Menu
Voting Finalis Favorit
12th SATU Indonesia Awards 2021
Fahri Putranda
Jumlah Vote 125

Pelayan Kesehatan dan Kesejahteraan Hewan

Bidang Kesehatan

Fahri Putranda

Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Kurangnya pengetahuan dan kesadaran peternak bahwa sebenarnya ternak yang selama ini mereka pelihara bisa membantu menopang perekonomian membuat Fahri Putranda tergerak untuk mendirikan Farvisa Vet. Permasalahan ini juga memicu kurangnya kesadaran warga sekitar akan kesehatan ternaknya. Farvisa Vet sendiri merupakan sebuah program yang memberi pelayanan kesehatan dan kesejahteraan hewan di daerah transmigrasi Kecamatan Plakat Tinggi. Kegiatan dimulai dari pengenalan tentang penyakit hewan yang menular maupun tidak menular, penyakit akibat kekurangan vitamin, dan tentang obat-obatan yang digunakan untuk mengobati ternak.

Dalam menjalankan kegiatan ini, Fahri bahkan harus turun langsung kelapangan dari rumah ke rumah, menyisir kebun-kebun bahkan pasar tradisional dan berupaya meyakinkan masyarakat bahwa sudah ada dokter hewan di daerah ini yang melayani masalah kesehatan dan kesejahteraan hewan ternaknya. Berkat kegigihan niatnya dan semangat yang tinggi untuk mengedukasi masyarakat setempat, kini sebanyak 15 desa di 1 kecamatan sudah diayomi oleh Fahri. Sekitar 60% dari mereka sudah faham tentang kesehatan hewan dan rutin melakukan pemeriksaan. Mereka juga sudah mulai memanfaatkan hewan ternaknya untuk menambah penghasilan.

Rahmad Maulizar
Jumlah Vote 621

Pemberi Senyum dan Harapan Baru untuk Anak Sumbing

Bidang Kesehatan

Rahmad Maulizar

Banda Aceh, Aceh

Rahmad Maulizar, kelahiran Meulaboh 20 September 1993 adalah pekerja sosial Pemberi Senyum dan Harapan Hidup Baru Anak - Anak Sumbing di Aceh. Tugasnya mencari dan memberikan pendampingan bagi penderita bibir sumbing dan langit - langit. Adalah Smile Train Indonesia dan Rumah Sakit Malahayati Banda Aceh yang menyediakan layanan gratis operasi bibir sumbing dan langit - langit mulut bagi pasien tidak mampu di Provinsi Aceh. Sampai pertengahan 2019, lebih dari 3200 pasien bibir sumbing dan langit langit mulut sudah mendapatkan pelayanan gratis ini. Berdasarkan catatan Smile Train Indonesia, setiap bulan rata-rata ada 40 pasien di operasi melalui tangan Dr. M. Jailani, SpBP-RE (K), dokter ahli bedah plastik yang menjadi mitra Smile Train di Provinsi Aceh.

Program ini dijalankan Rahmad Maulizar, laki - laki 26 tahun yang pernah menjadi penderita bibir sumbing selama 18 tahun. Dulu ia pasien yang kemudian bergabung sejak 2008, dan menjalani operasi gratis tahun 2011. Setelah merasakan sempurnanya senyum dan munculnya harapan hidup baru, ia kemudian ingin turut menyebarkan kebaikan yang sama bagi penderita bibir sumbing dan langit - langit mulut di seluruh Aceh. Cara termudah yang harus ia lakukan adalah berkeliling ke penjuru desa di Provinsi Aceh mencari sebanyak mungkin penderita bibir sumbing dan langit langit mulut. Ia mengajak pasien dan keluarganya untuk datang ke rumah sakit agar mendapatkan pelayanan operasi bibir sumbing gratis dari Smile Train Indonesia

Achmad Irfandi
Jumlah Vote 106

Penggerak Konservasi Budaya "Kampung Lali Gadget"

Bidang Pendidikan

Achmad Irfandi

Sidoarjo, Jawa Timur

Kampung Lali Gadget (KLG) merupakan program yang digerakkan Achmad Irfandi, pemuda asli Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, sejak 1 April 2018. Irfandi menggerakkan program ini berdasarkan kekhawatirannya terhadap bahaya kecanduan gadget yang dialami anak-anak. Meski di kampungnya tidak ada kasus serupa, Irfandi menggerakkan kegiatan ini untuk mengantisipasi agar kecanduan gawai bisa terhindar di lingkungan tempat tinggalnya. Fokus kegiatan ini mengadakan program konservasi budaya untuk mengangkat permainan tradisional yang ternyata cukup efektif untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari gawai. Kampung Lali Gadget merekrut kawan-kawan pemuda di Desa Pagerngumbuk dan pemuda di Sidoarjo. Pemberdayaan pemuda dan masyarakat dilakukan di dalam dan di luar desa. Pemuda yang diberdayakan bertugas sebagai perencana, fasilitator edukasi, dan pendamping.

