.

A’ak Abdullah Al-kudus, 34
Laskar Hijau Lumajang

Laskar Hijau adalah A’ak Abdullah Al-kudus. Pria kelahiran 12 Oktober 1974 inilah yang membidani organisasi kerelawanan untuk merawat dan kembali menghijaukan hutan di Gunung Lemongan.
Gunung Lemongan terletak di Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Tak kurang dari 6000 hektare areal hutan lindung di sini yang kondisinya kritis, gering dan kerontang. Debit sumber mata air di sembilan danau menurun, yang antara lain memicu longsor dan banjir bandang di Jember pada 2006.
A’ak tidak mau berpangku tangan menyaksikan Gunung Lemongan kritis. Dia mengumpulkan puluhan anak muda, mengajak mereka menanam pohon, dan merawat lingkungan. “Laskar Hijau” namanya, penyelamatan lingkungan misinya.
Kini, empat tahun berselang, penghijauan ala Laskar Hijau sudah berbuah. Sedikitnya 400 hektare hutan di Gunung Lemongan sudah hijau. Ranu Klakah, danau terpenting di kawasan itu, kembali dipadati air. Masyarakat sekitar turut aktif menjaga lingkungan, terutama karena Pak Guru A’ak rajin berdakwah dari kampung ke kampung, membawa petuah menjaga lingkungan adalah amalan penting.
A’ak adalah sosok dengan 1001 aktivitas. Dunia seni digelutinya, terutama seni rupa, sastra, dan teater. Dia pernah berguru kepada sejumlah seniman hebat, sepertipelukis Uki Sukisman di Pasar Seni Ancol, Jakarta, WS. Rendra (almarhum), penyair sufistik Dik Munthalib, 75 tahun, serta cerpenis nyentrik Julius Siyaranamual (almarhum).
Pernah juga bergabung dalam Jaringan Relawan Kemanusiaan pimpinan Romo Sandyawan Sumardi untuk penanganan banjir bandang di Panti, Jember. Hingga kini dia masih memimpin simpul Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat untuk Tapal Kuda dan anggota Majelis Luhur pada Perguruan Rakyat Merdeka.
Lahir di Desa Mlawang, Kecamatan Klakah. Ayahnya K. Mohammad Syafrawi adalah guru mengaji dan bunya, Hj. Siti Naf’ah, berdagang di Pasar Klakah. Keduanya, kini almarhum, asli Madura. Sejak ibundanya meninggal pada 2008, A’ak pulang kampung. Tapi sejak kecil, dia sudah merantau.
Risa Fitria, penulis, dinikahinya pada akhir 1998 dan dikaruniai tiga anak, yaitu Saka Laskar Mohammad, 10 tahun, Divine Zidny Khirsyk (7), dan Soka Taqdis Adekeisya (3). Ketiganya juga tak mau bersekolah formal. A’ak tinggal di sebuah rumah kecil di Jalan Linduboyo Nomor 139, Klakah, yang sekaligus tempat berkumpul kawula muda setempat.
Amilia Agustin, 14
Ratu Sampah Sekolah

Amilia Agustin membuktikan, merawat pada lingkungan adalah monopoli orang dewasa. “Semua bisa asalkan kreatif dan konsisten,” kata gadis 14 tahun ini. Berawal dari kegelisahannya melihat onggokan sampah di lingkungan sekolahnya, Amilia Agustin terdorong membentuk komunitas yang mengelola sampah berbasis sekolah lewat program “Go to Zero Waste School.”
Ami, begitu nama panggila Amilia, siswi Kelas IX SMP Negeri 11 Bandung, Jawa Barat, tinggal di Jalan Kopo Citarip Barat Nomor 103 RT 02/07. Dia aktif di berbagai kegiatan, antara lain Kelompok Ilmiah Remaja, Matematika Club, Komunitas Sahabat Kota, Balda Kuring, Kebunku, serta Archipelago. Anak tertua pasangan Agus Kuswara dan Elly Maryana Dewi ini juga aktif mengkampanyekan pengelolaan sampah kepada warga sekolah dan masyarakat di sekitarnya.
Bermula dari obrolan dengan teman-temannya pada 2008, gadis kelahiran 20 April 1996 ini mengajukan proposal program Karya Ilmiah Remaja “Go To Zero Waste School” kepada Program Young Changemakers dari Ashoka Indonesia. Program itu diinisiasi pada 2005 untuk membuka peluang bagi kaum muda usia 12-25 tahun mempraktekan prinsip-prinsip sosial entrepreneurship. Tujuannya, menciptakan pemimpin di masa datang yang mampu membuat perubahan.
Proposal proyek “Go To Zero Waste School” dengan biaya operasional Rp 2,5 juta akhirnya disetujui. Proyek pengelolaan sampah ini terbagi dalam empat bidang, yaitu untuk sampah an-organic, organic, tetrapak, dan kertas.
Ami menerapkan metode “From Trash To Trashion”. Limbah plastik diubah menjadi produk tas. Limbah kain perca, diambil dari berbagai perusahaan konveksi di Bandung, disulap menjadi tas yang layak dijual. Sampah organik diolah dengan metode kompos. Untuk mengatasi sampah tetrapak (seperti kemasan susu), dia bekerjasama dengan Yayasan Kontak Indonesia (YKI) yang menukarnya dengan buku catatan olahan dari sampah tetrapak.
Ami juga menggandeng Greeneration Indonesia dalam program KEBUNKU (Kertas Bekasku Hijaukan Bangsaku). Kertas bekas dijadikan agenda, notes, komik, kerajinan, juga recycle paper.
Alhasil, SMP Negeri 11 yang dulu terkenal kotor sekarang menjadi ikon sekolah sehat di Bandung. Ibu-ibu rumah tangga tetangga sekolah mendapat tambahan penghasilan dari hasil penjualan tas limbah kain. “Program Ami benar-benar bermanfaat,” ujar Tati Sulastri, 55 tahun, tetangga SMP 11. Ami pun didaulat menjadi Duta Pelatihan Pengelolaan Sampah. Empat sekolah di Bandung kini menjadi binaannya: SMP Alfacentaury, SMP Negeri 48, SMP Negeri 40, dan SMP Negeri 50.
Muhammad Farid, 34
Sayur untuk Sekolah

