakan pameran pun mengalir, namun Anjani kerap menolak dengan alasan sibuk. Padahal alasan sebenarnya, ia tidak memiliki produk untuk dipamerkan akibat keterbatasan SDM.
Saat kekurangan SDM, ia memutuskan untuk mendidik dua pekerja. Namun pekerja itu pergi dan memulai bisnis yang sama setelah mendapat ilmu batik dari Anjani.
“Penghasilan batik itu besar. Kamu bisa modal Rp 250.000 dan dijual Rp 1 juta. Mungkin mereka tergiur dengan itu,” ucapnya.
Ia tidak mematok harga batiknya. Harganya disesuaikan dengan pasarnya. Karena pasar Batu, berbeda dengan Jakarta, begitupun luar negeri. Apalagi ia menjadi pengusaha dengan tidak sengaja. Karena rupanya karya seni batik yang ia kagumi bisa dijual bukan hanya dipajang.
Pertemuan dengan Aliya
Pengalaman dengan dua pekerjanya membuat ia sadar tidak mudah mencari pembatik. Hingga suatu hari ia dipertemukan dengan Aliya Diza Rihadatulaisy, siswi SDN Sisir 1 Batu, 2015 lalu.
Aliya merupakan anak serba bisa. Suatu hari ia ingin belajar membatik, dan sekolah mengarahkan Aliya belajar pada Anjani.
“Waktu itu belum punya sanggar. Jadi aku dan Aliya membatik di teras rumah, sempit-sempitan sama motor. Terus mewarnainya di kamar mandi. Abis itu harus gosok kamar mandi agar pewarnanya ga nempel di kamar mandi,” ungkapnya.
Aliya belajar dengan cepat. Desain batik yang dibuatnya unik dan terkadang tidak terpikirkan oleh orang dewasa termasuk Anjani. Selain pandai membatik, Aliya pun mampu menjelaskan dengan baik makna dari batik yang dibuatnya.
Hal ini menarik minat teman-teman Aliya. Apalagi setelah batik yang didesain dan dibuat Aliya laku terjual. Termasuk ketika Aliya meraih peringkat empat di lomba Hari Anak Nasional 2016 dan mendapatkan penghargaan dari Presiden Jokowi.
Satu per satu teman Aliya ikut belajar batik ke Anjani. Sanggar pun menjadi ramai. Setiap pulang sekolah, mereka berkumpul di sanggar untuk membatik. Sejak saat itu, galeri Anjani memiliki cukup banyak batik dengan desain unik ciptaan anak-anak.
“Mereka suka membatik. Mereka menikmati membatik. Melihat semangat mereka, aku bertekad untuk mengelola mereka,” tuturnya.
Lahirkan Desainer Cilik
Anjani bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Batu untuk menyebarkan virus batik di tingkat SD-SMA di Batu. Karena tidak ada guru membatik, anak-anak didiknya-lah yang menjadi guru batik di sekolahnya masing-masing.
Begitupun anak didiknya yang masuk SMP. Mereka akan ditawarkan masuk sekolah yang dekat dengan rumahnya dan menjadi guru batik di sana.
“Selain belajar, mereka mendapatkan honor karena sekaligus mengajari batik di sekolahnya. Ditambah penghasilan dari batik yang mereka buat, sebulan ada yang dapat Rp 1 juta lebih,” tuturnya.
Saat ini, terdapat 283 anak dari 9 SD, SMP, SMA yang tercatat menekuni batik di sekolah. Dari jumlah itu, baru 30 siswa yang masuk sanggar. “Yang masuk sanggar yang profesional, mau mandiri, tahu mau buat apa. Karena mereka desainer batik,” katanya.
Anjani tidak memberatkan anak didiknya. Semua peralatan disediakan olehnya. Desainer cilik ini hanya perlu membeli bahan dari Anjani yang dibayar ketika kain batiknya laku terjual. Jika tidak laku, tidak usah membayar.
“Abis cair seperti sekarang, ditanya bon mu di sini berapa? Rp 150.000. Yang cair berapa dipotong Rp 150.000, saya ga ambil apa-apa lagi,” ucapnya.
Kalaupun ada pemotongan 10 persen dari batik yang terjual, itu untuk membayar pajak, membeli packaging, membayar penjaga galeri, dan mengganti peralatan yang rusak.