Aktivitas yang digelar di program ini mengajarkan edukasi budaya, kearifan lokal, olahraga, edukasi satwa, permainan tradisional. Selain mengurangi kecanduan gawai, program ini juga membantu mengedukasi anak-anak tentang budaya dan kearifan lokal. Irfandi berharap program bisa berkembang dan menjadi desa wisata atau desa jujugan orang tua yang ingin berwisata edukasi dan menyembuhkan kecanduan gawai pada anaknya. Tim KLG berharap isu kecanduan gawai bisa diangkat secara nasional dan menjadi keprihatinan bersama sehingga setiap orang berusaha mengurangi dampak dari hal tersebut.

 Khamdan Muhaimin
Jumlah Vote 586

Pendiri "Rumah Belajar Garis Inspirasi" Desa Rana Mese

Bidang Pendidikan

Khamdan Muhaimin

Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur

Garis Inspirasi Nusantara adalah rumah belajar di Desa Rana Mese Kecamatan Sambi Rampas Kab. Manggarai Timur, NTT. Sebuah rumah yang terbuka lebar bagi anak-anak untuk bermain dan belajar. Programnya mulai dari pelajaran membaca dan menghitung untuk anak-anak PAUD, sampai mengoperasikan laptop dan internet untuk anak SMA. Selain itu masih ada latihan pramuka, olahraga bersama, bersih lingkungan dan kegiatan lainnya. Tempat ini menjadi rumah ketiga yang menyenangkan - setelah rumah tinggal dan sekolah bagi anak segala usia. Rana Mese merupakan kawasan yang indah meski tergolong desa tertinggal dan terpencil jauh dari perkotaan. Akses jalan menuju desa ini rusak, topografinya menantang, berliku, naik-turun kadang berkabut meski di siang hari. Jaraknya sekitar 22 kilometer ke Ruteng, kota terdekat yang menjadi ibu kota Kabupaten Manggarai, Flores.

Umumnya anak-anak di sini mempunyai kemampuan baca yang rendah, dan gagap ilmu dan teknologi mengingat di desa ini belum ada listrik. Tidak heran jika Garis Inspirasi menjadi magnet bagi anak-anak. Rutinitas padat meriah di rumah belajar ini dimulai dari sore hingga malam. Pukul 15.30-17.00 adalah waktu untuk anak-anak PAUD belajar membaca, olahraga, mewarnai dan bermain. Dilanjutkan dengan belajar mengoperasikan laptop pukul 17.00-18.00 untuk anak SMP dan SMA. Setelah istirahat dan sholat Maghrib, aktifitas kembali berlanjut pukul 19.00 - 20.00 untuk akses internet, merasakan keajaiban internet dan mengintip dunia luas.

Arky Gilang Wahab
Jumlah Vote 1050

Penggerak Program Sistem Konversi Limbah Organik Untuk Ciptakan Ketahanan Pangan

Bidang Lingkungan

Arky Gilang Wahab

Banyumas, Jawa Tengah

Banyaknya sampah yang menumpuk di sudut-sudut desa Banjaranyar menjadi permasalahan utama warga setempat. Akibat hal tersebut, bau tak sedap seringkali muncul di lingkungan sekitar dan lambat laun mengganggu aktivitas warga. Berangkat dari hal tersebut, Arky Gilang Wahab mulai melakukan budidaya maggot demi menanggulangi masalah utama warga Banjaranyar tersebut. Dibantu oleh adik iparnya, Arky mulai menjalankan program budidaya maggot dengan bermodalkan maggot seberat 5 gram dan memberi makan maggot tersebut dari sampah yang mereka dapatkan di kampung mereka, hasil dari budidaya maggot ini adalah pupuk organik sejumlah 7 kilogram.

Dengan adanya program milik Arky, pemerintah Banyumas merasa terbantu dan mereka kemudian memberikan dukungan berupa tempat untuk mengolah bubur sampah yang kemudian dilaksanakan di TPST. Sampah-sampah organik yang diantar tersebut kemudian diolah menjadi bubur sampah untuk pakan larva maggot, bubur sampah tersebut kemudian diproses maggot untuk diolah menjadi pupuk organik. Bermula hanya dengan mengolah sampah di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, kini ia mampu mengolah 5 ton sampah setiap hari yang berasal dari 5.500 rumah dan 72 instansi pemerintah di kecamatan Sumbang dan Sokaraja.

M. Agus Rahmatullah
Jumlah Vote 61

Pemberdaya Masyarakat Melalui Sanitasi

Bidang Lingkungan

M. Agus Rahmatullah

Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat

Program pemberdayaan masyarakat melalui sanitasi dilakukan di desa Pringga Jurang Utara dan telah berdiri sejak tahun 2013. Kegiatan pada program ini meliputi edukasi, motivasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam hal sanitasi. M. Agus Rahmatullah menginisiasi program ini bersama para tokoh masyarakat setempat. Program ini diciptakan karena dilatarbelakangi oleh Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masyarakat yang masih buruk. Angka penyakit diare masih tinggi di masyarakat Lombok Timur khususnya di daerah Pringga Jurang Utara pada tahun 2012. Saat itu hanya 25% dari masyarakat yang memiliki saluran pembuangan air kotor atau jamban. Melihat hal tersebut, Agus mulai melakukan pendekatan melalui berbagai kegiatan seperti motivasi dan edukasi. Kegiatan dilakukan dengan menyentuh perasaan, pola pikir, perilaku, dan kebiasaan mereka. Edukasi dilakukan dengan memberikan pelatihan kepada kader, pemuda, tokoh agama, dan tokoh masyarakat agar bisa menyelesaikan permasalahan sanitasinya sendiri.

