ARTIKEL TERBARU


Kedatangan tamu dari Bitung, Sulawesi Utara ke pusat kerajinan yang diberdayakan oleh warga setempat di Kampung Berseri Astra (KBA) Rawajati, Jakarta Selatan.
Sosok Wanita Penggerak Di Balik Kampung Berseri Astra
2017-08-30

Hal apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata “Jakarta”? Apakah kata “panas” dan “sesak”? Mayoritas orang mungkin merasakan kedua hal itu, tetapi di perkampungan di Selatan Jakarta, Anda mungkin tidak merasakannya.

Di salah satu perkampungan di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan, tampak pepohonan hijau nan rindang serta bangunan rumah khas Suku Betawi berjajar di sana, tak lupa makanan khas Betawi yang disajikan menambah suasana ramah tamah warga setempat.

Rawajati, itulah nama kampung yang pada Februari 2015 diresmikan sebagai salah satu Kampung Berseri Astra (KBA). Tak hanya itu, pada Februari 2017, bertempat di Gedung Manggala Wanabakti, kampung ini memperoleh penghargaan Kampung ProIklim yang dianugerahkan langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Bahkan, KBA Rawajati telah menjadi kampung hijau percontohan untuk skala nasional. Berbagai pencapaian tersebut tak diraih secara instan, ada proses dan sinergi sekelompok warga yang menjadikan kampung mereka layak untuk diapresiasi, atas semangatnya mendukung penghijauan. Silvia Ermita adalah salah satu penggeraknya, ia adalah sosok wanita berdedikasi tinggi untuk membuat Kampung Rawajati terus berseri.

Kunjungan mahasiswa dari Politeknik Kesehatan Kebayoran Baru, Jakarta, didampingi oleh Silvi (tengah) selaku Ketua PKK dan Bank Sampah Rawajati, Jakarta Selatan. 

Perjuangan Silvia Ermita tak hanya seorang diri. Ada sebuah sinergi antara kaum muda dan tetua yang empunya sejarah, kemudian melahirkan pergerakan yang menghasilkan buah di kemudian hari. Pemuda yang berjuang, bukan berarti melupakan para orang tua yang merintis pergerakan sebelumnya. Agaknya, hubungan antara pemuda dan orang tua sering menimbulkan kesan yang kurang menyatu, namun berbeda di Kampung Rawajati.

“Orang tua adalah pelaku sejarah yang menjadikan kampung ini bisa seperti ini,” ungkap Silvia Ermita (46), Selasa (1/8). Ya, ia adalah Ketua Bank Sampah Rawajati dan Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat yang menjadi salah satu cikal bakal kampung tersebut diresmikan sebagai KBA pada tahun 2015.

Terinspirasi oleh Ninik (ketua sebelumnya), Silvi berkomitmen untuk memajukan Bank Sampah Rawajati dengan bantuan segenap anggota PKK dan Karang Taruna setempat. Di kampung ini, baik laki-laki maupun perempuan, orang tua dan pemuda saling berkolaborasi dan bersinergi untuk mewujudkan kampung berseri mereka yang telah dirintis sejak tahun 2002. Salah satu keunikan lainnya adalah PKK di sana disebut dengan PKK Plus, karena anggotanya tak hanya para ibu, tetapi juga bapak-bapak.

Silvi memaparkan bahwa di kampung ini ada pembagian peran yang cukup signifikan. Para ibu mengatur berbagai kegiatan berkelanjutan melalui rangkaian acara arisan, serta dalam hal bercocok tanam. Sedangkan bapak-bapak mengelola aktivitas hidroponik serta pemeliharaan tanaman tiap rukun tetangga (RT).

Sejak diangkatnya ia sebagai ketua PKK dan Bank Sampah Rawajati pada tahun 2010, wanita yang lahir di Jawa ini mampu menjadikan bank sampah yang awalnya melayani tingkat rukun warga hingga menjadi percontohan nasional. Hingga akhirnya melayani penghancuran sampah plastik untuk satu kelurahan (8 RW). Baginya, merupakan sebuah kewajiban untuk meneruskan perjuangan para tetua yang merintis kampung hijau ini. Ia pun mencoba melibatkan pemuda dengan memilih mereka sebagai duta lingkungan.

Meskipun belum tercatat secara hukum dan memeroleh legalitas, aksi positif ini dimaksudkan agar para pemuda semakin terinspirasi untuk berlomba melakukan aksi hijau. Mereka adalah pemuda yang peduli lingkungan, menerapkan penghijauan di rumahnya yang salah satunya dilakukan melalui kegiatan wajib tanam masing-masing lima pot tanaman buah, bunga, dan toga. Tak hanya itu, mereka mampu memilah sampah hingga menjadi anggota Bank Sampah Rawajati.

Silvi terus berkomitmen untuk kampungnya, salah satunya dengan memperluas jaringan dan menggandeng berbagai institusi serta mahasiswa. Beberapa di antaranya adalah mahasiswa dari Politeknik Kesehatan Kebayoran Baru, Institut Teknologi Bandung, kemudian Komunitas Jakarta Property, bahkan tamu dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta.

“Di sini banyak tamu, saat ini saya juga menerima penelitian tiga mahasiswa yang sedang skripsi. Atau kadang banyak juga mahasiswa yang ikut pelatihan mengelola sampah di sini,” paparnya dengan ramah.

Bantuan dari Astra berupa mesin pencacah plastik yang mampu mengolah sampah plastik hingga dua ton per bulan ini dianggapnya cukup membantu dalam proses penghijauan kampung. Bahkan, di tangan warga setempat sebuah sampah plastik yang seringkali diabaikan akhirnya memiliki nilai jual dan lebih berdampak positif.

Silvi pun tak ingin generasi selanjutnya berpangku tangan, ia selalu melibatkan pemuda dalam pelatihan mengelola sampah secara periodik di kelurahan. Hal ini agar bermunculan cikal bakal pemimpin muda yang berdedikasi untuk penghijauan, bagi kampung mereka. Seperti halnya sebuah hasil, tak pernah luput dengan perjuangan sosok di baliknya.


Artikel Terkait
Astra Meresmikan Gedung Penunjang Belajar SDN 05 dan 06 Sung
JAKARTA: Hari ini Senin, 9 Mei 2011, PT Astra International Tbk (“Astra”) dan anak perus...
Baca Selengkapnya
Meniti Asa Gadis Cilik di Timur Indonesia
Buat milenial zaman sekarang yang serba membutuhkan koneksi internet, pasti akan kesulitan apabila t...
Baca Selengkapnya
Telaga Kemuning, Kesejukan ditengah Tandusnya Tanah Gunungki
Saya baru pertama kali mendengar bahwa ada sebuah telaga atau danau di kabupaten Gunungkidul. Danau ...
Baca Selengkapnya
Wajah Merekah Telaga Kemuning Kini
Sinar mentari yang hangat serta merdu kicau burung menyambut kedatangan kami di Desa Kemuning, Gunun...
Baca Selengkapnya
IKUTI KAMI
Pastikan Anda selalu terhubung dengan media
sosial kami. #KitaSATUIndonesia