ARTIKEL TERBARU

Demi Perpustakaan Rela Terusir dari Rumah
2018-04-03

"Tulisan ini merupakan karya pemenang Anugerah Pewarta Astra 2017, Edi Triono Jatmiko - Juara 2 Kategori Wartawan"


Eko Tjahyono adalah pemuda desa kreatif. Dia total dalam membantu masyarakat melalui buku. Obsesinya luar biasa, hingga dia berhasil mendirikan sebuah bangunan untuk perpustakaan. Dia juga rela meninggalkan rumah ketika orangtuanya memberikan dua pilihan: tetap di rumah tanpa buku-buku atau pergi dengan buku-bukunya itu. Eko memilih opsi kedua. Berkat kegigihannya, berbagai prestasi diraih. Namun yang lebih penting mampu menjadikan warga sekitar suka membaca. Bahkan dari membaca itu, beberapa warga terinspirasi hingga mampu berdaya secara ekonomi dan lainnya.


Eko Tjahyono, Pemuda Penuh Inspirasi
Demi Perpustakaan Rela Terusir dari Rumah 
            ‘Apa hakikat hidup kita, jika bukan untuk membuat hidup orang lain menjadi lebih mudah. Hidup normal itu membosankan, kita butuh sedikit gila!’ Begitulah prinsip Eko Tjahyono, pendiri sekaligus pengelola Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) asal Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Lantas seperti apa kiprah pemuda 37 tahun itu?
Munah, wanita usia 35 tahun itu nyaris menjadi janda. Ia hampir dicerai suaminya lantaran tidak mampu memberikan keturunan. Padahal berbagai cara sudah dilakukan agar bisa hamil dan mendapatkan momongan. Mulai bantuan medis hingga upaya alternatif. Namun semuanya nihil. Munah maupun sang suami sudah nyaris putus asa. Proses cerai pun berlangsung.
Dalam suasana galau Munah singgah ke Perpustakaan Anak Bangsa yang dikelola Eko Tjahyono, di Desa Sukopuro. Ia tertarik sebuah artikel tabloid yang sudah lusuh dan kusam. “Mas Eko, saya pinjam ini ya…?” ujar Eko menirukan ucapan Munah kala itu.
Eko pun mengiyakan tabloid tersebut berpindah tangan. Dan itu, seingat dia merupakan kali terakhir Munah berada di Perpustakaan Anak Bangsa, meski sebelumnya dia kerap datang. “Setelah itu saya tak tahu kabarnya. Saya juga tidak tahu nomor kontaknya. Memang Mbak Munah waktu itu sempat curhat dan berkeluh kesah soal rumah tangganya,” katanya.
Sekitar setahun lebih berlalu, Eko dikejutkan dengan sosok wanita dan seorang bocah di depan perpustakaannya. Bahkan wanita itu lebih dulu menyapa sang pengelola perpus. Namun Eko sama sekali lupa dengan sosok wanita yang tampak lebih modis. “Ini aku, Munah, Mas Eko,” ujarnya.
Eko pun masih mengingat-ingat nama tersebut. Dia baru benar-benar paham setelah mendapat penjelasan dari Munah. Mereka pun larut dalam suka duka. Munah lantas bercerita dari awal sampai tuntas, termasuk bercerita tentang sosok bocah laki-laki yang merupakan anaknya.
Ya, itu semua berkat membaca artikel tabloid tentang bagaimana proses wanita bisa hamil dan program apa saja yang harus dijalani. “Bacaan itu benar-benar menginspirasi saya. Saya sukses menjadi seorang ibu. Waktu itu suami sudah hampir menjatuhkan talak,” tutur Munah.
Selama pindah ke Solo, Munah sangat rajin membaca dan menerapkan ilmu yang diperolehnya dari tabloid. “Mbak Munah itu salah satu pelanggan setia perpus saya. Rupanya dia sangat disiplin, tekun dan menerapkan program yang didapatnya dari tabloid. Alhamdulillah, ternyata bisa hamil dan punya anak,” katanya.
Eko yang merupakan pengagum penulis mancanegara Dan Brown, John Grisham dan Khaled Hossaini, mengaku ikut senang, bangga, sekaligus terenyuh. Sebab tabloid, majalah, buku atau bacaan, ternyata bermanfaat dan menginspirasi siapa saja yang membacanya. Termasuk yang dilakukan Munah, dari membaca berbuah kesuksesan.
Ya, PAB terbukti mampu memberikan kemajuan pada warga sekitar. Pipit, salah satu dari sekitar 9.000 anggota perpus, menyatakan, dirinya suka membaca buku di PAB karena referensinya banyak. “Koleksinya lebih baru dan bervariasi,” ujarnya, yang menjadi anggota sejak 2007.
Ada juga Muli’ah (47), pembaca setia, dan Siti Sulinah (43), salah satu warga Sukopuro, yang berhasil mengembangkan usaha jahitnya menjadi butik. Sulinah juga mendapat inspirasi dari membaca. Berbagai model pakaian yang ada di Majalah Femina dikembangkannya.
Malah di depan usaha butiknya ada juga pojok baca. Sebuah tempat membaca, salah satu bangian pengembangan perpus. “Perpus ini sangat membantu. Ide-ide, pengetahuan dan lain-lain yang saya dapatkan, terinspirasi dari membaca,” ujar wanita berputra dua itu.
 
