.


Hidup akan lebih bermakna bila bisa memberikan yang terbaik buat orang lain. Ini yang dilakukan Andi Taufan Garuda Putra, lewat lembaga keuangan mikro yang didirikan ia berhasil mengangkat kesejahteraan masyarakat Ciseeng, Bogor.
Pria kelahiran Bogor, 24 Januari 1987 ini semestinya telah menikmati kehidupan yang mapan sebagai seorang konsultan bisnis di sebuah perusahaan multinasional. Namun hatinya terusik melihat masih banyak masyarakat di sekelilingnya yang kesulitan untuk mendapatkan bantuan keuangan. Padahal jumlah uang itu biasanya tidak seberapa, yang bagi Andi dapat langsung ia hamburkan begitu saja. Andi pun memberanikan diri untuk meninggalkan profesinya dan mendirikan lembaga keuangan mikro, Amartha Microfinance.
"Saya seperti tak punya arti, orientasinya hanya how we make money," katanya mengenang semasa ia masih bekerja. Setelah melalui berbagai riset, alumni ITB itu pada 2009 mendirikan Amartha Microfinance dengan menguras tabungannya sendiri. Amartha Microfinance adalah lembaga keuangan mikro yang menyediakan layanan keuangan bagi masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
Mulanya Andi mendapat tantangan dari keluarganya. Mereka menganggap tidak ada keuntungan yang bisa diharapkan dari usaha yang digelutinya. Namun Andi bisa meyakinkan orangtuanya yang akhirnya berbalik mendukungnya.
Amartha Microfinance menerapkan pola pembiayaan kelompok dengan sistem bagi hasil. Satu kelompok berkisar 10-15 orang dengan target penerima bantuan terutama wanita. Saat ini ia telah membina 45 kelompok dengan jumlah anggota 720 dari 14 kampung.
Plafon pembiayaan berkisar Rp 500 ribu - Rp 1 juta, dengan angsuran antara Rp 13.500 - Rp 26.000 per minggu selama setahun. Pembiayaan tidak hanya untuk modal usaha, tapi juga renovasi rumah, pendidikan anak dan kesehatan.
Amartha tidak hanya menyediakan bantuan keuangan, tapi juga layanan simpan pinjam yang dapat disetor setiap pekan. Andi bersama 7 orang stafnya bahkan juga melakukan penyuluhan mengenai manajemen keuangan, agar setiap rumah rumah tangga di desa dapat belajar mengatur keuangannya sendiri dan terhindar dari lilitan utang.
"Mereka kini terhindar dari jeratan renternir. Kita menawarkan bunga yang lebih ringan 24% per tahun dibandingkan bunga dari 20% per bulan," jelasnya.
Amartha membuka kesempatan kepada investor dalam bentuk penyertaan dengan sistem bagi hasil fifty-fifty. Syarat untuk menjadi sosial investor harus membiayai minimal satu kelompok. Saat ini sudah ada sekitar 40 sosial investor yang bergabung.
Andi berharap agar dikemudian hari semakin banyak masyarakat kurang mampu yang dapat terjamah oleh bantuan keuangannya. Bukan hanya di Bogor, tapi juga di wilayah-wilayah lain di seluruh Indonesia.