. SATU Indonesia | <h2>“Penyalur Air Tanah Kapur”<br><br>Joko Sulistyo</h2>
Saatnya membangun kembali semangat
kebangsaan dan persatuan kita demi
kemajuan Indonesia

“Penyalur Air Tanah Kapur”

Joko Sulistyo


Dukung Finalis

(Wonogiri, Jawa Tengah)

Air itu sumber kehidupan, namun tak semua tempat berlimpah air. Tanah kapur dan batu karst membuat air tak pernah berlama-lama di permukaan. Langsung merembes dan pergi. Pulau Jawa bagian selatan, sebut saja Pacitan, Wonogiri, sampai Gunung Kidul selalu dirundung kekeringan. Ribuan penduduk di daerah Wonogiri dan Gunung Kidul setiap puncak musim kering harus membeli air dari Kota Jogjakarta untuk keperluan minum. Mandi saja belum tentu sehari sekali. Kondisi ini dirasakan betul oleh 544 Kepala Keluarga atau 2.350 jiwa di Desa Pucung, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah.

Desa Pucung hanya memiliki satu sumber mata air. Itupun tidak begitu besar debit airnya. Tidak heran, banyak penduduk yang harus mencari sumber-sumber alternatif yang jauh dari desa. Antri dan berebutan untuk mendapatkannya. Itupun harus berjalan beberapa kilometer untuk mengambil 10-20 liter air.

Tahun 2001, Joko Sulistyo, salah satu anggota pecinta alam KMP Giri Bahama, Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Solo melakukan jelajah gua di Kecamatan Eromoko. “Ada 13 gua, dan saat saya masuk di Gua Suruh saya menemukan sungai di dalamnya. Satu-satunya gua yang ada airnya,” kata Joko.

Joko merasa, kalau air yang di sungai ini bisa diangkat ke atas, bisa menjadi sumber mata air tambahan untuk masyarakat setempat. Bagaimana caranya? Itulah yang perlu waktu menemukannya. Tidak hanya itu, langkah pertama bagaimanakah menginformasikan hal ini pada penduduk, sementara penduduk setempat tidak ada satupun yang berani masuk Gua Suruh.

Gua Suruh ini panjangnya mulai dari mulut gua sampai ke sungai di bawah tanah sekitar 300 meter. Sekitar 30 meter dari mulut gua, penyusur bertemu dengan lobang pertama yang cukup dimasuki tiga orang. Lobang ini jadi pintu. Lalu bertemu dengan lorong yang tinggi vertikalnya 17 meter. Selanjutnya landai, kemudian dijumpai lorong yang tinggi vertikalnya sekitar 11 meter, lalu setelah itu ada sungai. “Baru Joko saja yang masuk Gua Suruh ini sebelumnya. Warga tidak ada yang berani,” kata Ashari, Kepala Desa Pucung, Eromoko.

Proses sosialisasi meluas, setelah Ashari sendiri turut masuk gua dan membuktikan sendiri keberadaan sungai itu. Lewat film dan foto, keberadaan sungai bisa diberitakan dan dipaparkan. Warga akhirnya mau gotong royong bergerak bersama-sama mewujudkan rencana pengambilan air dari Gua Suruh.

Warga mulai terlibat penuh di tahun 2008. Berbagai pertemuan dan rapat desa dilakukan untuk merencanakan tentang pendanaan dan pelaksanaan proyek bersama itu. “Warga antusias karena ini menjawab kebutuhan mereka. Wong di suruh keluar duit untuk membeli air saja mau, apalagi ini keluar tenaga,” kata Ashari.

Kerja kompak terjadi. Warga menyumbang tenaga, perangkat desa mengusahakan dana dari APBD, Joko dan teman-teman Giri Bahama menyumbangkan keahlian, pemikiran dan waktu untuk mewujudkan proyek itu, dan donatur-donatur yang bisa dihimpun.

“Kami melatih warga untuk masuk gua. Giri Bahama meminjamkan perangkat lengkap untuk caving. Kita juga mengajak orang yang berkompeten untuk meriset secara akurat soal debit air dan kualitas air. Hasilnya, debit terendah dua meter kubik dan tertinggi 16 meter kubik. Kualitas air masih tinggi kesadahannya tetapi layak. Akhirnya diputuskan, air layak diangkat ke atas,” kata Joko.

Langkahnya adalah membendung sungai di bawah tanah. Pada 2012, proses pembendungan itu dimulai. Perlu enam bulan untuk proyek ini. “Kami harus menurunkan material paling tidak 15 ton ke dalam gua untuk membuat bendungan. Banyak simulasi kami lakukan di atas dulu, baru kemudian diterapkan di bawah. Material seperti pasir, semen, batu dipak kecil-kecil supaya bisa muat masuk mulut gua,” katanya. Kesulitan terbesar memang kondisi alam. Para pekerja pernah dua hari dua malam berada di perut gua untuk menyelesaikan bendungan. Bendungan di atur supaya tidak semua air berhenti di bendungan. “Kami tetap menjaga biota dan kehidupan yang sudah ada di gua tidak terganggu,” kata Joko.

Hasil jerih payah selama enam bulan terbayar. Air bisa didorong ke atas, bahkan sampai ke tower air yang ditaruh di atas bukit. Air sudah mengalir ke Desa Pucung. Hasilnya masyarakat bisa mengambil air di bak-bak penampungan di sekitar desa kapan saja.

“Rencana selanjutnya adalah mengusahakan warga untuk berpartisipasi dalam pembiyaan dan perawatan. Kami sudah mendapatkan bantuan peralatan untuk masuk goa. Nanti akan ada pelatihan untuk masuk dan merawat pompa yang di dalam. Rencana lain, mengalirkan air langsung ke rumah warga,” kata Yadi, Ketua OMS, salah satu paguyuban pengelola bantuan di Desa Pucung.

Pengangkatan Air Baku Gua Suruh memang salah satu kerja besar. Keberhasilan ini karena masyarakat tergerak dan bahu membahu. Pekerjaan memang tidak akan tuntas. Paling tidak memikirkan perawatan daerah catchment area, kebutuhan listrik untuk pompa yang biayanya dua juta perbulan, dan perawatan seluruh peralatan. Berita pentingnya, langkah pertama yaitu air terangkat dan bisa dimanfaatkan telah berhasil dan sukses.






Video Kegiatan Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards

2013                     2012
2011                     2010
Share