ARTIKEL TERBARU

Memetik Asa dari Manisnya Gula Kelapa
2018-03-06

"Tulisan ini merupakan karya pemenang Anugerah Pewarta Astra 2017, Puji Purwanto - Juara 1 Kategori Wartawan"

Memetik Asa dari Manisnya Gula Kelapa
 

SEMERBAK bau khas gula kelapa menusuk hidung ketika menyusuri jalan Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah. Di desa itu, mayoritas warganya bekerja sebagai petani gula kelapa.
 

Tidak sulit mendapati rumah warga yang memproduksi gula kelapa. Begitu pula ketika menuju rumah produksi Gula Semut Banyumas "Semedo Manise" yang berada di wilayah RT 5 RW 5. Meskipun terdapat beberapa persimpangan, di sepanjang jalan desa telah diberi papan petunjuk mengarahkan ke rumah produksi gula semut yang berada di tepi jalan desa.
 

Sesampainya di rumah produksi yang berukuran 5x6 meter persegi itu, terlihat dua perempuan berseragam sibuk menyortir gula semut atau gula kelapa serbuk yang di setor dari petani gula, sedangkan satu perempuan lain sedang mengayak dan mengoven gula.
 

Penyortiran dan pengayakan sangat penting supaya gula semut tidak tercampur dengan kotoran maupun logam berat dari wajan. "Fungsi kontrol sangat penting sebelum gula semut dikirim ke pengekspor untuk dipasarkan ke berbagai negara," kata Ketua Kelompok Gula Semut Manggar Jaya Desa Semedo, Akhmad Sobirin ketika ditemui sedang membantu para pekerja di rumah produksi gula semut akhir Oktober lalu.
 

Akhmad Sobirin merupakan salah satu pemuda Desa Semedo yang tergerak membangun kemandirian ekonomi para petani gula. Ia merasa terpanggil turut memberdayakan petani gula, karena setiap pulang kampung dari perantauan ia kerap mendengar keluh kesah para petani gula, terutama tentang masalah harga.


Gula kelapa petani selalu dihargai rendah oleh tengkulak karena menggunakan sistem ijon. Keterbatasan akses pemasaran, informasi pasar membuat mereka terjebak pada lingkaran tengkulak. Ini telah dialami para petani selama bertahun-tahun.


Harga gula kelapa cetak milik petani pada waktu itu atau sekitar 2011 berkisar Rp 5.000 per kilogram. Adapun kapasitas produksi masing-masing petani antara 5-10 kilogram per hari. Artinya, pendapatan harian mereka berkisar Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per kilogram.


Padahal, tidak sedikit petani gula yang tidak memiliki pohon sendiri, tetapi menderes pohon milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Bagi hasil yang diberikan, lima hari produksi untuk pemilik pohon dan lima hari produksi untuk penderes. Dengan perhitungan itu, tercermin kehidupan para petani jauh dari sejahtera.


Kondisi ini makin miris ketika diantara para penderes ada yang mengalami kecelakaan kerja (jatuh dari pohon kelapa). Kecelakaan ini membuat penderes cacat fisik, bahkan meninggal dunia. Padahal, mayoritas petani gula kala itu tidak memiliki perlindungan jaminan asuransi kecelakaan kerja.

"Ini yang membuat saya prihatin dan memilih keluar dari perusahaan, kemudian berikhtiar memberdayakan para petani gula agar mereka dapat mandiri," kata Sobirin.


Mengenalkan Gula Semut
 

Ia kemudian belajar tentang cara memproduksi gula semut, pola pembinaannya serta bagaimana memanajemen kelembagaan kelompok melalui internet. Setelah menguasai materi, Akhmad Sobirin mengumpulkan 20 petani gula kelapa untuk mengenalkan gula semut hingga mengajak mereka beralih memproduksi gula semut.


Pertemuan ini terus dilanjutkan dengan menyisipkan pada forum arisan dan pertemuan RT. Kebetulan orang tua Sobirin menjabat ketua RT, sehingga ia mudah masuk ke forum tersebut untuk mengenalkan proses pembuatan gula semut.
 

Dari pertemuan-pertemuan itu, kemudian para petani gula diarahkan membentuk kelompok. Namun, responsnya negatif. Kebanyakan petani gula tidak memedulikan rencana pembentukan kelompok, bahkan sebagian mereka mencemooh.


