ARTIKEL TERBARU

Kisah Pengabdian Perempuan Dari Teluk Belengkong
2018-01-25

Riau, cukup terkenal dengan lahan gambutnya yang subur, serta perkebunan kelapa yang terbentang luas. Begitu pun di Kecamatan Teluk Belengkong, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Namun, cerita yang datang dari Riau kali ini bukan tentang keindahan bentang alamnya, melainkan kisah seorang bidan yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menyelamatkan para ibu hamil dan bayi yang akan dilahirkannya. Tak hanya itu, wanita yang dikenal ringan tangan ini pun mencoba mengabdikan dirinya untuk membantu para lansia agar hidup sehat secara mandiri.

Sebut saja Rosmiati. Wanita kelahiran tahuh 1984 ini memperoleh apresiasi SATU Indonesia Awards (SIA) di bidang kesehatan dari PT Astra International Tbk pada tahun 2012. Penghargaan ini merupakan salah satu buah manis yang ia petik atas pengabdiannya sejak tahun 2008 untuk Desa Tunggal Rahayu Jaya, sebuah daerah terpencil di Kecamatan Teluk Belengkong.

Dia adalah satu di antara 17.031 jiwa orang yang mendiami Kecamatan Teluk Belengkong. Namun, dia bukan penduduk biasa dan menjalani rutinitasnya setiap hari. Rosmiati menerjunkan diri ke dunia kesehatan dengan tulus hanya untuk mengabdi kepada masyarakat dan negeri.

Tekadnya yang bulat itu berawal setelah alumni Akademi Kebidanan Lenggogeni, Padang, Sumatera Barat ini, melihat kejadian memilukan di desanya. Minimnya tenaga dan fasilitas kesehatan menyebabkan frekuensi kematian ibu hamil cukup sering terjadi di sana.

Perempuan yang akan melahirkan bayinya dan perlu dirujuk ke sebuah rumah sakit di Indragiri Hilir, sekitar 1 jam perjalanan dari Teluk Belengkong, harus melakukan perjalanan dengan evakuasi manual, yaitu dengan perahu.

Ironisnya, karena medan yang cukup sulit, banyak wanita meninggal saat evakuasi menuju rumah sakit yang notabene ‘terdekat’ itu. Minimnya tabungan keluarga untuk persalinan menjadi kendala tambahan ketika hendak melakukan proses persalinan.

Lilin Kecil di Tengah Gulita

Seperti kata penjuang emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini, “Habis gelap, terbitlah terang”. ketulusan dan keprihatinan yang dirasakan Rosmiati membawanya pada sebuah misi penyelamatan.

Pada tahun 2008, ia mulai mengajak warga untuk menjalankan program yang dirintisnya, bernama Tabungan Ibu Bersalin. Selain itu, seluruh warga diajak pula untuk mengeksekusi program Dana Sehat agar mereka dapat memenuhi kebutuhan berobat ketika sedang sakit dan butuh dirujuk. Proses memang tak seindah hasilnya, warga sempat enggan melakukannya. Hal ini karena keterbatasan penghasilan yang mereka miliki, sehingga memengaruhi mindset mereka bahwa kesehatan bukanlah prioritas.

“Mengubah pola pikir itulah yang tidak mudah. Saya selalu bekerja pada ranah kognisi. Karena saya ingin mereka berpikir bahwa kesehatan itu, ya, datangnya dari diri sendiri,” tuturnya saat dihubungi pada Kamis (3/8).

Rosmiati melakukan tugas mulia itu sepenuh hati. Bahkan, tak jarang ia enggan dibayar untuk bantuan proses persalinan jika pasiennya berasal dari keluarga kurang mampu. Hari demi hari, sosialisasi ke tetangga dan bantuan terhadap ibu hamil terus dilakukannya. Hingga akhirnya, ia membentuk program bimbingan bagi kelompok ibu hamil, pemilik bayi, hingga orang tua yang anaknya menginjak usia balita. Semua itu dilakukannya, seorang diri.

Menyongsong Asa

Rosmiati bercetita terpilihnya sebagai penerima salah satu penerima SIA pada tahun 2012 berdampak signifikan.

“Banyak ya, perubahannya. Ya, istilahnya jadi lebih dipercaya orang sekitar, lebih diterima juga oleh masyarakat. Lalu sosialisasi kesehatan ke masyarakat jadi lebih mudah. Karena dulu, kan, terkendala alat-alat edukasi, sekarang sudah lumayan,” ungkapnya.

Mimpi Rosmiati akhirnya terwujud, setidaknya sejak ia ditetapkan sebagai pemenang SIA 2012, angka kematian ibu hamil di desanya sudah nol.

Rosmiati semakin terdorong untuk memperpanjang uluran tangannya ke desa tetangga. Nampaknya, bab kesehatan di desa sebelah juga tidak baik-baik saja.