Tak hanya mengedukasi soal Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada masyarakat, program sanitasi ini juga meningkatkan penghasilan masyarakat. Dengan melakukan banyak pelatihan kepada para pemuda dan tukang dalam pengadaan fasilitas sanitasi seperti membuat kloset, wastafel, dll. Pelatihan ini diberikan kepada mereka yangingin berpartisipasi dalam menuntaskan permasalahan sanitasi di desanya. Pelatihan ini kemudian berkembang dan membentuk sebuah paguyuban yang kemudian berkembang menjadi potensi yang dimiliki desa.

Benny Santoso
Jumlah Vote 130

Sang Inovator Tempe

Bidang Kewirausahaan

Benny Santoso

Badung, Bali

iniTempe adalah Innovate New Ideas with Tempe, perusahaan yang didirikan Benny Santoso (26) di Badung, Bali. Sesuai namanya iniTempe mengeksplorasi berbagai kemungkinan varian rasa dan format produk. Penjelajahan termasuk keluar dari cara-cara masak yang dikenal selama ini seperti digoreng atau di bacem. Jika tempe rasa keju dan tempe rasa cabai serta bentuk keripik dan camilan lain yang tersedia di gerai ini sudah terasa mainstream, konsumen bisa mencoba tempe yang bermetamorfosa jadi sandwich atau sushi. Di sini juga bisa ditemukan produk tempe yang berbaur serasi nikmat gurih dengan cokelat dan almond. Melalui format baru, iniTempe meluaskan target pemakan tempe ke masyarakat menengah atas dan juga konsumen luar Indonesia.

Ulah iniTempe selama ini ternyata juga berhasil memprovokasi konsumen untuk belajar membuat tempe. Workshop yang ditawarkan menarik banyak peserta turis asing dan juga konsumen setempat. Merebaknya pandemi mendorong manajemen mengubah strategi, aktifitas marketing dan kelas-kelas workshop iniTempe jadi lebih fokus memanfaatkan berbagai platform online. Produknya berusaha eksis di berbagai market place. Dampak marketing di dunia digital, terutama komunikasi melalui media sosial, membuat semakin banyak masyarakat dari luar pulau Bali yang bisa mengikuti workshop. Penjualan yang tadinya sempat menurun di awal pandemi akhir-akhir juga mulai meningkat tajam.

Yudi Efrinaldi
Jumlah Vote 514

Perintis "Es Gak Beres yang Sangat Beres"

Bidang Kewirausahaan

Yudi Efrinaldi

Yudi Efrinaldi - Asahan, Sumatera Utara

Latar belakang Yudi sebagai pegawai honorer dan kondisi ekonomi yang menurun mendorong Yudi untuk membuka usaha. Yudi mencoba berjualan bubur ayam pinggir jalan dan pisang goreng krispi online pertama di Kisaran (KIJEK). Namun, usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Dalam keterbatasannya, Yudi Efrinaldi justru makin semangat menggali kreativitasnya. Kreativitasnya membuahkan hasil. Ia beride untuk berjualan es dengan menggabungkan berbagai macam inspirasi jualan unik dan menarik yang ia dapati melalui Youtube.

Berkat kegigihannya, kini Yudi telah memiliki hampir 500 mitra cabang Es Gak Beres di berbagai daerah. Jumlah tersebut tersebar di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Aceh, Jambi, Lampung, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Dengan rata-rata penjualan hingga 300 cup per hari dengan omzet antara 300 ribu hingga 1,5 juta rupiah. Berawal dari gerobak kecil di pinggir jalan, kini Yudi bisa meraup omzet antara 100 hingga 150 juta per bulan dari penjualan bahan baku ke mitra cabang. Hasil pengembangan cabang Es Gak Beres bahkan dapat digunakan untuk membangun sebuah Cafe dan Resto pada Desember 2020 lalu. Cafe ini juga menjadi salah satu upaya Yudi untuk mempertahankan merek agar dapat berkembang dan bertahan lebih lama lagi. Perkembangan usaha ini juga telah membantu mempekerjakan 40 orang karyawan di bidang produksi bahan baku dan 10 orang untuk pengelolaan Cafe dan Resto.

Hendra
Jumlah Vote 12

Pemberdaya Nelayan dengan "Lobstech" melalui Penerapan Teknologi Berbasis IOT

Bidang Teknologi

Hendra

Jember, Jawa Timur

Berasal dari keresahaan terhadap banyaknya nelayan yang kehilangan pekerjaannya dari budidaya ikan kerapu di Situbondo, Jawa Timur dan juga melihat potensi budidaya lobster di Indonesia yang belum tergarap dengan maksimal dan punya sejumlah kendala, akhirnya Hendra mengembangkan Lobstech. Selama dua tahun penelitian, Hendra dan rekannya bisa membuat sebuah kotak sensor berbasis Internet of Things (IOT) untuk mengontrol kualitas air. Kotak itu ditaruh di keramba, lalu disambungkan ke aplikasi lobstech di komputer milik Hendra. Para nelayan pun bisa memantau juga dengan aplikasi di telepon genggamnya masing-masing. Dengan teknologi Lobstech berbasis IOT, produksi lobster bisa meningkat 50 persen. Waktu pembesaran lobster bisa dihemat setengahnya, menjadi 3 bulan untuk sekali panen. Beratnya pun bertambah, karena dengan sistem itu, berat 100 gram bisa didapat dalam waktu 1 bulan dari sebelumnya sekitar 8-10 bulan.