Inilah yang menjadi tantangan Akhmad Sobirin karena petani tidak butuh konsep dan teori tapi bukti. Tantangan ini juga menjadi pelecut sekaligus motivasi untuk bekerja keras dalam memberdayakan para petani gula.
 

Pria yang pernah menjadi juara 1 Pemuda Pelopor tingkat Provinsi Jawa Tengah, rutin melakukan pendekatan secara individu kepada petani, serta mengajak saudaranya yang bekerja sebagai petani gula untuk bergabung dalam kelompok.
 

Pendekatan personal ini nampaknya mampu menyakinkan sejumlah petani gula. Pada Juni 2012 resmi dibentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Gula Semut Manggar Jaya. Pembentukan kelompok agar pendampingan dan pembinaan kepada para petani dapat berjalan efektif, serta sebagai sarana tukar pikiran dan diskusi antarpetani gula kelapa.


"Sebelum berkelompok hanya beberapa petani gula saja yang memproduksi gula semut. Namun, setelah berkelompok lebih masif lagi," katanya.
 

Meskipun mampu memproduksi gula semut, hal pertama yang menjadi perhatian Akhmad Sobirin dalam memberdayakan petani gula kelapa ialah meningkatkan kualitas produk. Ini menjadi kendala internal karena kala itu gula yang dibuat petani belum standar, bahkan mereka masih nyaman menggunakan pengawet kimia.


Penggunaan pengawet kimia seperti natrium bisulfit sebenarnya mempunyai efek korosi yang keras bahkan terhadap logam. Ini dapat membahayakan konsumen, serta tidak layak jual di pasar ekspor.

Untuk itulah, dalam pembuatan gula semut Sobirin melarang petani menggunakan bahan pengawet, namun diedukasi menggunakan larutan organik. Formulasi larutan pengeras dan pengawet gula semut organik dari bahan alami antara lain, air kapur, daun sirih dan kulit manggis.
 

"Saya butuh waktu satu tahun membentuk kelompok untuk kesejahteraan bersama. Tantangan paling sulit bukan cara membuat gula semut, tapi merubah pola pikir petani gula," katanya.
 

Dengan ketekunan dan kesabaran dalam membina kelompok, lambat laun membuahkan hasil. Para petani telah menghasilkan produk gula semut dengan kualitas baik. Ia juga mendorong para petani gula menerapkan dapur bersih.
 

Sebelumnya mereka menempatkan kayu bakar di dapur mengunakan rak tepat di atas wajan, sehingga kotorannya rentan jatuh tercampur pada adonan saat pemasakan gula kelapa. Sekarang, kayu bakar sudah ditaruh di luar dapur.
 

Edukasi secara berkelanjutan ini membuat para petani mulai menyadari pentingnya menjaga kualitas produk dengan membangun dapur keramik dengan dana swadaya. Untuk mempertahankan mutu kualitas produk juga terus dilaksanakan dengan mekanisme Internal Control System (ICS).
 

Pada 2013, para petani difasilitasi mendapatkan sertifikasi organik oleh pengekspor. Penyertifikatan ini terus berlanjut. Sertifikat organik penting karena produk gula semut yang diproduksi petani Desa Semedo dijual ke pasar ekspor.
 

Saat ini, hasil produksi gula semut di Kelompok Manggar Jaya dalam sebulan mencapai 20 ton, sedangkan jumlah anggotanya 138 petani. Harga gula semut di tingkat petani saat ini Rp 14.000 per kilogram atau lebih tinggi Rp 6.000 per kilogram dari gula kelapa cetak.
 

Hasil produksi itu 98 persen dipasarkan ke mancanegara, seperti negara-negara Eropa, India dan Amerika Serikat melalui pengekspor, sedangkan 2 persen dipasarkan ke toko ritel. Gula semut yang dipasarkan ke toko ritel dikemas menarik menggunakan merek "Semedo Manise" dengan ukuran mulai dari 100 gram, 250 gram dan 500 gram.
 

Keuntungan penjualan gula milik petani dipotong Rp 200 per kilogram untuk kelompok. Uang tersebut sebagai dana sosial yang dimanfaatkan untuk membayar iuran program jaminan kecelakaan kerja dan kematian di BPJS Ketenagakerjaan, serta membantu anggota kelompok yang sedang sakit.
 

Sekarang usaha kelompok sudah berjalan lancar. Petani juga memiliki nilai tawar dan telah menggusur praktik sistem ijon, serta monopoli harga dari tengkulak yang cenderung merugikan petani.
 