Kini, empat desa tetangga telah merasakan kebaikan Rosmiati dan menyadari pentingnya hidup sehat, serta persiapan matang untuk kehamilan. Lagi-lagi, seluruh perjalanan ke desa-desa tersebut sebagian besar ditempuhnya sendiri, dalam waktu satu hari untuk perjalanan ke wilayah kecamatan.

Ibu hamil dan keluarganya sudah mampu mandiri dalam hal berpikir tentang kesehatan.

Saat dihubungi pada Kamis (3/8), Rosmiati sempat bercerita, “Pemikiran mereka sekarang sudah sangat bagus, dibandingkan sebelumnya. Dulu cenderung memanggil dukun untuk melahirkan. Lalu setelah lahiran, memilih diurut.”

Obat untuk Masa Tua

Tak jua berakhir perjuangan Rosmiati mengampanyekan hidup sehat. Ia menyasar para lansia yang seringkali sulit memperoleh obat-obatan ketika sakit.

“Di posyandu cenderung sedikit obat, kalau pun ada pasti banyak bahan kimia. Nah bagaimana bisa menanam obat sendiri, saya membuat gerakan masyarakat untuk hidup sehat. Selain itu, buah-buahan itu di desa kami juga sulit didapat,” paparnya.

Ya, ia seperti ‘polisi kesehatan’yang ingin membabat habis masalah kesehatan yang ada di desanya. Tahun 2013 sosialisasi pada lansia pun dimulai, mereka diimbau untuk menanam pepohonan penghasil buah dan tanaman obat keluarga di rumah-rumah mereka.

Niat baik tak sebaik proses yang harus dilalui, ada rasa enggan di hati para lansia untuk melakukannya. Namun, kini mereka merasakan dampak positifnya. Obat-obatan alami dapat dengan mudah mereka dapat, cukup pergi ke kebun di halaman rumah mereka. Sembari menikmati masa tua, kini lansia di Desa Tunggal Rahayu Jaya melakukan aktivitas bercocok tanam, lalu dengan bangga memetik obat yang mereka semai sendiri. 

Riau, cukup terkenal dengan lahan gambutnya yang subur, serta perkebunan kelapa yang terbentang luas. Begitu pun di Kecamatan Teluk Belengkong, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Namun, cerita yang datang dari Riau kali ini bukan tentang keindahan bentang alamnya, melainkan kisah seorang bidan yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menyelamatkan para ibu hamil dan bayi yang akan dilahirkannya. Tak hanya itu, wanita yang dikenal ringan tangan ini pun mencoba mengabdikan dirinya untuk membantu para lansia agar hidup sehat secara mandiri.

Sebut saja Rosmiati. Wanita kelahiran tahuh 1984 ini memperoleh apresiasi SATU Indonesia Awards (SIA) di bidang kesehatan dari PT Astra International Tbk pada tahun 2012. Penghargaan ini merupakan salah satu buah manis yang ia petik atas pengabdiannya sejak tahun 2008 untuk Desa Tunggal Rahayu Jaya, sebuah daerah terpencil di Kecamatan Teluk Belengkong.

Dia adalah satu di antara 17.031 jiwa orang yang mendiami Kecamatan Teluk Belengkong. Namun, dia bukan penduduk biasa dan menjalani rutinitasnya setiap hari. Rosmiati menerjunkan diri ke dunia kesehatan dengan tulus hanya untuk mengabdi kepada masyarakat dan negeri.

Tekadnya yang bulat itu berawal setelah alumni Akademi Kebidanan Lenggogeni, Padang, Sumatera Barat ini, melihat kejadian memilukan di desanya. Minimnya tenaga dan fasilitas kesehatan menyebabkan frekuensi kematian ibu hamil cukup sering terjadi di sana.

Perempuan yang akan melahirkan bayinya dan perlu dirujuk ke sebuah rumah sakit di Indragiri Hilir, sekitar 1 jam perjalanan dari Teluk Belengkong, harus melakukan perjalanan dengan evakuasi manual, yaitu dengan perahu.

Ironisnya, karena medan yang cukup sulit, banyak wanita meninggal saat evakuasi menuju rumah sakit yang notabene ‘terdekat’ itu. Minimnya tabungan keluarga untuk persalinan menjadi kendala tambahan ketika hendak melakukan proses persalinan.

Lilin Kecil di Tengah Gulita

Seperti kata penjuang emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini, “Habis gelap, terbitlah terang”. ketulusan dan keprihatinan yang dirasakan Rosmiati membawanya pada sebuah misi penyelamatan.

Pada tahun 2008, ia mulai mengajak warga untuk menjalankan program yang dirintisnya, bernama Tabungan Ibu Bersalin. Selain itu, seluruh warga diajak pula untuk mengeksekusi program Dana Sehat agar mereka dapat memenuhi kebutuhan berobat ketika sedang sakit dan butuh dirujuk. Proses memang tak seindah hasilnya, warga sempat enggan melakukannya. Hal ini karena keterbatasan penghasilan yang mereka miliki, sehingga memengaruhi mindset mereka bahwa kesehatan bukanlah prioritas.

