. SATU Indonesia | <h2>“Pahlawan Anti-Nyamuk”<br><br>Andy Suryansah</h2>
Saatnya membangun kembali semangat
kebangsaan dan persatuan kita demi
kemajuan Indonesia

“Pahlawan Anti-Nyamuk”

Andy Suryansah


Dukung Finalis

(Krembangan, Surabaya)

Secara umum, hampir seluruh kampung di Kota Surabaya rawan terjadi endemik nyamuk Aedes Aegypti, pembawa penyakit demam berdarah. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah setempat dalam membasmi nyamuk. Namun toh, nyamuk terus berkembang biak secara cepat.

Salah satu wilayah yang tak luput dari serangan nyamuk adalah Kampung Dupak Rukun, kelurahan Dupak, kecamatan Krembangan, Kota Surabaya. Kampung ini merupakan kawasan perdagangan yang cukup ramai dan padat penduduk. Lingkungan sekitar kampung tersebut kurang sehat. Rumah-rumah dibangun secara rapat dan jarang ada tanaman perindang.

Kampung ini berbatasan langsung dengan Sungai Kalimas, di mana banyak kapal pedagang yang bersandar di sungai tersebut. Bila musim kemarau tiba, banyak sekali nyamuk. Akibatnya, di kawasan itu seringkali berjangkit penyakit demam berdarah, malaria, filariasis dan chikungunya.

Di sanalah Andy Suryansah, 23 tahun, tinggal bersama orangtuanya. Anak kedua dari empat bersaudara ini sudah berhasil menamatkan pendidikannya di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya jurusan Teknik Komputer. “Waktu saya menciptakan alat ini tahun 2011, di kampung saya banyak yang terserang penyakit demam berdarah, terutama anak-anak kecil,” ungkap Andy.

Prihatin akan keadaan lingkungan sekitar rumahnya itulah, Andy ingin menciptakan suatu alat pembasmi nyamuk yang bisa memutus rantai kehidupan nyamuk. “Karena alat-alat yang ada di pasaran saat itu rata-rata hanya berfungsi untuk mengusir nyamuk,” katanya.

Tentu, Andy tak ingin meniru produk yang sudah ada. Ia berusaha melalukan inovasi dengan cara mengombinasikannya menjadi sebuah produk yang berbeda dan mempunyai beberapa keunggulan dibanding produk sejenis. Kelemahan dari produk pembasmi nyamuk yang sudah ada pun dia cari. Hasilnya, produk lain tidak ramah lingkungan, tidak hemat energi dan tidak sehat karena cenderung meninggalkan residu kimia serta kurang efektif membasmi nyamuk.

Sebelum menciptakan produk yang diinginkan, Andy mengumpulkan dulu beberapa elemen yang akan digunakannya, seperti lampu dan kawat kasa. Bahkan perilaku dan karakter nyamuk pun ditelitinya.

Sasaran tembak alat yang dibuat Andy adalah nyamuk betina. Sebab, nyamuk betinalah yang menjadi sumber berkembangbiaknya nyamuk secara cepat. Nyamuk betina ini akan selalu mencari nyamuk jantan jika ingin kawin. Karena itu, Andy mempelajari karakter nyamuk jantan melalui sejumlah literatur.

Akhirnya, ditemukanlah suara khas nyamuk jantan yang membuat nyamuk betina mendekat. Suara nyamuk jantan inilah yang kemudian ditiru oleh Andy. “Maka saya menciptakan suara yang mirip seperti suara nyamuk jantan agar nyamuk betina mau mendekat,” ungkapnya.

Elemen lain yang harus ada adalah suhu udara yang disukai nyamuk. Dalam literatur yang dipelajari Andy, ternyata nyamuk memiliki ciri khusus, yaitu menyukai cahaya, panas, serta kelembaban yang relatif. Berdasarkan ciri tersebut, panas dan cahaya bisa dihasilkan oleh lampu.

Di sisi lain, lampu merupakan alat penerangan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Namun, lampu ternyata memiliki berbagai kelemahan dan berbahaya bagi lingkungan. Lampu neon dan bohlam mengeluarkan zat karbondioksida (CO2). Selain itu, lampu juga memancarkan ultraviolet. Daya listrik yang dikonversi lampu bohlam (pijar) hanya 10%, sedangkan sisanya terbuang menjadi energi panas.