Usianya masih muda, 34 tahun. Tapi pada 2005 dia mampu mendirikan SD dan SMP Alam di bawah Yayasan Banyuwangi Islamic School di lahan seluas 3.000 meter persegi. Ada 70 siswa belajar di sana. Muhammad Farid, pria itu, menjabat Kepada Sekolah SMP Alam. Pengelolaan SD, dia serahkan pada sahabatnya, Suyanto Khoiru Ichwan.
Sekolahnya unik. Tak ada ruang kelas dan bangku. Farid hanya membangun aula, sebuah musala, sebuah langgar alias musala kecil, serta satu sanggar. Sisanya saung-saung kayu sederhana. Para siswa bebas belajar di mana saja. Seragamnya hanya satu stel untuk Senin dan Selasa. Selebihnya pakaian bebas. Siswa tak harus memakai sepatu, kalau memang tak punya. Mayoritas para murid dari keluarga kurang mampu sehingga mereka boleh membayar sekolah dengan sayur-mayur. Kalau memang terpaksa boleh sekolah gratis.
Soal kualitas boleh diadu. Dengan kurikulum gabungan modern dan pondok pesantren salafiyah, para siswa bisa menguasai Bahasa Arab dan menghapal Al-Qur’an, Bahasa Inggris, Jepang, serta Mandarin. Inggris menjadi bahasa pengantar di sekolah. Sepekan sekali mereka melakukan kegiatan out-bound di halaman sekolah. “Untuk membangun karakter kepemimpinan,” kata Farid.
Farid mendirikan sekolah dengan kurikulum kreatif karena suntuk dengan metode-metode usang di sekolah-sekolah umum. Dia jenuh dengan manajemen sekolah yang mahal dan kaku. Dia pernah menjadi guru agama di Madrasah Ibtidaiyah Jenesari (2001), SMP Merdeka (2002), SMP 2 Kalibaru (2003), dan SMP Unggulan (2004).
Bukan perkara mudah mendirikan sekolah berkualitas untuk anak-anak kurang mampu. Dari pintu ke pintu Farid dan Suyanto mencari murid dan dana. Syukurlah, seorang donatur menyumbangkan 3.000 meter persegi tanahnya untuk sekolah di belakang perumahan Villa Alam Asri, Dusun Jenesari, Desa Genteng Kulon, Banyuwangi, Jawa Timur.
Farid tak surut langkah meskipun izin pendirian sekolah sangat lambat turun. “Gara-gara konsep pendidikan kami dinilai aneh,” katanya. Sarjana Hukum Hukum Islam dari Sekolah Tinggi Agama Islam Ibrahimy Sukorejo, Situbondo ini tinggal di Desa Janesari.
Bagi kawan-kawan dekatnya, Farid unggul dalam konsep tapi lemah dalam implementasi. Gagasan brilian selalu pupus karena pelaksanaannya mentah. Itu sebabnya, kehadiran Suyanto, sang sahabt, sangat penting menambal kekurangan Farid. Dua karib itu saling melengkapi dan memberi warna bagi sekolah alam Islamic School, Banyuwangi.
Sri Irdayati, 25
Mencetak Miliuner Baru