Awalnya, hanya beberapa nelayan yang mau bekerja sama dengan Hendra. Karena melihat skema itu, dan dengan sistem sensor yang dibuat bisa mempercepat pertumbuhan lobster, para nelayan pun berbondong-bondong mendaftar dan bekerja sama. Kini Hendra sedang melakukan penjajakan dengan sebuah perusahaan dari Jerman untuk mengembangkan sensor yang tingkat akurasinya lebih tinggi. Kedepannya Lobstech ingin teknologinya dipakai oleh nelayan maupun pembudidaya lobster di seluruh Indonesia. Karena, nantinya sistem teknologinya akan lebih ditingkatkan, dan bisa menyesuaikan dengan seluruh perairat laut di Indonesia.

Visista Pratama Ashadi
Jumlah Vote 43

Peracik Diet Sehat Ternak untuk Kambing dan Ayam

Bidang Teknologi

Visista Pratama Ashadi

Lahat, Sumatera Selatan

Visista Pratama Ashadi laki-laki kelahiran Lahat, 08 Maret 1993 ini tengah berjuang mengajak para peternak mengolah sendiri pakan hewan peliharaannya dari silase. Ciri khas silase seperti ukuran keberhasilan fermentasi pada umumnya adalah aroma pakan khas 'tape' yang disukai ternak. Para peternak yang sudah menggunakan pakan itu mulai 2020, mengaku ternaknya semakin banyak makan dan menjadi gemuk. Ternak pun jadi jarang sakit dan terhindar dari masalah pencernaan dibanding ternak lain. Siapa saja bisa membuat sendiri pakan ternak alternatif dengan mudah dari bahan yang murah. Hasilnya lebih murah dibanding membeli pakan ternak pabrikan seharga Rp 400,000 untuk ukuran 1 sack 50 kilogram. Belum lagi mengingat bahwa pakan olahan industri yang sudah ditambah banyak produk kimia.

Dengan teknik produksi pakan ternak alternatif yang diperkenalkan Visista, para peternak bahkan bisa saja membuatnya secara gratis, atau hanya perlu mengeluarkan Rp 200 ribuan untuk kuantitas 50 kilogram. Pakan ternak alternatif diperoleh dari proses fermentasi sisa bahan organik apa saja seperti ampas tebu, dedak, limbah kulit kopi, ampas tahu, tepung jagung ditambah sari nanas dan air sisa rendaman beras. Tinggal jeli melihat kelebihan limbah organik di kawasan masing-masing. Tentu ada persentase kadar yang diperlukan dari percampuran bahan-bahan yang ada. Semua bahan tinggal ditaruh di tong besar, didiamkan hingga 3 hari sebelum siap diberikan sebagai pakan ternak. Mudah, murah, bermanfaat dan berkhasiat.

Gregor Gauden Jeujanan
Jumlah Vote 220

Pejuang Pendidikan dari Kepulauan Kei

Kategori Kelompok

Gregor Gauden Jeujanan

Kepulauan Kei Kabupa - Maluku

Bercita-cita membangun dan menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas di Kepulauan Kei mendorong Gregor Gauden Jeujanan untuk mendirikan program Gerakan Kei Cerdas. Gregor prihatin melihat kondisi pendidikan di Kepulauan Kei yang jauh dari kata layak. Gerakan Kei Cerdas berfokus pada bidang pendidikan di Kepulauan Kei (Maluku Tenggara dan Kota Tual) dengan sejumlah program kegiatan yang disampaikan kepada anak-anak yang berada di desa-desa melalui Tour Pendidikan seperti membaca, mengajar, melatih kreatifitas dan juga kebudayaan.

Kurangnya komunikasi dan partisipasi aktif antara komunitas, pemerintah daerah dan masyarakat terkait pentingnya persoalan pendidikan di Kei dan kondisi alam yang kurang bagus (cuaca ekstrim) juga merupakan kendala yang nyata dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Jika kondisi laut ekstrim maka sudah pasti pelaksanaan kegiatan di pulau-pulau akan terkendala. Selain itu, kurangnya fasilitas penunjang pendidikan di pulau-pulau kecil di Kei, seperti buku Pelajaran, alat tulis, fasilitas perpustakaan yang minim dan kurangnya tenaga guru juga menjadi tantangan terberat yang dihadapi oleh Gregor. Namun, semua kendala tersebut tidak akan menyurutkan tekad dan semangat Gregor untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang hebat. Dengan niatnya, tour pendidikan Gerakan Kei Cerdas sudah meliputi 194 desa di Kabupaten Maluku Tenggara dan 24 desa di Kota Tual.