“Saya sendiri dapat apa? Saya senang karena galeri saya full dipenuhi produk anak-anak,” ungkapnya.
Anjani menceritakan alasan utama mengajak dan mendidik anak-anak membatik. Ia ingin menghindarkan anak-anak dari narkoba dan pergaulan bebas. Baginya, seseorang tidak boleh memikirkan diri sendiri. Mereka harus memikirkan keberlangsungan generasi penerus nanti.
Karena regenerasi itu penting. Di masa depan, anak-anak inilah yang akan meneruskan perjuangan mengembangkan batik dan menjaga budaya Indonesia ini.
Walaupun diakui Anjani, ia kerap stres dan tidak bisa tidur ketika bahan habis dan anak-anak sudah menyiapkan banyak desain.
“Aku ini bukan orang kaya, bukan pula pembatik besar. Ketika bahan habis aku ga bisa tidur semalaman. Kasian anak-anak. Besoknya tak gadaikan barang yang ada di rumah untuk beli bahan,” katanya.
Penuh Cinta
Dina Fristia (10), Renata Pratiwi Febriantina (10), dan Salsa Adila Ilianis (14) tengah asik mengobrol. Mereka membahas sekolah, liburan, batik, hingga rencana pergi ke Taiwan untuk pameran dan mengajarkan anak-anak di sana membatik tahun depan.
Ketika ditanya apa yang paling sulit dari membatik, mereka menjawab kesabaran. “Bu Anjani selalu menekankan kesabaran. Bu Anjani juga sabar mengajari kami. Dia itu rela berkorban buat kami,” ucap Salsa.
Salsa mengaku senang bisa belajar membatik dari Anjani. Karena Anjani mengajarkannya dengan penuh cinta. Ia pun terinspirasi olehnya dan ingin menjadi desainer batik yang sukses suatu hari nanti.
Sama halnya dengan Aliya, Salsa merupakan anak didik Anjani yang sukses. Ia tercatat sebagai juara 2 lomba membatik tingkat nasional dan mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Karyanya disukai konsumen dalam dan luar negeri.
Begitupun dengan Aliya. Anak didik Anjani yang meraih penghargaan Jokowi ini ingin menjadi desainer batik. “Saya ingin jadi desainer batik dan dosen matematika,” tutur siswa SD yang produknya sudah tembus sejumlah negara Eropa ini menjelaskan.
Penghargaan
Kerja keras Anjani mendapatkan penghargaan. Salah satunya pemenang Satu Indonesia Award 2017 dari PT Astra International, Tbk. Ia bersama tujuh pemuda lainnya terpilih dari 3.234 pemuda menginspirasi lainnya di Indonesia. Di ajang yang sama, Anjani mengantongi apresiasi favorit pilihan publik
Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto mengatakan, peraih Satu Indonesia Award, termasuk Anjani, memiliki kontribusi positif terhadap lingkungan sekitar tanpa memikirkan keuntungan pribadi yang akan diterimanya.
“Itu adalah wujud kunci utama dimana memberi kebahagiaan bagi orang lain, maka secara tidak langsung kebahagiaan akan mereka miliki,” tuturnya.
Karena itu, Astra mengapresiasi dan akan mendampingi pengembangan kegiatan mereka. Sebab tidak mudah menemukan mutiara bangsa yang terpendam di dalam lumpur. (reni susanti)
 


Artikel Terkait
Bos Master Yang Jadi Master
Cuaca cerah siang itu. Ojek online yang mengantar saya ke kawasan Jatinegara Lio, Jakarta Timur itu ...
Baca Selengkapnya
Dampak Berganda dari Lab Komputer Mini
Dewis Akbar memadukan program gratisan dan peranti berharga murah untuk memberi kesempatan agar anak...
Baca Selengkapnya
Ratu Sampah dari Semper Barat, Mengelola Sampah Jadi Berkah
Suara wanita berjilbab ini terdengar bersemangat. Meski hari itu, wanita bernama Endang Susanty Sylv...
Baca Selengkapnya
IGA Wujudkan Mimpi Para Petani
Melalui program Income Generating Activity (IGA), 2.116 petani di Kalimantan Teng...
Baca Selengkapnya
IKUTI KAMI
Pastikan Anda selalu terhubung dengan media
sosial kami. #KitaSATUIndonesia