. SATU Indonesia | Finalis Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2013
Saatnya membangun kembali semangat
kebangsaan dan persatuan kita demi
kemajuan Indonesia
Finalis Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2013

“Pejuang Pendidikan Aikperapa”
Marwan Hakim
(Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat)

Marwan Hakim, 35 tahun adalah ustadz sekaligus tokoh pendidikan di Desa Aikperapa, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Meskipun disegani, namun penampilan Marwan sangat bersahaja. Tak ada topi putih yang menjadi atribut dan menandakan bahwa dia seorang ustadz. Tak jarang orang di luar Desa Aikperapa menganggapnya sebagai tukang ojek. Namun kiprahnya dalam memajukan pendidikan di daerah itu patut diperhitungkan.

Ia memelopori pendirian SMP dan SMA di Aikperapa. Sejak 2002, ia menyemangati anak-anak yang tamat SD untuk melanjutkan sekolah. Maka, didirikanlah SMP di rumahnya. Itulah SMP pertama di Desa Aikperapa. Selanjutnya, ia dan kawan-kawan juga mendirikan SMA. Kini, hasil perjuangan Marwan dan teman-temannya tidak sia-sia. Sekolah yang didirikannya pada 2004 itu sudah meluluskan 200 orang tamat SMP dan 50 orang tamat SMA. Ini bukti Marwan berhasil mengobarkan semangat belajar anak-anak di daerah terpencil itu, sampai di Dusun Bornong, desa tertinggi di kaki Gunung Rinjani.

Pihak sekolah tidak akan memaksa orangtua murid harus membayar dengan uang tunai. Jika orangtua tidak mampu membayar dengan uang, maka dia boleh membayarnya secara in natura. Misalnya, biaya administrasi dibayar dengan tanaman pisang.  



“Penyalur Air Tanah Kapur”
Joko Sulistyo
(Wonogiri, Jawa Tengah)

Tahun 2001, Joko Sulistyo, salah satu anggota pecinta alam KMP Giri Bahama, Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Solo melakukan jelajah gua di Kecamatan Eromoko. “Ada 13 gua, dan saat saya masuk di Gua Suruh saya menemukan sungai di dalamnya. Satu-satunya gua yang ada airnya,” kata Joko berkisah.

Ia merasa, kalau air yang di sungai ini bisa diangkat ke atas, bisa menjadi sumber mata air tambahan untuk masyarakat setempat. Bagaimana caranya? Itulah yang perlu waktu menemukannya. Tidak hanya itu, langkah pertama untuk menginformasikan hal ini pada penduduk, sementara penduduk setempat tidak ada satupun yang berani masuk Gua Suruh. Sementara ribuan penduduk di daerah Wonogiri dan Gunung Kidul itu setiap puncak musim kering harus membeli air dari Kota Yogyakarta untuk keperluan minum. Mandi saja belum tentu sehari sekali. Kondisi ini dirasakan betul 544 Kepala Keluarga atau 2.350 jiwa di Desa Pucung, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Langkahnya adalah membendung sungai di bawah tanah. Pada 2012, proses pembendungan itu dimulai. Perlu enam bulan untuk proyek ini. “Kami harus menurunkan material paling tidak 15 ton ke dalam gua untuk membuat bendungan,” tutur Joko. Kesulitan terbesar memang kondisi alam. “Kami tetap menjaga biota dan kehidupan yang sudah ada di gua tidak terganggu,” kata pria 31 tahun ini. Hasil jerih payah selama enam bulan terbayar. Air bisa didorong ke atas, bahkan sampai ke tower air yang ditaruh di atas bukit. Air sudah mengalir ke Desa Pucung. Hasilnya, masyarakat bisa mengambil air di bak-bak penampungan di sekitar desa kapan saja.  



“Pemberdaya Para Penderes”
Rizki Dwi Rahmawan
(Somagede, Jawa Tengah)

Rizki Dwi Rahmawan, 26 tahun, pria kelahiran Banyumas ini jeli menghubungkan permintaan pasar dengan potensi suplai di Desa Kemawi, desa tempatnya tinggal, yang ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar satu jam dari Purwokerto, Jawa Tengah di punggung bukit dengan ketinggian sekitar 400 meter dari permukaan laut (dpl). Ribuan pohon kelapa yang tersebar diantara berbagai jenis pohon lain di kebun warga menghasilkan nira berlimpah.

Ia mampu membuat perubahan di kelompok-kelompok petani penderes, selain perubahan cara mengolah nira, peran kelompok menjadi lebih kuat sehingga memiliki daya tawar tinggi. Saat ini, terdapat sekitar 250 petani yang menjadi mitra pemasok gula kristal baik bentuk kemasan maupun curah yang mampu diberdayakannya.