Siti Salamah
Jumlah Vote 49

Penggerak Sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi Berbasis Teknologi

Kategori Kelompok

Siti Salamah

Tangerang Selatan, Banten

Siti Salamah menggagas Waste Solution Hub sejak pertengahan 2019. Kegiatan inovasi sosial ini berfokus pada pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular di daerah urban. Program ini melakukan pendekatan sistem teknologi yang terintegrasi dan melibatkan multi-pihak. Program Waste Solution Hub didorong untuk memberikan solusi terkait permasalahan sampah dan juga kondisi sosial khususnya di lingkungan kehidupan para pemulung. Ada sejumlah program pengelolaan sampah, namun kegiatan aktivitas sosial untuk turut memperhatikan kehidupan para pemulung menjadi nilai tambah dan pembeda Waste Solution Hub. Aktivitas Waste Solution Hub dibagi menjadi beberapa program: Pengelolaan Sampah Event dan cluster perumahan dilakukan dengan proses end-to-end untuk menambah nilai berkelanjutan. Lalu Pelatihan Intensif Pemulung dilakukan untuk memberikan peluang tambahan dan keterampilan. Selain itu ada Program Konsultan Keberlanjutan untuk menghilangkan risiko dan tetap berkelanjutan, untuk proyek #lesswaste atau bahkan #zerowaste.

Hingga kini Waste Solution Hub telah mengedukasi lebih dari 23.435 pengunjung. Jumlah sampah yang dikelola saat ini 4.388 kilogram, dan juga telah memberdayakan pemulung lebih dari 1.222 orang di wilayah Tangeran Selatan, lebih dari 171 sukarelawan terlibat, serta donasi untuk Pekerja Informal (Pemulung) selama pandemi sebanyak 5006 paket sembako yang telah didistribusikan. Waste Solution Hub punya target memiliki 10.000 mitra pemulung, meningkatkan pendapatan pemulung sebanyak 100 persen, mengelola 1.000 ton sampah per hari, menghasilkan lebih dari 1.000 produk daur ulang dan mengembangkan lebih dari 10 area pusat daur ulang dan pembelajaran di seluruh Indonesia.

Acep Wiguna
Jumlah Vote 32

Pejuang Melawan COVID-19

Kategori Khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi COVID-19

Acep Wiguna

Karawang, Jawa Barat

Kita Jaga Kita adalah program untuk mengurangi dampak pandemi COVID-19 yang diluncurkan Gerakan Anticovid. Komunitas sukarelawan di Kabupaten Karawang ini didirikan Yongki tahun 2020. Aktivitasnya utamanya memberi edukasi masyarakat terkait gejala, pencegahan, dan penanganan COVID-19. Selain itu ada penyaluran bantuan berupa sembako dan makanan bergizi untuk warga yang melakukan isolasi mandiri karena terpapar COVID-19, serta pendataan kondisi kesehatan warga Karawang. April 2020 saat ditemukan kasus pertama COVID-19 di Karawang disusul beredarnya banyak isu menyeramkan tentang COVID-19 membuat warga resah. Pemerintah yang saat itu cenderung lamban menyikapi simpang siur informasi mendorong tim Gerakan Anticovid untuk bergerak mengedukasi warga.

Komunitas ini ingin warga memahami upaya yang tepat mencegah penyebaran COVID-19. Selain itu juga agar warga yang terkena COVID-19 merasa terbantu sehingga mempermudah masa penyembuhannya. Kita Jaga Kita diawali dengan melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga dan memberikan edukasi tentang pengertian, bahaya, gejala, serta apa yang harus dilakukan jika ada yang terkena virus COVID-19. Materi utama adalah edukasi pentingnya 3M diperkuat aktifitas memasang sarana cuci tangan di mulut berbagai gang dan jalan. Mereka juga mendata warga yang mengalami gejala COVID-19 dan yang memiliki komorbid agar lebih mudah dalam pemantauan dan pengawasan. Untuk mendukung aktifitasnya komunitas ini berkoordinasi dengan tim puskesmas dan dinas kesehatan setempat.

Ani Wahyu Rachmawati
Jumlah Vote 78

Penggerak IPF Quickresponse "Siaga COVID-19"

Kategori Khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi COVID-19

Ani Wahyu Rachmawati

Bandung, Jawa Barat

Bahayanya virus COVID-19 dan dampaknya terhadap ekonomi serta kesehatan membuat Ani Wahyu tergerak untuk membuat program Siaga COVID-19. Program ini menyasar masyarakat Bandung yang terkena dampak dari pandemic COVID-19. Ani bersama tim IPF Ani membuat kegiatan sederhana yaitu membuat paket sembako seperti ikan lele yang sudah dibumbui dan ayam ungkep sehingga memudahkan mereka yang sedang isoman di rumah untuk mengolah makanan, bingkisan lebaran untuk anak-anak yang orang tuanya di PHK karena pandemi dan tidak dapat THR dari perusahaan.

Hingga saat ini program terus berlangsung dan penerima mandat terus bertambah. Manfaat yang diberikan dari program ini adalah: Adanya catering dan supply makanan yang teratur bagi warga kurang mampu yang sedang isoman, paket vitamin dan supplement bagi warga kurang mampu, bantuan sembako bagi pekerja harian yang terdampak kebijakan PPKM, rumah ibadah dan rumah warga pasca isoman yang diberikan desinfektan serta SWAB tes gratis bagi warga kurang mampu. Kini sudah ada 153 orang yang mendapat bantuan supply makanan dengan 246 paket vitamin, 191 paket sembako, fogging di 21 rumah dan tujuh tempat ibadag serta swab gratis bagi 101 warga kurang mampu.