Bermodal Cinta Membaca
Perjuangan Eko ikut andi mencerdaskan anak negeri ini melalui budaya baca, literasi atau perpustakaan, belum berakhir. Meski kini perpusnya memiliki tempat permanen, tetapi dia masih terus berusaha dan berjuang agar letak perpus lebih banyak diketahui orang.
Posisi perpus ada di belakang sebuah rumah yang dikontraknya. Mereka yang hendak ke perpus harus lewat samping dan memasuki lorong sempit. Begitu masuk, siapa pun akan terperangah melihat koleksi buku hingga majalah yang begitu banyak.
Bangunan itu berukuran 6x12 meter dan tanpa ada sekat. Hanya rak-rak yang menjadi penyekatnya. Di dalamnya, puluhan ribu buku, majalah dan beragam bacaan, berjajar rapi. Ada pula seperangkat meja dan kursi di bagian tengah.
Mungkin untuk perpus independen di Indonesia, tidak ada yang sebesar milik Eko. Belum ada yang koleksinya sebanyak itu. “Saya juga memiliki buku terbesar di Indonesia,” ujar Eko, sambil mengambil sebuah buku yang lantas membukanya memanjang.
Capaian itu tidak serta merta mudah digapai. Sekitar 19 tahun silam, tepatnya 1998, PAB didirikan Eko Tjahyono. Bermodalkan semangat dan kecintaannya membaca buku, usaha itu dirintis di halaman rumahnya di Desa Sukopuro.
Awalnya, dia memancing warga sekitarnya singgah sekadar membaca berbagai macam majalah dan koran bekas. Lama-lama masyarakat yang datang dan membaca makin banyak. Mulai ibu rumah tangga, petani, pemuda, termasuk anak-anak. Permintaan koleksi bacaan bermunculan. Karena harga buku yang relatif mahal, Eko mencari cara dalam menambah koleksi; yakni meminta sumbangan buku.
Dia lantas meminta buku ke pecinta buku, secara door to door  hingga menunggu berjam-jam di depan toko buku. “Barangkali ada orang yang bersedia menyumbangkan buku yang dibeli atau koleksinya yang di rumah. Ya, harus banyak triklah,” ujarnya.
Lama-lama banyak warga yang datang ke rumahnya, dan suasana rumah pun semakin ramai. Ternyata hal itu membuat orangtuanya merasa terganggu. Akibatnya, Eko pun diberi pilihan oleh kedua orangtuanya, Supeno (ayah) dan Ponisah (ibu), yakni menutup perpustakaan atau pergi meninggalkan rumah.
“Itu terjadi sekitar tahun 2000. Tapi karena banyak masyarakat antusias, saya memilih pergi dari rumah. Saya lantas mengontrak rumah dari hasil menjual satu-satunya sepeda motor. Pokoknya perpustakaan harus terus berjalan,” kenang pemuda kelahiran Malang, 28 Maret 1980 itu.
Keberadaan perpus pun praktis mengikuti di mana dia mengontrak rumah. Dia nomaden. Terus berpindah-pindah tempat. Setidaknya, sembilan kali perpustakaan itu berpindah. Bahkan, tahun 2007 karena tidak ada dana, dan masa kontrak rumah habis, perpustakaan terpaksa dipindah di samping kuburan.
Koleksi bukunya terus bertambah hingga mencapai sekitar 54.000, yang tersebar ke beberapa taman bacaan atau gubuk baca. “Yang di sini ada sekitar 25 ribu buku, yang separo lebih saya sebar ke perpus teman-teman, sudut baca, gubuk baca dan lain-lain,” kata bungsu dari tiga bersaudara itu.
Selain tak berpintu dan terbuka selama 24 jam, perpus ini membuat aturan berbeda dari perpustakaan umumnya. Anggota yang meminjam buku tidak dikenakan beaya alias gratis. “Tidak ada batasan waktu peminjaman. Denda telat pengembalian buku tidak ada, karena memang tidak berbatas waktu,” lanjut lulusan SMAN 1 Tumpang itu.
            Kendati begitu, Eko yakin buku-buku itu tidak pernah hilang dan pasti kembali. Meskipun bisa bertahun-tahun kemudian. “Masyarakat sudah hafal nomor anggotanya. Jadi kalau mau pinjam, bisa ambil dan isi daftar sendiri,” tutur pengagum penulis lokal Langit Kresna Hariadi, Mira W, dan Andrei Aksana. (Edi T. Jatmiko)
 