“Mengubah pola pikir itulah yang tidak mudah. Saya selalu bekerja pada ranah kognisi. Karena saya ingin mereka berpikir bahwa kesehatan itu, ya, datangnya dari diri sendiri,” tuturnya saat dihubungi pada Kamis (3/8).

Rosmiati melakukan tugas mulia itu sepenuh hati. Bahkan, tak jarang ia enggan dibayar untuk bantuan proses persalinan jika pasiennya berasal dari keluarga kurang mampu. Hari demi hari, sosialisasi ke tetangga dan bantuan terhadap ibu hamil terus dilakukannya. Hingga akhirnya, ia membentuk program bimbingan bagi kelompok ibu hamil, pemilik bayi, hingga orang tua yang anaknya menginjak usia balita. Semua itu dilakukannya, seorang diri.

Menyongsong Asa

Rosmiati bercetita terpilihnya sebagai penerima salah satu penerima SIA pada tahun 2012 berdampak signifikan.

“Banyak ya, perubahannya. Ya, istilahnya jadi lebih dipercaya orang sekitar, lebih diterima juga oleh masyarakat. Lalu sosialisasi kesehatan ke masyarakat jadi lebih mudah. Karena dulu, kan, terkendala alat-alat edukasi, sekarang sudah lumayan,” ungkapnya.

Mimpi Rosmiati akhirnya terwujud, setidaknya sejak ia ditetapkan sebagai pemenang SIA 2012, angka kematian ibu hamil di desanya sudah nol.

Rosmiati semakin terdorong untuk memperpanjang uluran tangannya ke desa tetangga. Nampaknya, bab kesehatan di desa sebelah juga tidak baik-baik saja.

Kini, empat desa tetangga telah merasakan kebaikan Rosmiati dan menyadari pentingnya hidup sehat, serta persiapan matang untuk kehamilan. Lagi-lagi, seluruh perjalanan ke desa-desa tersebut sebagian besar ditempuhnya sendiri, dalam waktu satu hari untuk perjalanan ke wilayah kecamatan.

Ibu hamil dan keluarganya sudah mampu mandiri dalam hal berpikir tentang kesehatan.

Saat dihubungi pada Kamis (3/8), Rosmiati sempat bercerita, “Pemikiran mereka sekarang sudah sangat bagus, dibandingkan sebelumnya. Dulu cenderung memanggil dukun untuk melahirkan. Lalu setelah lahiran, memilih diurut.”

Obat untuk Masa Tua

Tak jua berakhir perjuangan Rosmiati mengampanyekan hidup sehat. Ia menyasar para lansia yang seringkali sulit memperoleh obat-obatan ketika sakit.

“Di posyandu cenderung sedikit obat, kalau pun ada pasti banyak bahan kimia. Nah bagaimana bisa menanam obat sendiri, saya membuat gerakan masyarakat untuk hidup sehat. Selain itu, buah-buahan itu di desa kami juga sulit didapat,” paparnya.

Ya, ia seperti ‘polisi kesehatan’yang ingin membabat habis masalah kesehatan yang ada di desanya. Tahun 2013 sosialisasi pada lansia pun dimulai, mereka diimbau untuk menanam pepohonan penghasil buah dan tanaman obat keluarga di rumah-rumah mereka.

Niat baik tak sebaik proses yang harus dilalui, ada rasa enggan di hati para lansia untuk melakukannya. Namun, kini mereka merasakan dampak positifnya. Obat-obatan alami dapat dengan mudah mereka dapat, cukup pergi ke kebun di halaman rumah mereka. Sembari menikmati masa tua, kini lansia di Desa Tunggal Rahayu Jaya melakukan aktivitas bercocok tanam, lalu dengan bangga memetik obat yang mereka semai sendiri. 


Artikel Terkait
Astra Kunjungi Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2012
Menurut Pipit, satu dari 9.000 anggota Perpustakaan Anak Bangsa, dirinya suka membaca buku di Perpus...
Baca Selengkapnya
Partisipasi Grup Astra bersama TNI
BANDUNG : PT Astra International Tbk pada hari ini (2/4) kembali ikut berpartisipasi dalam program T...
Baca Selengkapnya
Pencarian Pemuda-pemudi Penggerak Kemajuan Bangsa, dimulai!
JAKARTA: Pencarian pemuda-pemudi penggerak kemajuan bangsa melalui Semangat Astra Terpadu Untuk (SAT...
Baca Selengkapnya
Emil Salim: Pemuda Merauke Harus Mampu Menciptakan Perubahan
MERAUKE: Pemuda Merauke harus mampu jadi agen perubahan Indonesia yang dimulai dari kampong halamann...
Baca Selengkapnya
IKUTI KAMI
Pastikan Anda selalu terhubung dengan media
sosial kami. #SATUIndonesia