Bahkan, melalui kelompok para petani gula mampu mengakses modal usaha dari lembaga keuangan formal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Saat ini kelompok mampu mengakses pinjaman sebesar Rp 500 juta dan masing-masing anggota dapat meminjam modal maksimal Rp 25 juta tanpa agunan.
 

"Sekarang para petani gula sudah bebas dari tengkulak dan mandiri. Pendapatan mereka meningkat. Angsuran pinjaman bank juga lancar tidak ada petani yang menunggak," ujar Sobirin yang juga menjadi penyuluh swadaya pertanian di Banyumas.
 

Setelah mandiri, Akhmad Sobirin mengedukasi pentingnya penerapan manajemen keuangan keluarga. Para petani diajak bijak menggunakan pendapatannya untuk kebutuhan keluarga, menabung maupun menambah modal usaha.
 

"Kami mengarahkan agar mereka tidak konsumtif. Mereka harus bisa mengalokasikan uangnya untuk keperluan penting, seperti pendidikan anak dan modal usaha," katanya menjelaskan.
 

Petani gula Desa Semedo, Rohyati (45) yang ditemui secara terpisah, mengaku sebelumnya petani gula kurang sejahtera. Namun, setelah bergabung dengan kelompok dan memproduksi gula semut lambat laun merasakan manfaatnya, salah satunya pendapatannya meningkat.
 

"Dulu kami tidak bisa menabung karena hasil penjualan gula habis untuk kebutuhan keluarga, tapi sekarang saya bisa menabung Rp 100.000 per bulan melalui kelompok," tuturnya.
 

Petani gula lainnya, Sakrun (51) menambahkan, petani terbantu setelah dibentuk kelompok dan beralih memproduksi gula semut. Manfaat yang dirasakan para penderes ialah rutin mendapat informasi dan pengetahuan baru yang bertujuan untuk mendorong peningkatan kualitas dan kesejahteraan hidup mereka.
 

Di samping itu, harga gula semut lebih tinggi daripada gula cetak, petani memiliki nilai tawar, kelompok dapat memfasilitasi dana simpan pinjam, serta para anggota diikutsertakan program jaminan sosial tenaga kerja. "Dengan adanya kelompok ini, petani menjadi mandiri dan telah dilindungi oleh asuransi," katanya.

 

Perkembangan kelompok yang begitu pesat dalam memandirikan wirausaha petani gula mendapat respons positif dari Pemerintah Kabupaten Banyumas maupun Provinsi Jawa Tengah. Bantuan peralatan pendukung produksi gula semut dan pelatihan serta pembinaan kepada petani gula terus mengalir.
 

Pembinaan yang diberikan Pemprov Jateng, misalnya cara pembuatan pupuk organik, pembasmian hama serta diversifikasi produk gula semut dari rasa original menjadi varian rasa, seperti rasa jahe, kunyit, daun sirsak dan rempah-rempah.
 

Menuju Pertanian Terpadu
 

Tak hanya itu, kelompok juga mengembangkan pembuatan piring dari anyaman lidi, produksi virgin coconut oil (VCO) atau minyak kelapa, serta peternakan sapi dan kambing. Peternakan ini menjadi sesuatu yang tak terpisahkan untuk mendukung produksi gula semut, karena kotoran dan limbah peternakan dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
 

"Kami menuju pertanian terpadu dengan mengombinasikan produk gula semut, produk turunan serta peternakan untuk menciptakan peluang usaha lain. Dengan demikian dapat menciptakan pekerjaan, sehingga mampu mengentaskan kemiskinan," ujar Sobirin.
 

Dia menambahkan, melalui peternakan kambing, kelompok dapat memberikan jaminan hari tua kepada para anggotanya yang sudah tidak mampu menderes. Caranya dengan bagi hasil sistem pemeliharaan ternak kambing.
 

"Jadi meskipun petani tidak lagi menderes, ia masih memiliki pendapatan melalui beternak kambing," katanya.


Sementara itu, peralihan pembuatan gula kelapa cetak tradisional ke gula semut oleh petani yang tergabung dalam Kelompok Manggar Jaya secara langsung telah mempengaruhi perilaku petani lain yang tidak tergabung dalam kelompok.
 

Mereka beramai-ramai beralih memproduksi gula semut. Apalagi ada perusahaan yang menawarkan kemitraan dengan petani dalam pemasaran. Saat ini hampir seluruh petani gula di Desa Semedo memproduksi gula semut dan meninggalkan gula cetak tradisional.
 