Elmi Sumarni Ismau
Jumlah Vote 261

Sahabat Difabel dari Kupang

Kategori Khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi COVID-19

Elmi Sumarni Ismau

Kupang, Nusa Tenggara Timur

Elmi Sumarni Ismau bersama kelima temannya (lima orang difabel, satu non-disabilitas) di Kupang, Nusa Tenggara Timur, membentuk Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas Untuk Inklusi (GARAMIN) NTT pada 14 Februari 2020. Gerakan ini dibuat untuk mengubah mindset penyandang disabilitas, pemerintah dan masyarakat pada umumnya kepada para penyandang disabilitas yang dianggap selalu membutuhkan belas kasihan dan seharusnya diurus oleh dinas sosial. Para penyandang disabilitas juga bisa menjadi pemimpin jika diberikan akses dan kesempatan serta juga dapat berkontribusi dalam pembangunan dan program tujuan pembangunan berkelanjutan yang inklusif.

Meski baru berdiri di tengah kondisi Pandemi COVID-19, GARAMIN turut serta memberikan edukasi terkait virus COVID-19 dan bantuan pendampingan kepada para penyandang disabilitas di Kupang NTT. Para penyandang disabilitas dibukakan akses agar bisa mendapatkan vaksinasi COVID-19 yang sulit didapatkan karena terkendala administrasi tak memiliki eKTP dan juga KK. Tidak hanya itu, GARAMIN NTT juga turut membantu dalam penanganan Badai Seroja yang menerjang NTT pada April 2021. Para relawan juga terjun langsung ke lokasi bencana dengan melewati medan yang terjal untuk membantu teman-teman disabilitas di lokasi bencana. GARAMIN berharap ke depan semakin banyak tersedianya alat bantu bagi para penyandang disabilitas, dan juga akses dan fasilitas bagi disabilitas di tempat-tempat umum di NTT. Serta meningkatkan kapasitas kelompok difabel di desa-desa.

Gede Andika
Jumlah Vote 1245

Penggerak Kreasi Edukasi Bahasa dan Literasi Lingkungan Dari Desa Pemuteran

Kategori Khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi COVID-19

Gede Andika

Buleleng, Bali

KREDIBALI adalah Kreasi Edukasi Bahasa dan Literasi Lingkungan, penyelenggara kursus Bahasa Inggris bagi anak-anak SD sampai SMP yang diluncurkan bulan Mei 2020 di Desa Pemuteran Kabupaten Buleleng, Bali. Uniknya siswa yang berminat kursus diminta membayar dengan sampah plastik yang dikumpulkan dari limbah rumah tangga masing-masing. Program ini diadakan sebagai respon terhadap pandemi COVID-19 yang membuat siswa tidak bisa belajar di sekolah. KREDIBALI bekerjasama dengan Plastic Exchange lembaga nirlaba di Bali yang mengelola bank sampah. Pertama sampah plastik yang dikumpulkan siswa ditimbang dengan satuan kilogram. Lalu sampah ditabung di Plastic Exchange untuk ditukar beras. Beras yang didapat akan dibagikan kepada penduduk lanjut usia yang kurang mampu di sekitar Desa Pemuteran. Acara pembgaian beras dilakukan setelah test kemajuan kompetensi di setiap semester.

Aktifitas KREDIBALI bisa lancar di tengah pandemi setelah berkoordinasi dengan perangkat desa setempat. Syaratnya mematuhi protokol kesehatan dan semua pesertanya menjaga jarak. Pemerintah Desa Pemuteran bahkan mendukung dengan meminjamkan ruangan rapat untuk sarana belajar. KREDIBALI secara langsung tidak saja mengajarkan Bahasa Inggris, tapi juga edukasi untuk peduli lingkungan dengan mendaur ulang sampah plastik, dan masih ditambah mengasah kepekaan sosial dengan memberikan beras bagi sesama umat yang kurang mampu. Selain melibatkan anak-anak yang menjadi siswa, sedekah multilevel ini pun menyentuh orang tua mereka.

Maman Sulaeman
Jumlah Vote 149

Pengembang Aplikasi Penilaian Belajar "Tanpa Sinyal,Tanpa Server"

Kategori Khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi COVID-19

Maman Sulaeman

Pekalongan, Jawa Tengah

Keterbatasan ruang gerak saat pandemi COVID-19 ternyata tidak berlaku bagi Maman Sulaeman, seorang guru di SMK Gondang Wonopringgo, Pekalongan, Jawa Tengah. Ditengah pandemi yang belum berakhir, Maman justru menciptakan Aplikasi Penilaian Belajar Mode Darurat 'Tanpa Sinyal, Tanpa Server'. Di awal tahun 2020 saat orang-orang mulai harus melakukan pembatasan, sekolah tempat Maman mengajar hendak menggelar ujian serentak. Namun sayangnya di setiap ruang kelas di sana tidak memiliki wifi, sehingga siwa harus terkendala jaringan. Dari sini lah mulanya Maman tercetus ide untuk membuat Aplikasi Penilaian Belajar Mode Darurat 'Tanpa Sinyal Tanpa Server'.