Film kartun Richie Rich adalah sumber inspirasi Sri Irdayati, 25 tahun. Bocah kartun kaya raya putra miliuner Amerika Serikat itulah yang membuat Irda terobsesi mencetak wirausahawan sejak dini. “Dunia usaha dan manajemen perlu diajarkan meski kepada siswa sekolah dasar,” kata Irda.
Tak perlu persiapan yang heboh untuk memulai pelatihan. Irda yang lulusan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, ini membuka kelas bisnis di Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Lokasinya di rumah kontrakan yang disewa oleh suaminya, Dedi Purwanto, yang juga pengajar kursus Bahasa Inggris. “Kelas saya gratis,” ujar Irda, kelahiran Pemangkat, Kalimantan Barat, pada 6 Juli 1985.
Di kelas itu, tujuh anak berusia 6-12 tahun berlatih menyiapkan sebuah usaha manik-manik berikut membuat neraca keuangan. Sambil menghitung, tangan mereka merangkai manik-manik menjadi gelang dan kalung. Irda mengusulkan strategi baru dan meminta mereka berbelanja. Setiap peserta, juga Irda, menggunakan predikat ”bos”, bakal orang sukses.
Bocah-bocah itu pun belajar bisnis dengan riang. Bos Aditya, 9 tahun, setengah berteriak, bertanya kepada timnya, “Cutter buat apa? Kalau nggak ada pentingnya kenapa dibeli?”
Sebelum diboyong suaminya di Kelapa Gading, pada awal 2010 pelajaran bisnis untuk pemula sudah diajarkannya untuk anak-anak di daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Kegiatan ini dirancang dengan matang sejak tiga tahun lalu melalui program ciptaannya, Bizz4Kids dan Bizz4teens, bersama tiga rekannya di kampus. Dasar pemikirannya, anak-anak perlu dilatih ketahanan mental dan kreativitasnya untuk bertahan hidup kelak. ”Suatu saat, ketika mereka menjadi profesional, semisal dokter atau insinyur, pasti kualitasnya di atas rata-rata,” kata Irda.
Program BizzKid ini sudah diterapkan di sekitar 40 sekolah (SD, SMP, SMA, dan SMK) di Semarang. Pada akhir 2008, Irda mengusung program ini di sekolah-sekolah elite di Jakarta dan sekitarnya.
Berbekal juara I Inovative Entrepreneurship Challenge yang diselenggarakan Institut Teknologi Bandung pada 2007, Irda dan rekannya semangat mengkampanyekan pelajaran bisnis untuk siswa. Berhasil di Semarang, Irda dipercaya mengambu ekstrakurikuler pelajaran bisnis di sekolah-sekolah elite di Jakarta. Dana dari honor mengajar disumbangkan kepada sekolah-sekolah anak tak mampu di Semarang dan komunitas binaan di Jakarta. Total, kini sudah 217 siswa alumni Bizz4Kids dan Bizz4teens.
Mansetus Kalimantan Balawala
Sepeda Motor untuk Bidan Desa

Dia lahir pada 5 Januari 1976 di Lewoleba, Kabupaten Lembata. Ayahnya petani ladang dan ibunya hanya mengurus rumah tangga. Dia tinggal di Kota Sau I, Kelurahan Sarotari, Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
Hidup bersama isri, Yosefina Oeng, dan anaknya Maria Floresti Ata Balawala. Rumahnya adalah juga kantor Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS), yang didirikan Mansetus, pada 2002.
Apa uniknya dia?
Mansetus Kalimantan Balawala, biasa disapa Mans, peduli pada masalah kesehatan di daerah terpencil. Mans mengumpulkan anak-anak muda, mengajak mereka untuk bersepeda motor membawa para bidan desa dan paramedis, agar lincah melayani warga di wilayah sulit.
Dia tak memiliki latar belakang pendidikan kesehatan. Orang tuanya, Sipriaus Gesi dan Fransiska Letek, menyekolahkan Mans di SD Holoriang lalu SMP Negeri Holoriang, Lembata, dan SMA Kawula Karya, Lembata. Mans kuliah di Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, hingga lulus pada 1998. Mans lalu menjadi wartawan di media lokal.
Semua bermula dari sebuah Focus Group Discussion (FGD) tentang kondisi kesehatan ibu dan anak bersama Petugas Kesehatan dan Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana se-Kabupaten Flores Timur pada Juli 2002. Terungkap bahwa banyak ibu dan bayi meninggal karena terlambat dirujuk ke pusat-pusat pelayanan kesehatan gara-gara petugas telat datang menolong. Begitu minim sarana transportasi. "Kondisi ini terjadi di hampir semua wilayah di NTT," katanya.
Lalu, muncul ide mengembangkan Program Manajemen Sarana Transportasi dengan sistem kerusakan minimum untuk pelayanan kesehatan di pedesaan. Mans mendirikan YKS dan mencari pendonor lewat internet. Ternyata Riders for Health (RfH) UK telah mengembangkan program serupa di beberapa negara di Afrika. Pencari dana RfH, Simon Millward dari Millennium Rider, memuluskan rencana Mans. Sepanjang 2002-2005 YKS mendapat dana Rp 100 juta.
Berbekal dana itu, Mans membeli 13 sepeda motor merek YT 115 cc untuk pada bidan desa dan petugas kesehatan di lima kecamatan di Flores Timur. Untuk merawat sepeda motor tiap perjalanan 2000 kilometer, disediakan sebuah bengkel. "Agar selalu siap beraksi dalam kondisi darurat,” katanya.
Kini, operasional YKS kemudian didukung Motorcycle Outreach dengan Rp 80 juta per tahun. Sebuah angka yang minim untuk membiayai tim dengan 13 sepeda motor. Tapi Mans gembira karena bisa membahagiakan masyarakat kecil. “Senyum mereka adalah kebahagian kami," ujarnya.