. SATU Indonesia | Rusmawati <br><i>Membangun Kemandirian lewat Sanggar Belajar Anak</i>
Saatnya membangun kembali semangat
kebangsaan dan persatuan kita demi
kemajuan Indonesia
Rusmawati
Membangun Kemandirian lewat Sanggar Belajar Anak



Berawal dari keprihatinan Rusmawati, terhadap sulitnya masyarakat pesisir memperoleh akses pendidikan yang layak, mendorong aktivis LSM ini mendirikan Sanggar Belajar Anak yang dikelola secara mandiri. Selain tingginya angka putus sekolah dan ketiadaan sekolah TK, budaya masyarakat pesisir  (yang memiliki moto kerja tidak kerja tetap hidup enak) juga menjadi penghambat bagi kemajuan pendidikan di daerah itu.

Untuk mewujudkan hal itu, perempuan kelahiran Desa Bingkat,  2 Februari 1976 bersama rekan-rekannya di ormas Serikat Perempuan Petani dan Nelayan (SPPN) , merintis sebuah sanggar yang awalnya didirikan di teras musala Dusun I Desa Pekan sialang Buah, Kecamatan Teluk Mengkudu pada 2003. Dalam kurun waktu enam bulan, sanggar tersebut pindah ke sebuah bangunan berdinding  bilik dan beratap daun nira di atas tanah milik anggota SPPN.  Hingga kini SPPN mengelola sembilan sanggar di empat kecamatan yang biasanya beroperasi  di tanah wakaf, tanah anggota, dan bekas madrasah.

Selain didukung oleh orangtua murid yang menyumbang duit Rp 1000 per orang dan bahan bangunan (semen, kayu), Rusmawati juga melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat di desa lain yang bersedia mewakafkan tanahnya seluas 400 meter persegi untuk keperluan sanggar. Sejak berdiri hingga sekarang, pendanaan SBA (honorarium guru dan operasiional sehari-hari) berasal dari kucuran dana Hapsari, organisasi induk SPPN, SPP murid yang besarnya bervariasi dari 8.000-10.000 ribu per bulan,  dan bantuan dari lembaga asing (American Jewish Woman Society).

Tidak hanya anak usia sekolah yang mendapat perhatian SPPN, ibu-ibu wali murid juga dilatih berorganisasi dan berdiskusi yang menyangkut masalah-masalah perempuan,  ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat setempat. Dalam empat tahun terakhir, sekitar 40 ibu rumah tanagga juiga mendapatkan pinjaman lunak sebesar Rp 1 juta per orang yang digunakan untuk berusaha kecil-kecilan (ternak ayam dan bebek, berkebun sayur di rumah, membuat ikan asin).

Sejak 2003-Juni 2011, SBA telah mewisuda 696 orang dari tujuh angkatan. Bekal pendidikan selama dua tahun (minimal mengenal huruf dan angka) dirasa cukup bagi siswa dan wali murid untuk melanjutkan ke sekolah dasar. Sedangkan usaha mikro yang dilakukan ibu-ibu wali murid mampu meningkatkan pendapatan keluarga sebesar Rp 80 ribu per bulan.

Keberlanjutan dari kegiatan sanggar bisa dilihat dari komitmen Rusmawati menyekolahkan 10 guru bersama dirinya  ke universitas terbuka. Dana pendidikan sebesar Rp 1,4 juta untuk modul, diperoleh dari pinjaman. Dalam hal pengorganisasian, Rusamawati juga telah mendelegasikan sebagian tugas kepada wakil ketua di SPPN dan wakil kepala sekolah di SBA. Dia berharap dari 18 guru sanggar akan muncul calon-calon pemimpin yang kelak akan melanjutkan apa yang telah dirintisnya.



Share