Mimpi kedepannya, industri gula kristal bisa dikerjakan dari hulu ke hilir di wilayah sendiri. Kalaupun nanti ada mesin tetap akan dilakukan menggunakan tenaga lokal. Industri ini pun bisa dijadikan obyek wisata tematis dimana pengunjung dapat belajar proses produksi gula tradisional dan proses mekanisasi. “Sudah saatnya gula jawa naik kelas bersaing dengan produk komersil,” ujar Rizki.  



“Sahabat Lansia Luak Bega”
Hardinisa Syamitri
(Talang Anau, Sumatera Barat)

Hardinisa Syamitri, 29 tahun, tenaga kesehatan pertama setelah tiga tahun Jorong Luak Bega, Talang Anau, Kecamatan Gunung Omeh, Sumatera Barat, tidak memilikinya. Disana ia ditugaskan sebagai bidan. Tantangan yang menghadang bukan hanya karena tempat yang sulit dijangkau, tapi juga menghadapi ketidakpercayaan masyarakat terhadap kemampuannya.

Tapi, Icha, sapaan akrabnya, tahu bahwa hal tersebut merupakan tantangan untuk mengubah pola pikir masyarakat. Ia pun merangkul dukun beranak di desa itu. Perlahan, masyarakat menyadari bahwa Icha memiliki keahlian untuk membantu persalinan. Ada suatu peristiwa, bayi yang lahir tidak dapat menangis. Saat dukun tidak mampu berbuat apa-apa, Icha bisa mengatasi hal itu. "Sejak itu, masyarakat percaya kepada saya,  kepada tenaga kesehatan," ujarnya. Untuk menyebarkan informasi kesehatan, Icha berbaur dengan masyarakat tempatnya bertugas. Sambil berbincang di masjid, tempat pemandian, atau warung, ia menyelipkan pesan-pesan kesehatan kepada mereka.

Di Nagari Talang Anau yang sebagian wilayahnya terletak di perbukitan batu itu, Icha membentuk perkumpulan orang lanjut usia (lansia) atau para jompo yang diberi nama Sehat Rohani Jasmani (Seroja). Perkumpulan tersebut ia buat dengan tujuan antara lain mencegah penyakit degeneratif yang menimpa lansia seperti stroke dan hipertensi. Ia mendorong lansia agar rajin memeriksakan kesehatan mereka secara berkala. Sekitar 120 orang lansia aktif mengikuti kegiatan yang dipusatkan di Talang Anau dengan jumlah sekitar 200 orang.  



“Pahlawan Anti-Nyamuk”
Andy Suryansah
(Krembangan, Surabaya)

Andy Suryansah, 23 tahun, tinggal bersama orangtuanya di Kampung Dupak Rukun, Kelurahan Dupak, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya. Anak kedua dari empat bersaudara ini sudah berhasil menamatkan pendidikannya di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya jurusan Teknik Komputer. Banyaknya warga yang terserang demam berdarah di kampungnya itu mencetuskannya membuat alat anti-nyamuk.

Sebelum menciptakan produk yang diinginkan, Andy mengumpulkan dulu beberapa elemen yang akan digunakannya, seperti lampu dan kawat kasa. Bahkan perilaku dan karakter nyamuk pun ditelitinya. Sasaran tembak alat yang dibuat Andy adalah nyamuk betina. Sebab, nyamuk betinalah yang menjadi sumber berkembangbiaknya nyamuk secara cepat. Ia mempelajari karakter nyamuk jantan melalui sejumlah literatur.

Akhirnya, ditemukanlah suara khas nyamuk jantan yang membuat nyamuk betina mendekat. Suara nyamuk jantan inilah yang kemudian ditiru Andy. Produk yang diciptakannya itu dinamai Falle, dengan memadukan dua teknologi, yaitu teknologi ultraviolet (UV) dan audiosonik. Secara fisik Falle terdiri atas rangkaian sumber daya listrik, pembangkit frekuensi audiosonik, rangkaian penyengat, serta lampu UV yang dilengkapi casing kawat kasa dua lapis.

Semua rangkaian tersebut mulai bekerja saat Falle dinyalakan. Pembangkit frekuensi audiosonik akan memancarkan gelombang dengan frekuensi tertentu, sehingga menarik perhatian nyamuk untuk mendatangi sumber gelombang. Lampu UV akan memancarkan sinar UV yang disukai serangga termasuk nyamuk. Ketika nyamuk mendatangi Falle dan hinggap pada kasa, maka rangkaian penyengat akan bekerja membasmi nyamuk dengan tegangan tinggi.

“Salah satu keunggulan produk saya ini murni tanpa bahan campuran kimia, sehingga saat dinyalakan tidak akan meninggalkan residu bahan kimia sebagaimana produk lain,” ujar Andy.  








Video Kegiatan Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards

2013                     2012
2011                     2010
Share