.


Sebuah siang biasa di Desa Galengdowo, Wonosalam, Kabupaten Jombang. Saatnya makan. Tuan rumah, istri Ketua RT di Desa Galengdowo, menghidangkan menu yang tak asing, nasi, aneka sayur, hingga lalapan. Ditempatkan agak ke tepi di meja itu tersaji putri ayu, bolu, dan cendol.
Kecuali nasi, makanan di meja itu berbahan utama tanaman liar. Ada, misalnya, daun krokot (Portulaca olearacea). Lainnya daun kastuba (Euphorbia pulcherrima) alias daun racun. Tanaman liar itu diolah menjadi lodeh, sayur bening, hingga urap--sayuran rebus bertabur kelapa berbumbu. Rasanya tak kalah dengan jenis pengaman lain yang menggunakan bahan tanaman hasil budidaya.
Itulah keahlian unik warga desa di kaki Gunung Arjuna itu. Mereka bisa membuat puluhan jenis makanan dari ratusan tanaman liar yang di daerah lain dipandang sebelah mata. Keahlian unik dan pengetahuan tentang manfaat tanaman liar yang dijadikan penganan itu, awalnya diperkenalkan Hayu Dyah Patria. Niat perempuan kelahiran Gresik 27 Januari 1981 ini sederhana saja: melestarikan tanaman liar, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan memerangi kekurangan gizi dengan cara yang masuk akal.
Dua keinginan itu jelas masuk akal. Ambil contoh daun racun. Makanan ini berlimpah mineral. Adapun daun krokot--makanan kesukaan jengkerik yang mudah ditemukan di dekat tembok pagar, di pinggir jalan, dan tegalan sawah--mengandung berbagai macam vitamin dan, ini yang terpenting, senyawa penyelamat I.Q. "Daun krokot banyak mengandung asam lemak omega-3 untuk perkembangan sel otak anak," ujar Hayu.
Sesungguhnya keterampilan ini tak cuma berguna untuk warga Galengdowo. Data Riset Kesehatan Dasar 2010 mengungkapkan, angka kekurangan gizi di Indonesia masih tinggi, yakni 17,9 persen. Sebanyak 18 provinsi masih memiliki prevalensi gizi kurang dan buruk di atas prevalensi nasional. Sekitar 80 persen anak usia sekolah juga kurang mendapat asupan protein. Karena penyebab utama malnutrisi itu kemiskinan, makanan asal tanaman liar sangat masuk akal untuk dimasyarakatkan. "Tanaman ini bisa didapat tanpa uang, tinggal petik, sedangkan kandungan gizinya tak kalah dari tanaman budidaya," ujar dia.
Hayu mengenang, perkenalannya dengan tanaman liar bermula pada 2004. Ketika itu mahasiswi Universitas Widya Mandala Surabaya ini hendak membuat penelitian tentang kandungan gizi mangrove. Karena kesulitan mendapatkan dosen pembimbing, "Saya diminta untuk mengganti topik penelitian," ujarnya.
Saat ia melakukan penelitian, ia menyadari adanya potensi gizi yang luar biasa dalam tanaman liar. Ia juga khawatir, karena diabaikan, tumbuhan tersebut bisa punah bersama manfaat yang dikandungnya. Maka, ia mulai menginventarisasi tumbuhan liar yang bisa dimasak atau dikonsumsi penduduk. Lokasi pertamanya di Pandaan, Jawa Timur.
Caranya sederhana. Ia membongkar ingatan penduduk yang umumnya berusia lanjut dan sering melihat atau mengetahui bagaimana tanaman liar dimanfaatkan. Ia juga masuk-keluar hutan, kebun, sawah, atau lipatan Gunung Arjuna untuk mencari tumbuhan itu. Nah, saat inventarisasi itu ia juga menemukan banyak anak-anak mengalami malnutrisi. "Jika karena alasan ekonomi, seharusnya tumbuhan liar yang gampang ditemukan ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan gizi mereka," kata dia.
Tapi, untuk itu, ia harus tahu pasti kandungan gizi taip tanamannya. Ia pun mencari di literatur, namun cuma ada sedikit tananam yang kadar gizinya sudah dibedah. Ia pun merogoh kantongnya untuk mencacah nutrisi dari tanaman liar itu di laboratorium beberapa universitas. "Biaya untuk itu per satu tanaman hampir Rp 500 ribu," ujarnya. Alhasil, gajinya sebagai peneliti di sebuah organisasi kerap habis untuk kegiatan ini.
Semangat Hayu untuk mengembangkan tanaman liar sebagai bahan makanan bergizi kepada masyarakat makin bergelora. Ia bahkan mendirikan Mantasa, lembaga nirlaba yang digunakan sebagai bendera resmi untuk mengembangkan kegiatannya.
Tahun 2010, Mantasa mulai mendapat dukungan dana. Di antaranya dari The Global Environment Facility's Small Grants Programme (GEF SGP). Dana GEF SGP ini digunakannya untuk membiayai penelitian tanaman liar di Galengdowo, Jombang, dan melakukan pemberdayaan masyarakat untuk memenfaatkan tanaman liar tersebut. "Ada sekitar 300 tanaman liar yang dapat dimanfaatkan telah diinventarisasi," kata Hayu.
Kegiatan Mantasa juga mendapat perhatian publik. Kini ia kerap diundang ke berbagai acara internasional untuk memaparkan kegiatannya. Sehari setelah wawancara ini, Hayu terbang ke Korea atas undangan organisasi internasional Slow Food.
Tapi, yang terpenting bagi Hayu adalah perubahan cara berpikir warga tentang tanaman liar di sekitar mereka.