Sejak ia berhasil mengembangkan aplikasi ujian mode darurat ini, ia banyak berbagi informasi tentang temuannya ini melalui laman facebooknya yang kemudian terorganisir menjadi sebuah grup telegram. Dari situlah banyak sekolah lain dari berbagai wilayah tertarik untuk bergabung. Saat ini telah terdaftar sebanyak 16 sekolah dari 9 provinsi di seluruh Indonesia dengan total siswa 4.671 peserta ujian, dan 464 user telegram yang sudah terdaftar .

Muhammad Zidny Kafa
Jumlah Vote 133

Penata Panggung Tanggap COVID-19

Kategori Khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi COVID-19

Muhammad Zidny Kafa

Bantul, DI Yogyakarta

PTC-19 (Panggung Tanggap COVID-19) didirikan pada 20 Maret 2020 di Desa Panggungharjo, Bantul, DI Yogyakarta. Kegiatan PTC-19 berawal dari keresahan Muhammad Zidny Kafa dan para pemuda Desa Panggungharjo yang melihat lamanya respon tim Siaga COVID-19 daerah mereka dalam menangain penyebaran pandemi COVID-19 di daerah mereka. Akhirnya Zidny dan rekan-rekannya meminta, salah satu lurah daerah itu, Wahyudi Anggoro Hadi untuk membuat gerakan PTC-19. Bentuk konkret dari kegiatan ini adalah mitigasi bencana (COVID-19) meliputi mitigasi klinis dan non-klinis (sosial dan ekonomi). Tim PTC-19 menyediakan platform website untuk mendata kondisi masyarakat yang bisa diisi secara online. Melalui data yang diunggah masyarakat, tim PTC-19 selanjutnya mengidentifikasi kelompok rentan tertular virus. Dengan demikian, pemerintah desa bisa mengatur sumber daya manusia dan tenaga kesehatan untuk menanggulangi pandemi.

Dari sisi ekonomi, sebelum November 2020, PTC-19 juga memberikan bantuan ekonomi bagi warga Bantul yang kesulitan. Tim PTC 19 membagikan sembako berupa bahan pokok kepada warga. Namun sejak November 2020, tim PTC-19 lebih fokus memberikan bantuan soal kesehatan saja. Harapan tim PTC-19 adalah agar COVID-19 segera hilang dan masyarakat bisa hidup normal kembali. Zidny dan kawan-kawannya juga akan terus melakukan mitigasi dan pemberdayaan akibat wabah COVID-19 akan terus berlanjut sampai waktu yang tidak ditentukan.

Mutiana Effendi
Jumlah Vote 19

Sang Perawat dari Muara Tembesi

Kategori Khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi COVID-19

Mutiana Effendi

Jambi, Jambi

Bekerja sebagai perawat di IGD RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi dan Klinik Tanjung Lumut membuat Ners Mutia sadar bahwa banyak masyarakat yang memerlukan perawatan tidak hanya di fasilitas kesehatan saja. Angka pasien dan jumlah lansia yang meningkat di Provinsi Jambi membuat Ners Mutia merasa perlu untuk melakukan sebuah aksi sosial dalam menunjang kesehatan masyarakat disekitarnya. Bekerja di dua fasilitas kesehatan membuka mata seorang Ners Mutia bahwa perawatan setelah dari fasilitas kesehatan harus tetap berlanjut dengan perawatan dirumah, guna mendapatkan pemulihan yang maksimal. Selain itu beberapa penyakit kronis perlu dilakukan pemeriksaan secara rutin, keterbatasan pasien untuk datang dan ketakutan akan kendala biaya menjadi alasan tersendiri bagi masyarakat untuk tidak rutin memeriksakan kesehatannya.

Berkat perjuangan Ners Mutia untuk memberikan fasilitas kesehatan yang layak bagi masyarakat di Jambi, kini setiap bulannya Halo Ners melakukan perawatan langsung kepada 10 orang pasien, dari sejak berdiri hingga sekarang data statistik telah menunjukkan lebih dari 150 orang pasien telah mendapatkan perawatan gratis di rumah melalui kegiatan sosial Halo Ners. Lewat Halo Ners, Ners Mutia berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan kesehatan gratis serta memperluas cakupan wilayahnya demi terciptanya generasi Indonesia sehat.

 Toni Risanto
Jumlah Vote 49

Relawan SATGAS COVID-19

Kategori Khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi COVID-19

Toni Risanto

Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

Toni Risanto mendedikasikan dirinya sebagai relawan COVID-19 sejak 2020. Hal itu didasari keresahannya tentang kondisi masyarakat di NTB yang belum menyadari bahaya penyebaran virus COVID-19. Ia dan sekitar 40 pemuda desa bergabung dalam tim Satuan Petugas (SATGAS) Desa Santong Mulia yang mereka inisiasi sendiri, baik dalam melakukan sosialisasi pencegahan COVID-19 hingga pembuatan masker kain. Toni memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat desa tentang cara mencuci tangan, pemakaian masker, etika batuk dan bersin, serta menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kesehatan selama masa pandemi. Selain sosialisasi kesehatan, penyemprotan cairan disinfektan dan pembagian masker kain gratis juga dilakukan untuk menyukseskan program pencegahan COVID-19 ini. Dalam memperoleh masker gratis, Toni menjahit sendiri masker kain tersebut dengan berbekal ilmu menjahit yang didapatnya dari kursus saat cuti kuliah. Ini dilakukan karena melihat banyak masyarakat yang tidak patuh dengan protokol kesehatan, terutama dalam penggunaan masker.