Faktor-faktor itulah yang mendasari pemikiran Andy dalam menciptakan produk pembasmi nyamuk yang aman, nyaman, ramah lingkungan dan bisa menghemat energi. Dan yang terpenting, produk tersebut efektif membasmi nyamuk. Uniknya, jika produk sejenis seperti raket nyamuk tidak mampu mengundang nyamuk mendekat, maka produk yang diciptakan Andy ini membuat nyamuk betina mendekat lantas tersengat listrik. Produk yang diciptakannya itu dinamai Falle.

Falle memadukan dua teknologi, yaitu teknologi UV dan audiosonik. Secara fisik Falle terdiri atas rangkaian sumber daya listrik,pembangkit frekuensi audiosonik, rangkaian penyengat, lampu UV dilengkapi casing kawat kasa dua lapis.

Semua rangkaian tersebut mulai bekerja saat Falle dinyalakan. Pembangkit frekuensi audiosonik akan memancarkan gelombang dengan frekuensi tertentu, sehingga menarik perhatian nyamuk untuk mendatangi sumber gelombang. Lampu UV akan memancarkan sinar UV yang disukai serangga termasuk nyamuk. Ketika nyamuk mendatangi Falle dan hinggap pada kasa, maka rangkaian penyengat akan bekerja membasmi nyamuk dengan tegangan tinggi.

Manfaat lain sinar UV ini adalah mampu membunuh kuman tuberkulosis (TB), sehingga udara sekitar menjadi lebih sehat. Cahaya remang-remang dari sinar UV sangat cocok sebagai lampu tidur. “Salah satu keunggulan produk saya ini murni tanpa bahan campuran kimia, sehingga saat dinyalakan tidak akan meninggalkan residu bahan kimia sebagaimana produk lain,” ujar Andy.

Menurut Andy, biaya penelitian yang dilakukan untuk menciptakan alat tersebut mencapai kurang lebih Rp 30 juta. Sedangkan biaya memproduksinya mencapai hampir Rp 19 juta. “Tetapi saya mendapatkan bantuan dana dari Ditjen Dikti sebesar Rp 9 juta dan Kementerian Koperasi dan UKM sebesar Rp 15 juta,” ungkapnya.

Andy dalam keluarga dikenal pantang menyerah. Ia juga sering melakukan berbagai inovasi di bidang teknologi. Sebelum membuat Falle, Andy juga berhasil membuat mesin pengering pakaian, mesin pemisah cabe, mixer untuk industri makanan yang murah, filler dan sebagainya.

Untuk berbagai inovasi yang dilakukannya itu, Andy menggunakan ruangan di rumah orangtuanya sendiri. Ny. Hj. Siti Maimunah, ibunda Andy, mengaku tidak keberatan dengan aktivitas anaknya. “Kegiatan Andy itu kan positif. Menurut saya ya ndak papa. Harapan saya, semoga dia lebih sukses, lebih maju,” katanya.

Siti Maimunah sendiri mendukung kegiatan anaknya itu. Sebab, kegiatan Andy positif di matanya, meskipun rumah jadi berantakan. “Dulu dia juga membuat lemari setrika dan lain-lain. Kalau yang sekarang ini kan bikin alat untuk basmi nyamuk. Sudah ada yang laku juga. Pembelinya dari Kalimantan dan luar pulau. Orang-orang di daerah sini juga ada yang mau beli,” katanya.

Produk Falle sendiri sudah laku karena mempunyai banyak keunggulan. Selain satu-satunya yang ada di pasar, Falle juga artistik sehingga menambah cantik interior ruangan tidur.
Produknya sudah dipasarkan secara online, sehingga menjangkau lintas pulau di Indonesia. Tetangga sekitar Andy juga sudah ada beberapa yang membeli produk Falle seharga Rp250.000. “Bahkan ada beberapa yang sudah mengajukan menjadi reseller. Toko-toko elektrik langganan saya juga mau menjualkan produk saya ini,” ujar Andy.

Dalam memproduksi Falle ini, Andy juga bekerjasama dengan UKM setempat di bidang meubel, khususnya dalam pembuatan casing. Sedangkan tenaga kerja yang membantu proses lainnya adalah Andre Setiawan (19) lulusan SMK Pelayaran.

Selain itu, Andy juga dibantu adiknya sendiri, Muhamad Thoyib (20). “Saya senang bantu kakak saya. Lumayan dapat uang jajan, dari pada nganggur. Apalagi produknya bagus, saya senang. Kalau malam bagus sekali, loh,” ujar Thoyib.






Video Kegiatan Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards

2013                     2012
2011                     2010
Share