ARTIKEL TERBARU

Edukasi Human Trafficking di Tambolaka
2018-01-25

Ketika menerima permintaan dosennya pada 2012 untuk menjemput para buruh migran yang dipulangkan dari Malaysia, tidak ada gejolak apa pun yang dirasakan Ronaldus Asto Dadut. Namun, ketika Asto bertatap muka langsung dengan para buruh ini, jantungnya berdegub kencang.

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana ini iba dengan nasib 18 buruh migran, yang kebanyakan perempuan, pulang dalam keadaan depresi. Bahkan ada yang memiliki beberapa bekas kekerasan fisik.

Tidak ingin melihat kejadian serupa terulang kembali, Asto memutuskan berbuat sesuatu. Dia mendirikan sebuah komunitas yang mampu mengedukasi kesehatan dan human trafficking (penjualan manusia). Pada 2012, Asto mendirikan Jaringan Relawan untuk Kemanusiaan (J-RUK) Sumba dengan gerakan Stop Bajual Orang. Melalui J-RUK ini, Asto melakukan sosialisasi kepada warga pedalaman di Sumba Barat Daya tentang pentingnya kesehatan dan human trafficking melalui video.

Materi sosialisasi yang diberikan adalah pencerdasan langkah prosedur yang benar ketika hendak berangkat menjadi buruh migran dan penanggulangan yang tepat untuk anak-anak yang ditinggal orang tuanya menjadi buruh migran.

Ada pula upaya kuratif, seperti penanganan psikologis untuk para mantan buruh dan pendampingan bagi anak-anak prasejahtera yang sakit agar dirawat atau dirujuk ke rumah sakit. Program ini juga melatih masyarakat agar tidak memiliki pola pikir menjadi buruh migran. Masih banyak mata pencaharian dan upaya lain untuk mencari nafkah.

Sejak berdiri pada 2012, sudah ada lebih dari 70 titik lokasi yang diberikan penyuluhan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta sosialisasi pencegahan human trafficking. Tercatat, 2.431 anak mendapatkan pembekalan mengenai kebersihan dan kesehatan serta 3.787 orang dewasa yang sudah mewaspadai praktik human trafficking.

Selain itu, puluhan anak dirujuk untuk mendapatkan bantuan pengobatan dari donatur dan Yayasan Rumah Harapan Bali. Kemudian, ada 18 mantan buruh yang didampingi, serta anak-anak tanpa orang tua yang diantarkan ke panti asuhan.

Relawan yang tergabung dalam J-RUK Sumba kini mencapai 50 orang yang tersebar di berbagai lokasi. Ada pula relawan di luar NTT yang bertugas menghimpun donasi berupa barang, seperti pasta gigi, sikat gigi, susu, dan buku. Dalam sosialisasi, J-RUK Sumba menggunakan bahasa lokal. Sebab, sebagian besar warga di pelosok Sumba Barat Daya tidak bisa menggunakan Bahasa Indonesia.

Menurut Asto, kendala yang dihadapi adalah budaya yang berlaku di masyarakat. Ketika seorang istri ditinggal mati suaminya, sang istri harus menikah dengan adik suaminya (iparnya). Jika istri menolak, ia harus keluar dari kampung. Akhirnya, tidak ada pilihan lain selain keluar dari desa dan menjadi buruh migran. Tidak jarang pula mereka rela meninggalkan anaknya yang masih kecil untuk berangkat menjadi buruh migran.

Asto berharap kegiatan ini bisa mengajak anak muda ikut berpartisipasi. Anak muda yang dinilai mampu memutus mata rantai ini harus bisa berpartisipasi menjadi agen pencerdasan bagi anak-anak dan kaum mama. Dia juga berencana mengembangkan ekonomi kreatif di desa-desa tersebut. Sumba sudah cukup terkenal di kalangan wisatawan. Potensi ini yang ingin ia angkat dengan menjadikan desa tersebut desa wisata dan melatih kaum mama berwirausaha melalui produksi kerajinan tangan.

Dalam waktu dekat, Asto ingin memiliki relawan yang memiliki latar belakang di bidang psikologi, sehingga J-RUK dapat melakukan penanganan rehabilitasi depresi para korban. Meski masih menjalani studi di Surabaya, Asto rutin sebulan sekali ikut turun ke lapangan memberikan sosialisasi.


Artikel Terkait
Astra Kunjungi Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2012
Menurut Pipit, satu dari 9.000 anggota Perpustakaan Anak Bangsa, dirinya suka membaca buku di Perpus...
Baca Selengkapnya
Partisipasi Grup Astra bersama TNI
BANDUNG : PT Astra International Tbk pada hari ini (2/4) kembali ikut berpartisipasi dalam program T...
Baca Selengkapnya
Pencarian Pemuda-pemudi Penggerak Kemajuan Bangsa, dimulai!
JAKARTA: Pencarian pemuda-pemudi penggerak kemajuan bangsa melalui Semangat Astra Terpadu Untuk (SAT...
Baca Selengkapnya
Emil Salim: Pemuda Merauke Harus Mampu Menciptakan Perubahan
MERAUKE: Pemuda Merauke harus mampu jadi agen perubahan Indonesia yang dimulai dari kampong halamann...
Baca Selengkapnya
IKUTI KAMI
Pastikan Anda selalu terhubung dengan media
sosial kami. #KitaSATUIndonesia