Meski awalnya kesulitan dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat NTB, saat ini edukasi yang diberikan telah mengubah perilaku masyarakat desa hingga bisa menerapkan berbagai bentuk pencegahan penularan virus COVID-19. Mereka percaya bahwa virus itu nyata dan mulai terbuka untuk menerapkan protokol kesehatan. Bahkan saat awal menjalankan gerakan ini Toni hanya dibantu pemuda desa dan juga melibatkan ketua organisasi yang ada di dusun setempat. Kini, program tersebut kemudian dilakukan berdampingan dengan Puskesmas dan Desa. Toni berharap satuan petugas akan terus aktif untuk terus memberikan kebermanfaatan. Utamanya hingga pandemi usai. Ia berkomitmen untuk melanjutkan kegiatan rutinnya serta terus mengimbau dan mengedukasi masyarakat meski hanya melalui diskusi kecil atau obrolan santai.

Tri Puji
Jumlah Vote 19

Penggerak Edukasi Limbah Isolasi Mandiri

Kategori Khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi COVID-19

Tri Puji

Jakarta Timur, DKI Jakarta

Tri Puji Astuti merupakan seorang ibu rumah tangga berinisiatif memulai sebuah program edukasi untuk warga di sekitar tempat tinggalnya dalam upaya mengendalikan dampak pandemi COVID-19. Kegiatan yang dilakukan Tri ini dinamakan 'PEduLi ISOMAN' sebagai akronim dari Program Edukasi Limbah Isolasi Mandiri yang aktif ia laksanakan sejak Januari 2021. Program ini dilaksanakan karena ia sadar bahaya limbah infeksius yang dapat menjadi sumber penularan penyakit COVID-19 bagi penyintas COVID-19, petugas kesehatan, dan masyarakat sekitar. Sebagai upaya untuk meminimalisir pencegahan virus ini, Tri kemudian melakukan edukasi pencegahan penularan penyakit infeksi melalui pemutusan rantai host/pejamu/inang dari limbah infeksius. Kelurahan Pondok Bambu Jakarta Timur tempat Tri tinggal sendiri ditemukan 491 pasien yang mengalami gejala COVID-19 sehingga harus menjalani isolasi mandiri.

Program ini berjalan dengan cara melakukan penyuluhan kepada masyarakat dengan bantuan pemberdayaan ibu-ibu PKK dan seluruh jajaran pengurus RT, terjun langsung memberikan bimbingan dan pelatihan pada warga yang sedang isolasi mandiri, serta penyebaran brosur dan pamflet di bagian protokol RT 1 yaitu pada mading (majalah dinding). Harapan Tri kedepannya adalah semakin banyak orang yang mau berkontribusi aktif dalam peran pengabdian masyarakat ia juga ingin memperluas jangkauan wilayah secara aktif dengan menyusun rencana lebih matang dan persiapan serta penanganan hambatan yang lebih baik.

Vania Febriyantie
Jumlah Vote 173

Petani Kota dengan Advance Payment

Kategori Khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi COVID-19

Vania Febriyantie

Bandung, Jawa barat

Seni Tani adalah urban farming social enterprises istilah keren untuk usaha pertanian urban, yang diwujudkan dua orang muda 28 tahunan, Vania dan Galih di daerah Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung Utara. Berawal sejak November 2020 sekarang ada 680 m2 lahan tidur yang dimanfaatkan menjadi kebun sayur. Dalam waktu 1 tahun terakhir, Seni Tani menghasilkan sayur lebih dari 150 kg. Paling menggiurkan hasil panen didistribusikan melalui Kelompok Tani Sauyunan dengan sistem CSA, Community Supported Agriculture. Artinya anggota kelompok ini yang berjumlah 24 orang membayar di awal bulan sebelum benih sayur ditanam. Dengan demikian petani urban mendapat kepastian, advance payment sebelum panen.

Lahan tanam Seni Tani saat ini terbagi dua. Separuh berfungsi sebagai kebun komunal untuk 97 anggota yang aktif berkebun bersama. Separuh lagi dikerjakan oleh 2 orang pemuda setempat yang menjadi petani urban dengan pendapatan tetap. Aktifitas yang dimulai di tengah pandemi Covid memang dimaksudkan sebagai jawaban terhadap situasi ekonomi yang melambat. Inisiatif ini untuk memberi ide penciptaan lapangan kerja serta mewujudkan ketahanan pangan. Seni Tani berawal dari kejelian anak-anak muda ini melihat banyaknya lahan tidur milik Pemkot Bandung. Mereka membuktikan bahwa untuk memulai berkebun tidak harus selalu memerlukan satu lahan yang luas, bahkan dengan lahan berukuran 1x1 meter pun orang sudah bisa membuat kitchen garden.

Seluruh vote yang masuk akan melalui proses verifikasi oleh Tim SATU Indonesia Awards, apabila ditemukan kecurangan maka Tim SATU Indonesia Awards berhak untuk melakukan penyesuaian perolehan vote.