. SATU Indonesia | Heri Chondro Santoso <br><i>Menghidupkan Sastra dari Desa Boja</i>
Saatnya membangun kembali semangat
kebangsaan dan persatuan kita demi
kemajuan Indonesia
Heri Chondro Santoso
Menghidupkan Sastra dari Desa Boja



Sastra, bukan monopoli orang kota. Bukan pula dominasi seniman kesohor. Masyarakat desa yang sepi akses informasi, juga bisa dan berhak berbicara sastra. Itulah semangat pendirian Komunitas Lereng Medini (KLM), sebuah komunitas yang memberikan ruang bagi pelajar desa, belajar sastra dan budaya di Kecamatan Boja, Kendal, Jawa Tengah.

Adalah Heri Chondro Santoso, kelahiran Kendal, 22 Mei 1982, penggagas dan koordinator komunitas ini. Bersama dengan Sigit Susanto. Heri adalah jurnalis dan alumni Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang. Adapun Sigit adalah pegiat kesusastraan asal Boja yang juga moderator milis "Apresiasi Sastra", yang bermukim di Swiss.

Komunitas Lereng Medini berdiri pada 2008. Medini adalah nama pegunungan yang menjadi back ground Boja dan kecamatan sekitarnya. Langkah membangun komunitas ini, didahului  dengan membuka perpustakaan gratis "Pondok Maos" dua tahun sebelumnya. Perpustakaan ini memanfaatkan rumah Sigit di Jalan Raya Bebengan 221, Desa Bebengan, Boja. Koleksi bukunya sebagian besar adalah karya sastra, baik sastra Indonesia maupun asing. "Sebelum  belajar sastra, kita perkenalkan mereka dengan bacaan," kata Heri.

Selain melakukan kajian sastra secara mandiri, anggota KLM juga melakukan melakukan reading group.Yakni membaca karya sastra bersama-sama. Biasanya tiap Sabtu sore yang diikuti 10-15 pelajar SMA. Ada dua novel yang dibaca bersama, yakni Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) dan The Old Man and the Sea (Ernest Hemingway). Saat Ronggeng Dukuh Paruk tamat dibaca, Heri sengaja mendatangkan Ahmad Tohari untuk bercerita seputar karyanya. Adapun kajian The Old Man and the Sea, diperkirakan tamat tahun depan.

Ronggeng Dukuh Paruk dipilih karena mempunyai kekuatan narasi dan deskripsi. Kultur yang menjadi latar ceritanya juga mirip dengan kultur masyarakat Boja. Adapun  The Old Man and the Sea dipilih selain untuk memperkenalkan dengan karya sastra asing sembari meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, latar cerita novel ini adalah pantai, sesuatu yang jauh dari alam pegunungan.

Reading grup,  kata Heri, adalah cara mengkaji karya sastra yang bagus. Dengan cara ini, masing-masing pengkaji bisa mendapatkan pemahaman yang majemuk dari masing-masing anggota. "Di Indonesia, cara ini masih jarang dilakukan".

KLM juga menggelar kegiatan bulanan, berupa bedah karya sastra, atau pembacaan musikalisasi puisi dan pentas teater. Sayang, agenda ini belum bisa digelar rutin  saban bulan.

Adapun kegiatan tahunan adalah Hajatan Bahasa dan Sastra  dalam rangka memperingati bulan bahasa tiap Oktober. Kegiatan ini berupa  apresiasi seni, workshop penulisan kreatif dan lomba karya tulis sastra dan budaya.  Pesertanya pelajar SD-SMA. Ada juga Parade Obrolan Sastra dengan menghadirkan pegiat-pegiat sastra, baik lokal maupun nasional. Kadang, obrolan sastra dilakukan secara online dengan menggandeng salah satu pemilik Warnet di Boja. Ada juga pelatihan jurnalistik saat Ramadan.

Agenda tahunan lainnya adalah penerbitan buku. Sudah empat buku yang diterbitkan.  Yakni "Donat untuk Kusno" (2008). Buku ini berisi kumpulan cerpen dan puisi peserta lomba penulisan cerpen dan puisi siswa dan pemuda. "Kumpulan Catatan Perjalanan Sastra Sepeda di Boja" (2009). Sastra Bersepeda adalah kegiatan mengajak masyarakat bersepeda mengunjungi tempat-tempat tertentu. Peserta diharuskan menulis tentang obyek yang dikunjungi.  Kumpulan tulisan peserta diterbitkan tanpa melalui proses editing. "Pesan yang kami sampaikan adalah, semua orang bisa membuat karya sastra," kata Heri.

Antologi Puisi SMS "Maaf" (2009). Buku ini berisi kumpulan puisi hasil lomba penulisan puisi via SMS yang diselenggarakan KLM. Lomba penulisan puisi via SMS merupakan ide baru yang original. Ide ini diinspirasi makin akrabnya masyarakat dengan telepon seluler. Tahun 2011 diterbitkan  buku Antologi Puisi Penyair Boja yang berisi kumpulan puisi penyair Boja.

Dengan segala keterbatasannya, KLM tidak berpretensi mengorbitkan penyair atau cerpenis muda yang kondang. Tujuan utamanya adalah merangsang pelajar belajar sastra. Dan terbukti, meski tinggal di pedesaan, beberapa pelajar dari KLM berhasil memenangkan beberapa perlombaan penulisan sastra tingkat Jawa Tengah. Beberapa karya mereka juga dimuat di surat kabar.

Kehadilan KLM juga mampu merangsang munculnya komunitas serupa di Kendal. seperti "Komunitas Kantong-Kantong Budaya Kendal", "Hajatan Kebun Sastra" serta "Rumah Diksi".

Selain menggawangi KLM, Heri juga mendirikan perpustakaan gratis "Pondok Buku Ajar" di rumahnya, di Dusun Slamet, Desa Meteseh, Boja. Segmennya adalah siswa SD dan anakputus sekolah. Pondok  BukuAjar juga sebagai ruang kreasi anak. Kegiatannya adalah les Bahasa Inggris gratis, belajar baca puisi dan cerpen,  latihan musik dramblek ("drumband" dari kaleng dipadu dengan kendang dan gamelan), teater, serta melestarikan dolanan anak yang mulai musnah. Tiap tahun, kegiatan itu dipentaskan.



Share