Kiprahnya Makin ‘Menggila’
Eko adalah salah satu penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia tahun 2012. Bahkan kiprahnya di dunia sosial dan perpustakaan semakin ‘menggila’. “Malah setelah menerima apresiasi SATU Indonesia Awards dari Astra, saya makin banyak teman dan ide. Semangat makin menyala-nyala sampai kapan pun,” katanya.
SATU Indonesia Awards merupakan apresiasi bagi individu generasi muda, dengan usia maksimal 35 tahun. Calon penerima harus berkarya dan mampu memberikan manfaat berkesinambungan, setidaknya selama dua tahun bagi masyarakat sekitar dalam lima bidang yakni pendidikan, lingkungan, usaha kecil menengah (UKM), kesehatan hingga teknologi. 
Nyatanya, Eko masih eksis, terus berjuang dan mengembangkan diri. Tidak mandek setelah menerima apresiasi. Justru dia kian termotivasi. Apalagi tahun 2017 ini tepat ke-60 tahun perayaan HUT PT Astra International Tbk. Langkah Eko mengarungi dunia sosial melalui perpustakaan dan literasi, menginspirasi warga yang lain. Kiprahnya layak menjadi teladan, khususnya kaum muda.
Dia juga berambisi ingin membuat seribu perpustakaan lagi. Eko sama sekali tidak menolak mendapatkan sumbangan buku atau majalah. “Kami masih mau menerima bantuan buku. Dengan jenis dan kondisi apa pun tak masalah. Nomor HP saya tolong dicantumkan, supaya yang mau nyumbang bisa menghubungi saya,” kata Eko sembari menyodorkan nomor kontak 085646455384.
Tiga tahun setelah menerima penghargaan, tepatnya 2015, pihak PT Astra International Tbk berkunjung ke perpustakaan milik Eko di Desa Sukopuro. “Saya sangat senang PT Astra menyempatkan berkunjung ke perpustakaan kami. Biar mereka tahu kondisinya,” tutur Eko.
Bahwa PAB bukan sekadar tempat membaca buku-buku atau majalah. Lebih dari itu juga menjadi sarana bermain bagi anak-anak dan kegiatan seni atau keterampilan seperti menggambar, mewarnai hingga sharing komunitas remaja dan ibu-ibu. Atau kadang membahas resep masakan, resep obat tradisional dan juga tema-tema remaja lainnya.
Dalam kunjungan itu pihak Astra memberikan bantuan berupa lima rak dan tiga gulungan sampul buku sebagai pelengkap perpustakaan. Juga diberikan peralatan tulis-menulis untuk 60 anak yatim piatu dari tiga SD di wilayah Sukopuro.
Kini di tahun 2017, program tahunan PT Astra International Tbk semakin eksis dan menggelinding mengikuti tuntutan zaman. Dengan mengangkat tema Perjalanan Penuh Inspirasi yang menitikberatkan pada perjalanan 60 tahun Astra dalam menginspirasi negeri. Peluncuran kedua even berlangsung di Candi Bentar Convention Hall, Putri Duyung Ancol, Jakarta (23/8/2017).
            Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Prijono Sugiarto, menyatakan, selama hampir 60 tahun, kegiatan bisnis Astra tidak terlepas dari lingkungan dan masyarakat sekitar. “Perusahaan tidak melulu mengejar keuntungan, namun juga harus berkelanjutan, sejalan dengan filosofi kami yakni Catur Dharma,” ujarnya.
Prinsipnya, di mana pun Astra berada, maka di situ harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Itu sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Dharma, yakani Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara. Kiprah Eko tampaknya selaras dengan butir pertama itu. (edt)
 
