. SATU Indonesia | Puisi Bersenandung di Tengah Hamparan Kebun Teh
Saatnya membangun kembali semangat
kebangsaan dan persatuan kita demi
kemajuan Indonesia
Puisi Bersenandung di Tengah Hamparan Kebun Teh

28
Apr
2012

Siang yang berlangit cerah. Di tengah tanaman teh yang menghampar bak permadani hijau di kawasan kebun 2 Afdeling Medini, Babadan, seorang lelaki tiba-tiba muncul. Lelaki berkaos coklat motif wayang dengan menyematkan pucuk-pucuk teh di telinganya itu kemudian membacakan puisi dengan lantang penuh ekspresi. 

Unbekannte
Meiner 
goldgelochten
Schonen

..........................................
.........................................

Puisi berbahasa Jerman karya penyair Heinrich Heine itu dibacakan oleh Sigit Susanto, pegiat sastra milis Apresiasi Sastra (Apsas) di sela-sela launching buku "Merajut Sunyi, Membaca Nurani; Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa di Medini", oleh Komunitas Lerengmedini, Boja, di area Kebun 2 Afdeling Medini, Babadan, Dusun Medini, Desa Ngesrep Mbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal, Minggu siang (29/4). Sebait puisi yang berarti Keindahanku yang berombak emas itu merupakan bait dari puisi berjudul Unbekannte (Orang Tak Dikenal). 
  
Selain Sigit, beberapa peserta dalam rombongan bertajuk Wisata Sastra di Kebun Medini secara bergantian juga  membacakan puisi. Sebagian penyair membacakan puisi yang dimuat dalam buku yang diterbitkan Komunitas Lerengmedini, berisi tulisan 12 penulis itu. Di antaranya: Bustan Basir Maras yang membaca puisi karyanya berjudul "Memetik Teh di Kebun Puisi; sajak untuk Rama Iman Budhi Santosa". Kemudian, Setia Naka Andrian (Izinkan Aku Memetik Pialamu), Kelana (Perjalanan Merah), dan Fitriyani (Untuk Pendaki). 

Rombongan diikuti oleh 33 orang yang berasal dari Boja dan jejaring penggerak literasi di luar daerah. Di antaranya, Ahmad Daurie Bintang Reborn (Bogor), Ubaidillah Muchtar (Lebak Banten), Bustan Basir, M Aswar, Wage Dagsinarga, M Iqbal, Irul (Yogyakarta), Kelana, Ali Murtadlo, Angga, Narti Kepal (Kebun Sastra Kendal),  serta Bahrul Ulum (PSK Kaliwungu), dan Setia Naka Andrian (Rumah Diksi, Brangsong).

Sebelum pembacaan puisi di tengah kebun teh Medini,  launching buku secara simbolik dilakukan dengan pemberian buku oleh Sigit Susanto (salah satu penggagas Komunitas Lerengmedini) kepada Iman Budhi Santosa. Setelah pemberian buku, Iman yang merupakan slaah satu penyair senior Yogyakarta memberikan testimoni keberadaan kebun Medini yang sempat ia diami pada tahun 1971-1975. Salah satu pendiri Persada Studi Klub (PSK), komunitas penyair muda Malioboro menyatakan, 


"Bagi saya, kebun Medini dan kehidupan orang-orangnya menjadi puisi bagi saya. Para ibu-ibu tua pemetik teh, tukang gawang kayu, dan pekerja pabrik lainnya memberikan banyak pelajaran hidup bagi saya. Dalam kesunyian di kebun Medini ini, saya menemu makna kehidupan yang sesungguhnya," ujar penyair yang memperoleh Anugerah Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Award 2012.    

Iman yang saat itu mengenakan kemeja putih berlengan pendek menambahkan, selama dirinya bekerja di Medini, ada beberapa sastrawan yang sempat berkunjung  ke sana. Seperti  Umbu Landu Paranggi, F Rahardi, Ragil Suwarna Pragolapati, Darmanto Yatman, dan Linus Suryadi  AG. Dirinnya sendiri, seusai menjalani massa percobaan tiga  bulan di pembibitan, ditugaskan memegang Afdeling Babadan. Lalu, tahun 1974 pindah ke Afdeling Medini. 

"Tidak disangka-sangka tahun 1975 saya harus mengundurkan diri karena terjadi konflik kecil dalam pekerjaan," tutur lelaki kelahiran Magetan, 28 Maret 1948 ini. 

Dalam kesempatan itu, Iman juga mengajak sahabat lamanya yang saat ini masih tinggal di Dusun Medini yakni Supamin (62). Di hadapan peserta yang memadati Brak (gubug) Kebun 2 Afdeling Medini itu,  Iman sempat beberapa kali megusap matanya yang berkaca-kaca. Ia merasakan trenyuh dan prihatin melihat kehidupan orang-orang yang dikecilkan keadaan. "Mereka itu berperan besar, namun dianggap kecil. Mereka mendapat upah tak seberapa padahal kerjanya luar biasa," paparnya.

Seusai launching, rombongan kemudian melakukan ziarah ke makam Kiai dan Nyai Kidang--dua orang yang dipercaya menjadi tokoh yang mbubak yasa (perintis) kawasan Medini.  

Koordinator Komunitas Lerengmedini, Heri C Santoso menyatakan, acara tersebut merupakan rangkaian acara Parade Obrolan Sastra V yang digelar oleh Lerengmedini bekerjasama dengan milis Apresiasi Sastra (Apsas), 26 April-2 Mei 2012. Menurut Heri, acara sastra digelar di tengah kebun sebagai bagian dari ikhtiar kerja budaya untuk mendekatkan manusia ke alam. "Dengan dekat dengan alam, manusia bisa belajar dengan kearifan nilai-nilai di dalamnya," tutur Heri kepada Suara Merdeka seusai acara.  

Selain wisata di kebun medini juga telah digelar aksi ritual membaca puisi dengan cara marathon mulai dari Pasar Boja hingga Pondok Maos Guyub (28/4). Rangkaian Parade akan ditutup dengan menghadirkan sastrawan Remy Sylado, pada Rabu (2/5) di Pondok Maos Guyub, pukul 19.30-22.00 WIB.






Video Kegiatan Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards

2013                     2012
2011                     2010
Share