Pemerintah Desa Semedo mencatat, warga yang memproduksi gula semut terdapat 700 kepala keluarga (KK) dengan volume produksi mencapai 3-4 ton per hari. Adapun jumlah KK di desa yang sering disebut Negeri di Atas Angin ini sebanyak 1.600 KK dengan jumlah penduduk 5.494 jiwa.


Sekretaris Desa Semedo, Nasirin Panca Kurnia, mengatakan, pembuatan gula semut telah membuat pendapatan perkapita petani gula Desa Semedo meningkat 20 persen. Ini juga menjadi salah satu pemicu dalam menurunkan angka kemiskinan yang sebelumnya mencapai 70 persen, kini menjadi 30 persen.


Bahkan, sebagian pemuda yang sebelumnya merantau kini memilih pulang kampung dan berkarya di desa sendiri. "Banyak perubahan setelah petani beralih membuat gula semut. Kami juga akan mengumpulkan para pemuda untuk memahami potensi lokal," ujar dia.


Kiprah Akhmad Sobirin dalam memberdayakan para petani gula menjadi petani mandiri dan sejahtera tanpa ketergantungan tengkulak, telah membawanya meraih berbagai penghargaan baik tingkat kabupaten, regional maupun nasional.


Pada tingkat regional, ia terpilih menjadi Pemuda Pelopor tingkat Provinsi Jawa Tengah, sedangkan pada tingkat nasional ia mendapat penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (Satu Indonesia) Awards 2016.


Sobirin tidak menyangka dapat meraih penghargaan bergengsi tersebut. Pada 2015, ia mengaku didaftarkan mengikuti Satu Indonesia Awards oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah namun tidak terpilih. Kemudian, pada 2016 ia mendapat kesempatan lagi untuk mengikuti Satu Indonesia Awards dan terpilih sebagai pemenang bidang kewirausahaan.


Penghargaan dari Astra menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kelompok usahanya dalam rangka pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perekonomian desa. Sobirin dan anggotanya kini mulai merencanakan edukasi kepada generasi muda agar mereka bangga terhadap produk gula semut Desa Semedo, karena potensi ini tidak akan berkembang ketika tidak ada regenerasi.


Selain itu, cita-cita besar yang ingin dicapai kelompok ialah menjadikan Desa Semedo sebagai wisata pertanian organik. Melalui wisata pertanian organik para wisatawan dapat melihat secara langsung proses pembuatan gula semut, pola pertanian dan peternakan terpadu hingga menikmati kedamaian alam Desa Semedo pada malam hari.


Adapun langkah menuju wisata pertanian organik, kini pengurus kelompok mulai menginventarisasi semua produk pertanian dan jenis ternak yang dapat dikembangkan di Desa Semedo, kemudian akan mengajukan sertifikat organik secara bertahap untuk pertaniannya.


Sobirin juga akan menggandeng pihak-pihak terkait untuk membantu dari segi permodalan, kebijakan dan ide keilmuan, menyiapkan sumber daya manusia, serta melakukan promosi secara masif dengan melibatkan anak muda Desa Semedo. Upaya Sobirin bersama anggota kelompok untuk membawa perubahan dan harapan baru bagi masyarakat di desanya menuju kehidupan lebih baik dari manisnya gula kelapa. (Puji Purwanto-)


 

http://www.suaramerdeka.com/news/detail/6699/Memetik-Asa-dari-Manisnya-Gula-Kelapa


Artikel Terkait
Bos Master Yang Jadi Master
Cuaca cerah siang itu. Ojek online yang mengantar saya ke kawasan Jatinegara Lio, Jakarta Timur itu ...
Baca Selengkapnya
Dampak Berganda dari Lab Komputer Mini
Dewis Akbar memadukan program gratisan dan peranti berharga murah untuk memberi kesempatan agar anak...
Baca Selengkapnya
Ratu Sampah dari Semper Barat, Mengelola Sampah Jadi Berkah
Suara wanita berjilbab ini terdengar bersemangat. Meski hari itu, wanita bernama Endang Susanty Sylv...
Baca Selengkapnya
IGA Wujudkan Mimpi Para Petani
Melalui program Income Generating Activity (IGA), 2.116 petani di Kalimantan Teng...
Baca Selengkapnya
IKUTI KAMI
Pastikan Anda selalu terhubung dengan media
sosial kami. #KitaSATUIndonesia