Biodata:
Nama             : Eko Tjahyono
TTL                  : Malang 28 Maret 1980
Alamat           : Jl Ahmad Yani, RT 26/RW 07 Desa Sukopuro, Kec Jabung, Kab Malang, 65155
Pendidikan   : SMAN 1 Tumpang
Anak ke         : 3 dari 3 bersaudara
Aktivitas        : Pendiri & Pengelola Perpustakaan Anak Bangsa
No Kontak    : 085646455384
Email              : e.cahyono8028@yahoo.co.id
 
Hobi               : Membaca, olahraga, donor darah, membakar sampah
Cita-cita         : Atlet bulutangkis
Buku Favorit            : The Da Vinci Code, karya Dan Brown
 
Prestasi :
1 . Mutiara Bangsa 2010
2 . Kick Andy Heroes 2010
3 . Nugra Jasadharma Pustaloka 2010
4 . Lelaki Sejati Pengobar Inspirasi 2010
5. TBM Kreatif Rekreatif Kemendiknas 2011
6 . SATU Indonesia Awards 2012
7 . Pasiad Awards 2012
8 . Pendidik Inspiratif 2015, dll
 
Penulis Favorit :
Dari Indonesia         : Langit Kresna Hariadi, Mira W, Andrei Aksana
Dari luar negeri       : Dan Brown, John Grisham, Khaled Hossaini.
Nama Ayah             : Supeno
Nama Ibu                : Ponisah
Hal yang dibenci     : Jam Karet (tidak tepat waktu)
 


Artikel Terkait
Bos Master Yang Jadi Master
Cuaca cerah siang itu. Ojek online yang mengantar saya ke kawasan Jatinegara Lio, Jakarta Timur itu ...
Baca Selengkapnya
Dampak Berganda dari Lab Komputer Mini
Dewis Akbar memadukan program gratisan dan peranti berharga murah untuk memberi kesempatan agar anak...
Baca Selengkapnya
Ratu Sampah dari Semper Barat, Mengelola Sampah Jadi Berkah
Suara wanita berjilbab ini terdengar bersemangat. Meski hari itu, wanita bernama Endang Susanty Sylv...
Baca Selengkapnya
IGA Wujudkan Mimpi Para Petani
Melalui program Income Generating Activity (IGA), 2.116 petani di Kalimantan Teng...
Baca Selengkapnya
IKUTI KAMI
Pastikan Anda selalu terhubung dengan media
sosial kami. #KitaSATUIndonesia